Penulis

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 505 pengikut lainnya.

Foto terkini

Rekreasi ke Pantai Mutun 2012

Twitter

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Info Kontak

081379329912
Pagi: 07.00 - 12.00
Siang 13.00 - 17.00

Kalender

September 2014
M S S R K J S
« Okt    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Komunitas

Flickr Photos

the look that kills

Endless Summer

Airport Access Bridge

twilight time, August 2014

Dawn at Many Glacier Hotel

Your Mountain Is Waiting

35/52... Routine

Geometrie

Everything you can imagine is real

Douglas C47A "Union Jack Dak"

More Photos

Blog Stats

  • 54,020 hits

PENGUMUMAN KELULUSAN PLPG 2013 TAHAP 1 – 5 RAYON 107 UNIVERSITAS LAMPUNG

images3

UNTUK MENGETAHUI KELULUSAN DAN NILAI PLPG 2013 RAYON 107 UNIVERSITAS LAMPUNG BUKA LINK BERIKUT INI:

http://sertifikasi.fkip.unila.ac.id/

 

PENGUMUMAN

Nomor : 888/PSG/R107/20013

Bersama ini kami sampaikan hasil Kegiatan PLPG Tahap I s.d Tahap V, peserta yang dinyatakan Lulus PLPG melengkapai persyaratan :

1.      A1 yang diisi biodata lengkap di tanda tangani kepala dinas sebanyak 1 lembar

2.      Foto Copy Ijazah yang telah dilegalisir : 1 lembar

3.      Pas Foto Ukuran 3×4 berwarna              : 2 lembar (latar belakang warna biru, belakang foto ditulis nama dan no peserta PLPG)

4.      Form Pernyataan Identitas Diri (Nama, Tempat Tanggal Lahir Wajib sesuai Ijazah) bermaterai Rp. 6000. Form dapat di download di website

5.      Berkas dimasukkan dalam map plastik Business File (dibagian depan tulis nama,no peserta PLPG, no hp)

6.      Berkas dikumpul secara kolektif per Kecamatan, paling lambat tanggal 9 November 2013 Pukul 12.00 WIB, sudah dikumpulkan di Sekretariat PLPG Depan Gedung A FKIP Universitas Lampung.

Peserta PLPG Tahap I s.d Tahap V yang dinyatakan belum lulus, diberi kesempatan mengulang ujian ulang sebanyak 2 kali.

Ujian Ulang I PLPG 2013 untuk peserta Tahap Is.d Tahap V akan dilaksanakan pada hari Selasa, pada tanggal 29 Oktober 2013 bertempat Gedung Serba Guna (GSG) Universitas Lampung

 Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:http://psg15.um.ac.id/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif

  1. Ujian Ulang I Peserta PLPG Rayon 107 Universitas Lampung Tahap I – Tahap V dilaksanakan pukul : 08.00 WIB (peserta datang terlambat lebih dari 15 menit tidak boleh mengikuti ujian).
  2. Peserta Ujian Ulang Wajib hadir 30 menit sebelum ujian dimulai.
  3. Ujian Tulis Nasional (UTN) dimulai pukul 08.00 WIB dan berakhir pukul 10.00 WIB.
  4. Ujian Tulis Lokal (UTL) dimulai pukul 10.30 WIB dan berakhir pukul 11.50 WIB.
  5. Peserta Ujian Ulang wajib membawa peralatan tulis : Pensil 2B (Special for Computer),Alat Pembulat Lembar Jawaban Komputer (LJK),Rautan,Ballpoint, Papan alas.
  6. Peserta Ujian Ulang yang mengulang Ujian Praktik wajib membawa : Perangkat Pembelajaran.
  7. Bila berhalangan hadir, harap mengirimkan surat pemberitahuan.

Demikian, atas perhatiannya disampaikan terima kasih.

                                                                        Dekan FKIP Universitas Lampung,

Selaku Ketua Pelaksana Rayon 107

Penyelenggara Sertifikasi Guru dalam Jabatan

                                                                        Dto,

                                                                        Dr. Hi. Bujang Rahman, M.Si.

                                                                        NIP 19600315 198503 1 003

Tembusan Yth:

1.    Rektor Universitas Lampung

2.    Kepala LPMP Provinsi Lampung

3.    Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Lampung.

PENGUMUMAN HASIL KELULUSAN PLPG KEMENAG 2012 RAYON IAIN RADEN INTAN LAMPUNG

PENGUMUMAN HASIL KELULUSAN PLPG KEMENAG 2012 RAYON IAIN RADEN INTAN LAMPUNG DAPAT DIUNDUH DI BAWAH INI:

PENGUMUMAN KELULUSAN PESERTA PLPG SUSULAN TAHUN 2012

PENGUMUMAN KELULUSAN PESERTA PLPG SUSULAN TAHUN 2012

UNTUK HASIL PLPG KEMENAG LAINNYA KLIK LINK BERIKUT:

http://fakultas-tarbiyah.com/home

 

 

 

SIMULASI SOAL UKA ONLINE 2013

Simulasi Soal Uji Kompetensi Guru (UKG) Online

DARI  http://ukgonline.com/soal/resmi.html

Mencoba Tampilan Biasa ¤ Beda versi Simulasi dan Tryout

 

Latest Post

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI TAHAP V (TES KESEHATAN LABORATORIUM) REKRUT EKSTERNAL UNTUK CUSTOMER SERVICE TINGKAT DIPLOMA III (D3) TAHUN 2012 DI LINGKUNGAN PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO)

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI TAHAP V (TES KESEHATAN LABORATORIUM) REKRUT EKSTERNAL UNTUK CUSTOMER SERVICE TINGKAT DIPLOMA III (D3) TAHUN 2012 DI LINGKUNGAN PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO)

Kembali
Diberitahukan pada peserta Rekrut Eksternal Untuk Customer Service Tingkat Diploma III (D3) Tahun 2012 Di Lingkungan PT. Kereta Api Indonesia (Persero),  yang dinyatakan Lulus sebagaimana daftar terlampir  di bawah ini.

 

Bagi peserta yang dinyatakan lulus supaya hadir pada :

Hari

Tanggal

Pukul

Acara

:

:

:

:

Jum`at

21 Desember 2012

07.00 s/d selesai

Pengarahan dan Tandatangan Kontrak Magang

Lokasi Tes : Auditorium Kantor Pusat PT. Kereta Api Indonesia (Persero).

Jl. Perintis Kemerdekaan No.1 Bandung.

Ketentuan : 1. Setiap peserta harap membawa KARTU PESERTA
2. Peserta wajib bersepatu dan berpakaian : kemeja putih. celana warna hitam/gelap.
3.

 

Peserta wajib membawa :

a.  Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Bukti Identitas lain yang masih berlaku.

b.  Asli Ijazah D3.

c.  Asli Transkrip Nilai.

d.  Surat Keterangan Bebas Narkoba

e.  Membawa  Materai Rp.6.000,00 2 (dua) buah.

 

 

NO NO REG NO TEST NAMA LENGKAP TEMPAT LAHIR TGL LAHIR
1 3233 2012.KP.CS.009 ANA ISWARI SLEMAN 05/04/1990
2 9120 2012.KP.CS.012 ANNISA YUANTRI BANDUNG 11/18/1988
3 122 2012.KP.CS.013 ARI ISMAYANTI CIANJUR 02/07/1990
4 484 2012.KP.CS.026 DAVIQ HUDA NUR HAKIM SEMARANG 08/11/1989
5 11885 2012.KP.CS.044 HERI KRISTIANTORO BEKASI 12/25/1987
6 2640 2012.KP.CS.052 KHARA PUTRA KUSMAHADI BANDUNG 11/19/1989
7 12998 2012.KP.CS.055 LUCYANA E U SIAHAAN TIGALINGGA 09/11/1989
8 11720 2012.KP.CS.064 MUKHODIMAH CIREBON 07/06/1989
9 6129 2012.KP.CS.066 NILA AMALIAH SEMARANG 11/22/1988
10 12828 2012.KP.CS.080 RIA SETYA RAHAYU GRESIK 10/25/1990
11 7424 2012.KP.CS.081 RIAN HABIBI KUNINGAN 05/03/1991
12 9456 2012.KP.CS.096 SHINTA GUNUNG MERAKSA BR 12/19/1988
Published on 14 Dec 2012

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI TAHAP III (TES PSIKOLOGI) REKRUT EKSTERNAL UNTUK POLSUSKA TINGKAT SLTA TAHUN 2012 DI LINGKUNGAN PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO)

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI TAHAP III (TES PSIKOLOGI) REKRUT EKSTERNAL UNTUK POLSUSKA TINGKAT SLTA TAHUN 2012 DI LINGKUNGAN PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO)

Kembali
 

Diberitahukan pada peserta Rekrut Eksternal Untuk Polsuska Tingkat SLTA Tahun 2012 Di Lingkungan PT. Kereta Api Indonesia (Persero),  yang dinyatakan Lulus dan mengikuti Seleksi Tahap IV (Tes Kesehatan Laboratorium) sebagaimana daftar terlampir  di bawah ini.

 

Pelaksanaan Tes Kes Laboratorium pada :

Hari

Tanggal

Pukul

Lokasi Tes

:

:

:

:

Jum`at

21 Desember 2012

07.00 WIB s/d selesai

Sesuai daftar terlampir

Ketentuan : 1. Setiap peserta harap membawa KARTU PESERTA.
2. Pada saat mengikuti seleksi tahap IV. peserta wajib bersepatu dan berpakaian : kemeja putih. celana warna hitam/gelap.
3. Membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Bukti Identitas lain yang masih berlaku.
4. Peserta diwajibkan berpuasa pada pukul 22.00 wib sampai dengan pemeriksaan kesehatan laboratorium (tidak boleh makan, mengkonsumsi obat-obatan dan minum, kecuali minum air putih).
Keterangan : Penetapan Kelulusan Seleksi Tahap IV (Tes Kesehatan Laboratorium) akan diumumkan pada tanggal 4 Januari 2013 melalui website http://rekrut.kereta-api.co.id/

 

NO NO REG NO TES NAMA LENGKAP TEMPAT LAHIR TGL LAHIR
DAERAH OPERASI 1 JAKARTA
LOKASI  :  BALAI PENGOBATAN MANGGARAI PT. KAI (PERSERO),  JL. BUKIT DURI UTARA  1  NO.1 MANGGARAI TEBET JAKARTA SELATAN
1 22683 2012.D1.POLSUSKA.018 ALAN PRABOWO WONOGIRI 5/13/1992
2 19209 2012.D1.POLSUSKA.078 HADI WIBOWO JAKARTA 11/14/1994
3 19985 2012.D1.POLSUSKA.109 NURDIANSYAH BANYUMAS 12/13/1990
4 16951 2012.D1.POLSUSKA.130 SAEFUL AMRI TEGAL, 1/17/1990
5 22242 2012.D1.POLSUSKA.143 SYACHRI RAMDHAN KARAWANG 4/28/1992
DAERAH OPERASI 2 BANDUNG
LOKASI :  UNIT KESEHATAN AREA 2 BANDUNG,  JL. KEBON KAWUNG NO.43 BANDUNG
1 16454 2012.D2.POLSUSKA.026 ANDI SOFYAN BANDUNG 11/8/1992
2 16004 2012.D2.POLSUSKA.029 ANDRIAN REZA BANDUNG 1/13/1993
3 13664 2012.D2.POLSUSKA.103 FAISAL ARI NUGRAHA BANDUNG 7/5/1993
4 23667 2012.D2.POLSUSKA.159 MUHAMAD NOVIAN ADIGUNA GARUT 10/10/1989
5 18383 2012.D2.POLSUSKA.188 RAMDAN BANDUNG 3/29/1990
6 17876 2012.D2.POLSUSKA.203 RISKA PRATIWI CIAMIS 10/18/1993
7 17146 2012.D2.POLSUSKA.206 RISWAN ZAMALUDIN BANDUNG 12/6/1992
DAERAH OPERASI 3 CIREBON
LOKASI :  BALAI PENGOBATAN PT. KAI (PERSERO) CIREBON,  JL. INSPEKSI NO.6 CIREBON
1 14545 2012.D3.POLSUSKA.017 AJENG TRIANI PUTRI CIREBON 7/14/1994
2 13618 2012.D3.POLSUSKA.030 ASWAR YUDHA MULYANA UJUNG PANDANG 8/11/1993
3 20289 2012.D3.POLSUSKA.037 DAVID RUBY AVANSAH CIREBON 1/21/1993
4 19317 2012.D3.POLSUSKA.077 IMAM BAYHAQI CIREBON 10/20/1991
5 23184 2012.D3.POLSUSKA.098 MOHAMAD ISA DIN CIREBON 7/21/1993
6 15369 2012.D3.POLSUSKA.130 SUCIPTO MAJALENGKA 9/3/1989
7 16531 2012.D3.POLSUSKA.140 TAHARNO CIREBON 4/14/1993
8 15295 2012.D3.POLSUSKA.152 WAHYU ISNAPUTRA PRAHADI CIREBON 2/17/1988
9 22887 2012.D3.POLSUSKA.157 YOGA PRIYANA CIREBON 4/10/1994
DAERAH OPERASI 4 SEMARANG
LOKASI  :  UNIT KESEHATAN AREA 4 SEMARANG,  JL. M.H. THAMRIN NO.3 SEMARANG
1 22604 2012.D4.POLSUSKA.054 EKA TULUS PRASETYO GROBOGAN 2/24/1988
2 23181 2012.D4.POLSUSKA.058 ELY AYASMI DEMAK 4/1/1992
3 19805 2012.D4.POLSUSKA.076 HENDRI KURNIAWAN ADI WIBOWO MAGELANG 2/21/1990
4 14488 2012.D4.POLSUSKA.090 KUKUH TRI ATMOJO KENDAL 6/8/1992
5 22069 2012.D4.POLSUSKA.127 RODHI NURKHUSAINI BLORA 4/15/1991
DAERAH OPERASI 5 PURWOKERTO
LOKASI  :  BALAI PENGOBATAN UNIT KESEHATAN AREA 5 PURWOKERTO,  JL. JEND. SOEDIRMAN GG. PERMATA PURWOKERTO
1 17962 2012.D5.POLSUSKA.026 ARFAN HIDAYAT KEBUMEN 11/7/1990
2 22451 2012.D5.POLSUSKA.029 ARIF KUSTANTO BANYUMAS 8/16/1990
3 20331 2012.D5.POLSUSKA.037 AWAL IRWANTO BANYUMAS 3/17/1989
4 18149 2012.D5.POLSUSKA.041 BAMBANG KURNIAWAN WONOSOBO 1/28/1988
5 21212 2012.D5.POLSUSKA.045 BONDAN PRIHATNOLO PURBALINGGA 5/9/1990
6 14722 2012.D5.POLSUSKA.046 BUDI CAHYO PURNOMO CILACAP 6/6/1992
7 17939 2012.D5.POLSUSKA.056 DENDY NUR HAKIM PURBALINGGA 3/16/1994
8 15083 2012.D5.POLSUSKA.085 GALIH PRABOWO PURWOKERTO 9/17/1992
9 20700 2012.D5.POLSUSKA.103 KHARISMA DONA IRLANDI PURBALINGGA 2/22/1994
10 22557 2012.D5.POLSUSKA.105 KOMARUDIN CILACAP 8/26/1989
11 17515 2012.D5.POLSUSKA.119 NOFAN PRIYANTO PURWOKERTO 11/25/1990
12 18508 2012.D5.POLSUSKA.131 PRIYO ARDHI RUBIYANTO PURWOREJO 9/12/1991
13 16749 2012.D5.POLSUSKA.132 PURNOKO BANYUMAS 1/25/1991
14 23131 2012.D5.POLSUSKA.142 RISKIADI BANYUMAS 5/9/1992
15 16193 2012.D5.POLSUSKA.150 SHOIM HIDAYAT BANYUMAS 4/24/1991
16 14517 2012.D5.POLSUSKA.174 WAHYU SETIA AJI CILACAP 12/1/1989
17 14211 2012.D5.POLSUSKA.178 YKKA TULUS SUCI HIDAYAT BANYUMAS 3/19/1991
DAERAH OPERASI 6 YOGYAKARTA
LOKASI  :  LABORATORIUM PRAMITA,  JL. CIK DITIRO NO.17 YOGYAKARTA
1 23874 2012.D6.POLSUSKA.016 AHMAD EKO MARDIANTO SUKOHARJO 10/28/2012
2 18269 2012.D6.POLSUSKA.024 ANGGA EARIESKA BOYOLALI 2/5/1988
3 19064 2012.D6.POLSUSKA.055 DEWI KURNIA SURAKARTA 9/13/1991
4 23253 2012.D6.POLSUSKA.092 HERMAWAN WIBOWO BANTUL 11/10/1989
5 17338 2012.D6.POLSUSKA.122 NUGROHO SUSANTO BANTUL 6/24/1991
6 15714 2012.D6.POLSUSKA.149 SARWO PAMBUDI KULON PROGO 9/5/1990
7 20719 2012.D6.POLSUSKA.151 SEFYAN DWI ERYANTO BANTUL 9/14/1992
8 15967 2012.D6.POLSUSKA.165 TONIE SURIANTO BANTUL 8/7/1990
9 20036 2012.D6.POLSUSKA.166 TRI BOWO DARMANTO PURWOREJO 7/6/1991
10 20133 2012.D6.POLSUSKA.167 TRI WIDODO BANTUL 5/6/1990
DAERAH OPERASI 7 MADIUN
LOKASI  :  KANTOR DAOP 7 MADIUN,  JL. KOMPOL SUNARYO NO. 14 MADIUN
1 21676 2012.D7.POLSUSKA.006 AGUS SEPTIAN KUDUS 9/30/1990
2 19462 2012.D7.POLSUSKA.030 DENI ARDIANSYAH MADIUN 9/13/1993
3 18801 2012.D7.POLSUSKA.058 JECKY SETIA NUGRAHA S. MAGETAN 7/12/1992
4 20343 2012.D7.POLSUSKA.081 RENDY CHRISTANTO MAGETAN 7/1/1991
5 15380 2012.D7.POLSUSKA.098 WISNU WARDHANA MADIUN 10/29/1989
DAERAH OPERASI 8 SURABAYA
LOKASI  :  LABORATORIUM PRAMINTA,  JL. NGAGEL JAYA NO.71 SURABAYA.
1 22036 2012.D8.POLSUSKA.014 AKMAL HUDAEINI JEMBER 6/15/1993
2 19514 2012.D8.POLSUSKA.015 ANA WAHID SURYANA JEMBER 4/27/1994
3 21993 2012.D8.POLSUSKA.033 DENY DERMAWAN KEDIRI 8/30/1992
4 20858 2012.D8.POLSUSKA.041 DONNY PURIAWAN MALANG 5/8/1994
5 13676 2012.D8.POLSUSKA.042 DONY ADITYA SAPUTRA MALANG 10/28/2012
6 18256 2012.D8.POLSUSKA.048 ELSA NOVA WILDYANTO JEMBER 11/7/1991
7 15760 2012.D8.POLSUSKA.055 FITROH ABDUL WAHID JEMBER 3/14/1993
8 14081 2012.D8.POLSUSKA.063 HERI MUGIONO BOJONEGORO 3/5/1989
9 15204 2012.D8.POLSUSKA.101 MUHAMMAD APRI ROMADHONI SIDOARJO 4/1/1991
10 13779 2012.D8.POLSUSKA.127 RIKKY JANUARSAM P.D MOJOKERTO 1/28/1990
11 15203 2012.D8.POLSUSKA.144 SOBIUL AHMAD TUBAN 12/19/1990
12 21365 2012.D8.POLSUSKA.156 TITO YANUAR D PRATAMA MOJOKERTO 1/18/1990
SUB DIVISI REGIONAL III.1 KERTAPATI
LOKASI  :  KLINIK PRAMITA JL. VETERAN NO.173 PALEMBANG
1 14031 2012.KPT.POLSUSKA.042 BENI HIDAYAT PALEMBANG 12/13/1993
2 17012 2012.KPT.POLSUSKA.043 BERRY PURNA NUGRAHA PALEMBANG 10/2/1994
3 13669 2012.KPT.POLSUSKA.093 M. RUNZUL FAHMI PALEMBANG 11/4/1990
4 18601 2012.KPT.POLSUSKA.120 RAHMAD KURNIAWAN PALEMBANG 11/3/1989
5 14934 2012.KPT.POLSUSKA.141 SAHRUL HAMIDI PALEMBANG 6/15/1990
SUB DIVISI REGIONAL III.2 TANJUNGKARANG
LOKASI :  BALAI PENGOBATAN PT. KAI (PERSERO),  JL. KOTA RAJA NO.1 STASIUN TANJUNGKARANG
1 22940 2012.TNK.POLSUSKA.001 ACHMAD IRFAN HERANDI SUKANA BANDAR LAMPUNG 7/28/2012
2 18531 2012.TNK.POLSUSKA.020 APRIDONA TANJUNG TIGA 10/3/1988
3 13872 2012.TNK.POLSUSKA.052 EKO ARIYANTO ADIPURO 5/4/1990
4 23156 2012.TNK.POLSUSKA.062 FADILLAH ROMADON BANDAR LAMPUNG 3/18/1993
5 22190 2012.TNK.POLSUSKA.085 JUNI ISKANDAR TAMBAH MULYO 6/16/1992
6 19172 2012.TNK.POLSUSKA.114 NURUL HIDAYAT BANDAR LAMPUNG 3/8/1992

 

Published on 14 Dec 2012

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI TAHAP III (TES PSIKOLOGI DAN WAWANCARA) REKRUT EKSTERNALUNTUK CUSTOMER SERVICE TINGKAT DIPLOMA III (D3) TAHUN 2012 DI LINGKUNGAN PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO)

LOGO PT KAIPENGUMUMAN HASIL SELEKSI TAHAP III (TES PSIKOLOGI DAN WAWANCARA)

REKRUT EKSTERNALUNTUK CUSTOMER SERVICE TINGKAT DIPLOMA III (D3) TAHUN 2012

DI LINGKUNGAN PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO)

 

 

Diberitahukan pada peserta Rekrut Eksternal Untuk Customer Service Tingkat Diploma III (D3) Tahun 2012 Di Lingkungan PT. Kereta Api Indonesia (Persero),  yang dinyatakan Lulus dan mengikuti Seleksi Tahap IV (Tes Kesehatan Laboratorium) sebagaimana daftar terlampir  di bawah ini.

 

Pelaksanaan Tes Kes Laboratorium pada :

Hari

Tanggal

Pukul

Lokasi Tes

:

:

:

:

Sabtu

8 Desember 2012

07.00 WIB s/d selesai

Laboratorium BIO TEST

Jl. Naripan No. 41 Bandung.

 

Ketentuan : 1. Setiap peserta harap membawa KARTU PESERTA.
2. Pada saat mengikuti seleksi tahap IV. peserta wajib bersepatu dan berpakaian : kemeja putih. celana warna hitam/gelap.
3. Membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Bukti Identitas lain yang masih berlaku.
4. Peserta diwajibkan berpuasa pada pukul 22.00 wib sampai dengan pemeriksaan kesehatan laboratorium (tidak boleh makan, mengkonsumsi obat-obatan dan minum, kecuali minum air putih).

 

Keterangan : Penetapan Kelulusan Seleksi Tahap IV (Tes Kesehatan Laboratorium) akan diumumkan pada tanggal 17 Desember 2012 melalui website http://rekrut.kereta-api.co.id/

 

NO NO REG NO TEST NAMA LENGKAP TEMPAT LAHIR TGL LAHIR
1 3233 2012.KP.CS.009 ANA ISWARI SLEMAN 5/4/1990
2 9120 2012.KP.CS.012 ANNISA YUANTRI BANDUNG 11/18/1988
3 122 2012.KP.CS.013 ARI ISMIAYANTI CIANJUR 2/7/1990
4 484 2012.KP.CS.026 DAVIQ HUDA NUR HAKIM SEMARANG 8/11/1989
5 11885 2012.KP.CS.044 HERI KRISTIANTORO BEKASI 12/25/1987
6 2640 2012.KP.CS.052 KHARA PUTRA KUSMAHADI BANDUNG 11/19/1989
7 12998 2012.KP.CS.055 LUCYANA E U SIAHAAN TIGALINGGA 9/11/1989
8 11720 2012.KP.CS.064 MUKHODIMAH CIREBON 7/6/1989
9 6129 2012.KP.CS.066 NILA AMALIAH SEMARANG 11/22/1988
10 12828 2012.KP.CS.080 RIA SETYA RAHAYU GRESIK 10/25/1990
11 7424 2012.KP.CS.081 RIAN HABIBI KUNINGAN 5/3/1991
12 9456 2012.KP.CS.096 SHINTA GUNUNG MERAKSA BR 12/19/1988
Published on 03 Dec 2012

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI TAHAP IV (KESEHATAN LABORATORIUM) REKRUTMEN EKSTERNAL UNTUK MASINIS TINGKAT SLTA TAHUN 2012 DI LINGKUNGAN PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO)

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI TAHAP IV (KESEHATAN LABORATORIUM) REKRUTMEN EKSTERNAL UNTUK MASINIS TINGKAT SLTA TAHUN 2012

DI LINGKUNGAN PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO)

 

Berdasarkan hasil seleksi Tahap IV (Tes Kesehatan Laboratorium) Rekrut Eksternal Untuk Masinis  Tingkat SLTA Tahun 2012 Di Lingkungan PT. Kereta Api Indonesia (Persero),  yang dinyatakan  Lulus  adalah sebagaimana daftar terlampir di bawah ini.  

Bagi peserta yang dinyatakan lulus supaya hadir pada :

Hari/Tanggal

Pukul

:

:

Senin, 3 Desember 2012

07.00 s/d selesai

Acara : Pengarahan dan Tandatangan Kontrak Magang
Lokasi Tes : Sesuai Daftar Terlampir
Ketentuan : 1. Setiap peserta harap membawa KARTU PESERTA
2. Peserta wajib bersepatu dan berpakaian : kemeja putih. celana warna hitam/gelap.
3. Peserta wajib membawa :
a.  Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Bukti Identitas lain yang masih berlaku.
b.  Asli Ijazah terakhir.
c.  Asli NEM.
d.  Surat Keterangan Bebas Narkoba
e.  Membawa  Materai Rp.6.000,00 2 (dua) buah.

 

NO NO REG NO TEST NAMA TEMPAT LAHIR TGL LAHIR
DAERAH OPERASI 1 JAKARTA
LOKASI : RUANG ARJUNA LANTAI II KANTOR DAOP 1 JAKARTA,  JL. TAMAN STASIUN NO.1 JAKARTA KOTA
1 483 2012.MAS.DI.007 ABDUL ZALIL BLORA 3/28/1988
2 6196 2012.MAS.DI.027 ADE ACHDIAT ARDIADI GARUT 12/16/1990
3 11605 2012.MAS.DI.038 ADI BASUKI CIAMIS 10/9/1991
4 4871 2012.MAS.DI.060 AGUNG HUTAMA PUTRA KULONPROGO 11/12/1988
5 8282 2012.MAS.DI.076 AGUS LAKSONO SURAKARTA 8/31/1989
6 423 2012.MAS.DI.087 AGUS SUROTO BLORA 8/19/1989
7 2514 2012.MAS.DI.090 AGUS TRI LEKSONO BREBES 8/24/1993
8 8843 2012.MAS.DI.105 AHMAD SUTRISNO TEGAL 5/26/1990
9 2017 2012.MAS.DI.127 ALAN KASTOLANI CIREBON 10/3/1993
10 11988 2012.MAS.DI.130 ALEX FANDY KHUSUMA MAGETAN 9/2/1989
11 7257 2012.MAS.DI.189 ANJAR KIRMAWAN SURAKARTA 1/30/1988
12 1290 2012.MAS.DI.191 ANTON SUDARSONO KEDIRI 10/18/1992
13 2886 2012.MAS.DI.202 ARI DWI SAPTHOMO JAKARTA 9/24/1992
14 1670 2012.MAS.DI.239 ASEP SARIPUDIN BEKASI 5/19/1993
15 9461 2012.MAS.DI.241 ASEP SUSANTO CIREBON 1/23/1989
16 11220 2012.MAS.DI.260 BAGUS SETIADI SURABAYA 8/14/1992
17 560 2012.MAS.DI.268 BARITA HAMONANGAN SINAGA RONDANG 1/12/1991
18 11124 2012.MAS.DI.271 BAYU IRAWAN BANTUL 7/3/1992
19 10558 2012.MAS.DI.281 BISRI LATIF MUSTOFA BANTUL 6/21/1988
20 329 2012.MAS.DI.296 CATUR AGUS SETIAWAN SURABAYA 8/17/1990
21 10419 2012.MAS.DI.299 CECEP SUPRIYADI CIREBON 11/7/1986
22 2703 2012.MAS.DI.332 DEDI HARTANTO PEKALONGAN 12/28/1992
23 10879 2012.MAS.DI.343 DENI NOVI PRATAMA BANJARNEGARA 11/8/1991
24 4067 2012.MAS.DI.380 DIMAS WIDYANTORO NGAWI 8/27/1994
25 9909 2012.MAS.DI.382 DINAR AKHMAD TRIFANA KARANGANYAR 6/23/1994
26 11773 2012.MAS.DI.405 DWI HARSONO MADIUN 4/13/1994
27 5862 2012.MAS.DI.410 DWI NUR WIBOWO MAGETAN 3/23/1991
28 1325 2012.MAS.DI.411 DWI PURNIAWAN BLITAR 5/7/1993
29 13965 2012.MAS.DI.415 DWIYANTO BOYOLALI 2/24/1995
30 3535 2012.MAS.DI.422 EDY CAHYONO REMBANG 11/18/1993
31 5952 2012.MAS.DI.433 EKA NUGRAHA KUNINGAN 1/12/1991
32 11563 2012.MAS.DI.440 EKO SAPUTRA MEDAN 11/1/1992
33 7919 2012.MAS.DI.441 EKO SUPRIYADI KULON PROGO 1/8/1989
34 1196 2012.MAS.DI.458 FAJAR HENDRIKA KEBUMEN 4/5/1988
35 2689 2012.MAS.DI.467 FATHAR AZMI JAKARTA 3/20/1995
36 7641 2012.MAS.DI.468 FATHIR SUPRIYONO CILACAP 1/19/1990
37 8111 2012.MAS.DI.469 FATKHURROHMAN KEBUMEN 11/11/1992
38 7034 2012.MAS.DI.479 FERRI ADE SANTO BEKASI 2/8/1992
39 12770 2012.MAS.DI.537 HASAN BASRI CIREBON 5/20/1987
40 4870 2012.MAS.DI.574 IAN JUSTIAN CIAMIS 3/9/1989
41 2747 2012.MAS.DI.620 IWAN FAUZI PEMALANG 10/5/1990
42 5577 2012.MAS.DI.625 JAKA PERMANA JAKARTA 9/10/1989
43 9160 2012.MAS.DI.637 JUANDA ANDRIAN JAKARTA 7/5/1990
44 1642 2012.MAS.DI.646 KELANA KARNA CIREBON 3/5/1987
45 4916 2012.MAS.DI.659 KURNIA ADI PUTRA BANYUMAS 7/11/1990
46 8389 2012.MAS.DI.686 MA1RUF DZIKRULLOH KEBUMEN 1/14/1995
47 4685 2012.MAS.DI.694 MAMAY KOMARUDIN SUMEDANG 1/7/1988
48 2298 2012.MAS.DI.737 MOHAMAD SUBEKHI TEGAL 2/7/1991
49 393 2012.MAS.DI.738 MOHAMAD YOGIE HERTANTO CIREBON 5/14/1988
50 205 2012.MAS.DI.745 MUADI CIREBON 9/22/1989
51 12090 2012.MAS.DI.747 MUCHAMAD ROFIK TEGAL 1/10/1986
52 12213 2012.MAS.DI.748 MUCHAMMAD YUNUS MAGELANG 1/19/1989
53 502 2012.MAS.DI.755 MUHAMAD AGUS HARTONO CIREBON 8/17/1994
54 1190 2012.MAS.DI.756 MUHAMAD AKMALUDIN JIDNI SERANG 7/23/1994
55 9209 2012.MAS.DI.782 MUHAMMAD ARIFIN JAKARTA 2/27/1992
56 5723 2012.MAS.DI.825 NASHIHUN IBNU ABBAS BEKASI 2/4/1991
57 6068 2012.MAS.DI.826 NASIH JANAN HANIEF KEBUMEN 4/19/1990
58 12063 2012.MAS.DI.828 NATSIR ALBANA TEGAL 7/11/1988
59 8021 2012.MAS.DI.836 NOPA DITIA PUTRA SEMARANG 11/1/1989
60 1654 2012.MAS.DI.837 NOPI SUSANTO CIANJUR 11/14/1993
61 1330 2012.MAS.DI.855 NURUL FIRDAUS CIREBON 6/15/1990
62 178 2012.MAS.DI.865 OKTARIYANTO EKO SAPUTRO SRAGEN 10/5/1993
63 8818 2012.MAS.DI.890 PURWO SETIO ADI KEBUMEN 8/29/1988
64 2727 2012.MAS.DI.922 REVAN KUSWENDI BREBES 2/4/1986
65 9604 2012.MAS.DI.941 RILISTYAN ADI WIBOWO PURWOKERTO 4/24/1987
66 13255 2012.MAS.DI.945 RINGGA HELSA PUTRA BANJARNEGARA 11/19/1988
67 2865 2012.MAS.DI.957 RIYADI KEBUMEN 8/26/1991
68 8055 2012.MAS.DI.958 RIYAN TRI PRABOWO GROBOGAN 4/28/1993
69 8140 2012.MAS.DI.960 RIYANTINO JOKO SAPUTRO MAGELANG 3/12/1994
70 12009 2012.MAS.DI.966 RIZKI FAJAR UTOMO PEMALANG 5/3/1994
71 924 2012.MAS.DI.971 RIZKI ZAKARIA JAKARTA 3/28/1991
72 4669 2012.MAS.DI.973 RIZKY SIGIT ADIPUTRA JAKARTA 2/25/1994
73 13054 2012.MAS.DI.982 ROKHIWAN BANYUMAS 12/17/1988
74 3139 2012.MAS.DI.983 ROMY GINAWANSYAH CIREBON 12/21/1994
75 4564 2012.MAS.DI.987 RONI RAISMAN BANDUNG 8/28/1992
76 2752 2012.MAS.DI.993 RUDI PERDIANSAH BOGOR 8/14/1992
77 6152 2012.MAS.DI.998 RUDI WIBOWO JAKARTA 6/26/1993
78 7187 2012.MAS.DI.999 RUDY FRIMA JAKARTA 4/10/1989
79 9661 2012.MAS.DI.1004 RUSMAWI SUBANG 12/8/1985
80 4856 2012.MAS.DI.1005 RUSTAMI ASNAN KEBUMEN 9/12/1989
81 6659 2012.MAS.DI.1028 SAPTAMA DWI PUTRA SLEMAN 9/17/1991
82 307 2012.MAS.DI.1035 SENDI AKHMAD FAUZY 21 SEPTEMBER 1989 9/21/1989
83 3495 2012.MAS.DI.1052 SIGIT NUGROHO SEMARANG 3/1/1990
84 5682 2012.MAS.DI.1075 SUDARMONO GUNUNGKIDUL 12/11/1987
85 3832 2012.MAS.DI.1077 SUGENG MADIUN 7/5/1990
86 13810 2012.MAS.DI.1104 SYAIDINA ALI BOGOR 1/14/1994
87 2191 2012.MAS.DI.1126 TOPAN HARIMURTI MADIUN 12/2/1992
88 7059 2012.MAS.DI.1135 TRI NUGROHO KEBUMEN 9/6/1993
89 3857 2012.MAS.DI.1137 TRI WAHYUDI KEBUMEN 6/14/1987
90 293 2012.MAS.DI.1139 TRI WIDODO SRAGEN 1/12/1989
91 6051 2012.MAS.DI.1140 TRIASMOKO RAGIL ERLANDO BREBES 8/22/1988
92 8781 2012.MAS.DI.1156 WAHYU ADITAMA CILACAP 9/17/1991
93 7439 2012.MAS.DI.1159 WAHYU BAGUS TRIYANTO BANYUMAS 9/1/1991
94 637 2012.MAS.DI.1174 WAHYUDI NUR DIANTORO BLORA 12/9/1994
95 4741 2012.MAS.DI.1178 WARSA BOGOR 5/28/1986
96 8446 2012.MAS.DI.1186 WIDYATMOKO BANYUMAS 8/14/1993
97 9264 2012.MAS.DI.1191 WISHNU WURYARADYA BLORA 10/2/1992
98 11663 2012.MAS.DI.1205 YAYAN HARI PRAMANA BANYUMAS 1/2/1995
99 6979 2012.MAS.DI.1206 YAYAN SOPIAN GARUT 6/28/1988
100 2333 2012.MAS.DI.1209 YOGA PRAMANA PURWOKERTO 8/23/1986
101 8861 2012.MAS.DI.1223 YUGO GINANJAR KEBUMEN 7/24/1991
102 6777 2012.MAS.DI.1234 YUSUF SOFYAN GARUT 4/7/1992
103 11786 2012.MAS.DI.1236 ZAENAL ABIDIN SEMARANG 7/2/1990
104 4745 2012.MAS.DI.1243 ZANUARDI NUGROHO JATI SLEMAN 1/2/1993
SUB DIVISI REGIONAL III.2 TANJUNGKARANG
LOKASI : KANTOR SUB DIVRE III.2 TANJUNGKARANG, JL. TEUKU UMAR NO.23  BANDAR LAMPUNG
1 5628 2012.TNK.MAS.067 ALI MUHAMAD FAUZI PALEMBANG 4/15/1993
2 3713 2012.TNK.MAS.079 ANDIKA JONATA KOTABUMI 12/30/1987
3 11154 2012.TNK.MAS.090 ANGGA ADI SURINDA SRIDADI 1/5/1993
4 11433 2012.TNK.MAS.113 ARDIANSYAH KOTABUMI 8/10/1989
5 7616 2012.TNK.MAS.115 ARDIYANSAH PANJANG 12/16/1990
6 3000 2012.TNK.MAS.209 DERI SUSANTO BANDAR LAMPUNG 12/23/1993
7 12748 2012.TNK.MAS.218 DIKY NANDA PRATAMA PALEMBANG 10/24/1994
8 12535 2012.TNK.MAS.219 DIMAS AMINUDIN SAPUTRA METRO 5/4/1992
9 380 2012.TNK.MAS.231 DWI RESTU SEPTIANTO BANYUMAS 9/21/1993
10 2159 2012.TNK.MAS.239 EDWAR PRATAMA LAMPUNG 2/16/1994
11 13319 2012.TNK.MAS.253 ELVANSIUS AGUSNINTO BARUS DELITUA 8/22/1988
12 7537 2012.TNK.MAS.256 ERI SANDY PRABUMULIH 7/30/1991
13 7698 2012.TNK.MAS.259 ERIX SAPUTRA PAJAR BARU 12/14/1990
14 11684 2012.TNK.MAS.267 FAROUQ SADIAN RIVAI BANYUMAS 8/23/1993
15 3511 2012.TNK.MAS.268 FAUZI BATURAJA 11/4/1994
16 6791 2012.TNK.MAS.279 FENDI WAHYUDI BANDAR LAMPUNG 7/28/1990
17 172 2012.TNK.MAS.315 HARIS PADILAH PALEMBANG 3/28/1993
18 9793 2012.TNK.MAS.319 HARLIANDIKA RADITIA KOTO KERAS 12/31/1991
19 8334 2012.TNK.MAS.352 INDRA ANGKASA PANJANG 7/28/1988
20 9253 2012.TNK.MAS.357 IQBAL ADE ROMADONI BANDAR LAMPUNG 3/5/1994
21 9070 2012.TNK.MAS.394 LUKMAN HAKIM PALEMBANG 10/14/1994
22 6493 2012.TNK.MAS.397 M INDO SAPUTRA PALEMBANG 7/24/1993
23 6483 2012.TNK.MAS.402 M. ARI WIBOWO KOTABUMI 5/30/1994
24 99 2012.TNK.MAS.403 M. IMAM SYUKRON PALEMBANG 10/22/1994
25 10103 2012.TNK.MAS.436 MUHAMAD FARIZKY PALEMBANG 2/24/1993
26 3468 2012.TNK.MAS.441 MUHAMAD SOLIHIN OKU TIMUR 5/26/1988
27 12167 2012.TNK.MAS.498 OKTARIAN PALEMBANG 6/5/1992
28 1583 2012.TNK.MAS.517 PUJI TRIYONO PALEMBANG 9/12/1989
29 3961 2012.TNK.MAS.567 RIFQON FAJRI KOTABUMI 9/18/1987
30 1721 2012.TNK.MAS.632 SETIONO PURWODADI DALAM 5/3/1991
31 8445 2012.TNK.MAS.636 SIGIT HARJANTO PALEMBANG 6/11/1991
32 4622 2012.TNK.MAS.698 WAHYU SASONGKO ADIPURO 12/18/1993
33 3945 2012.TNK.MAS.706 WAYAN ARIEF KRISNANTHA PUGUNG RAHARJO 10/28/1992
34 1878 2012.TNK.MAS.712 WUJUD PRATAMASANJAYA TANJUNG ENIM 2/6/1993
 
Published on 29 Nov 2012

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI TAHAP II (TES PARADE DAN TES KESEHATAN FISIK) REKRUT EKSTERNAL UNTUK POLSUSKA TINGKAT SLTA TAHUN 2012

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI TAHAP II (TES PARADE DAN TES KESEHATAN FISIK) REKRUT EKSTERNAL UNTUK POLSUSKA TINGKAT SLTA TAHUN 2012

Kembali
Diberitahukan pada peserta Rekrut Eksternal Untuk Polsuska Tingkat SLTA Tahun 2012 Di Lingkungan PT. Kereta Api Indonesia (Persero),  yang dinyatakan Lulus dan mengikuti Seleksi Tahap III (Tes Psikologi) sebagaimana daftar terlampir  di bawah ini.UNDUH HASIL PENGUMUMAN DIBAWAH INI:

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI TAHAP II POLSUSKA 2012

Pelaksanaan Tes Psikologi pada :

Hari/Tanggal : Sabtu, 1 Desember 2012
Pukul : 06.30 WIB s/d selesai
Lokasi Tes : Sesuai Daftar Terlampir
Ketentuan : 1. Setiap peserta harap membawa KARTU PESERTA yang telah dicetak melalui website http://rekrut.kereta-api.co.id
2. Pada saat mengikuti seleksi tahap III. peserta wajib bersepatu dan berpakaian : kemeja putih. celana warna hitam/gelap.
3. Membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Bukti Identitas lain yang masih berlaku.
4. Peserta membawa alat tulis berupa Pensil 2B, HB, Penghapus dan Pulpen.
Keterangan : Penetapan Kelulusan Seleksi Tahap III (Tes Psikologi) akan diumumkan pada tanggal 14 Desember 2012 melalui website http://rekrut.kereta-api.co.id/
NO NO REG NO TES NAMA LENGKAP TEMPAT LAHIR TGL LAHIR
DAERAH OPERASI 1 JAKARTA
LOKASI  :  RUANG ARJUNA LANTAI II STASIUN JAKARTA KOTA,  JL. TAMAN STASIUN KOTA NO.1 JAKARTA BARAT
1 17628 2012.D1.POLSUSKA.003 ACHMAD BADARUDIN TANGERANG 1/26/1994
2 17630 2012.D1.POLSUSKA.004 ADHAM IKHSAN GUMELAR KARAWANG 7/2/1989
3 22683 2012.D1.POLSUSKA.018 ALAN PRABOWO WONOGIRI 5/13/1992
4 18361 2012.D1.POLSUSKA.040 BAYU DWI CAHYONO BOYOLALI 10/7/1991
5 15237 2012.D1.POLSUSKA.041 BOBY KURNIAWAN TANGERANG 5/13/1988
6 16666 2012.D1.POLSUSKA.065 FAKIH AGNIA JAKARTA 8/25/1993
7 15000 2012.D1.POLSUSKA.067 FENDY SAMBARA CILACAP 3/16/1990
8 14753 2012.D1.POLSUSKA.069 FERRY FERDINANTO NGANJUK 11/8/1989
9 15425 2012.D1.POLSUSKA.070 FIRMAN SAPUTRA JAKARTA 4/13/1991
10 19209 2012.D1.POLSUSKA.078 HADI WIBOWO JAKARTA 11/14/1994
11 14494 2012.D1.POLSUSKA.099 MUHAMAD SUPARYANDI SANUSI SUKABUMI 10/31/1988
12 19985 2012.D1.POLSUSKA.109 NURDIANSYAH BANYUMAS 12/13/1990
13 19277 2012.D1.POLSUSKA.112 RAHMAD BUKHARI SEI BULUH 3/19/1992
14 17801 2012.D1.POLSUSKA.122 RIZA FITRI ANTO MADIUN 3/23/1993
15 23794 2012.D1.POLSUSKA.128 RUDY FRIMA JAKARTA 4/10/1989
16 16951 2012.D1.POLSUSKA.130 SAEFUL AMRI TEGAL, 1/17/1990
17 20930 2012.D1.POLSUSKA.135 SOLA CIREBON 3/14/1988
18 22242 2012.D1.POLSUSKA.143 SYACHRI RAMDHAN KARAWANG 4/28/1992
DAERAH OPERASI 2 BANDUNG
LOKASI :  AULA LANTAI III KANTOR DAOP 2 BANDUNG,  JL. SETASIUN SELATAN NO.25 BANDUNG
1 15636 2012.D2.POLSUSKA.002 ABIZAR FIKRI BARKAH BANDUNG 9/2/1994
2 16049 2012.D2.POLSUSKA.003 ADE IRPAN MAULANA CIAMIS 3/15/1991
3 14460 2012.D2.POLSUSKA.025 ANDHRI YUDHA INDRAMAYU 5/9/1992
4 16454 2012.D2.POLSUSKA.026 ANDI SOFYAN BANDUNG 11/8/1992
5 16004 2012.D2.POLSUSKA.029 ANDRIAN REZA BANDUNG 1/13/1993
6 14246 2012.D2.POLSUSKA.038 ARIS WIJIYANTO INDRAMAYU 5/4/1991
7 21328 2012.D2.POLSUSKA.079 DIKI MULYADI BANDUNG 8/27/1993
8 13771 2012.D2.POLSUSKA.090 EGI JUNIAR BANDUNG 6/1/1991
9 15056 2012.D2.POLSUSKA.095 EKA SANJAYA CIREBON 5/20/1988
10 13664 2012.D2.POLSUSKA.103 FAISAL ARI NUGRAHA BANDUNG 7/5/1993
11 18316 2012.D2.POLSUSKA.105 FEBY NUGRAHA PUTRA BANDUNG 2/11/1993
12 18862 2012.D2.POLSUSKA.108 FERRY EKA SEPTIAN SUKABUMI 9/12/1990
13 20777 2012.D2.POLSUSKA.120 GILANG RAMADHAN GOESMAN BANDUNG 8/12/1994
14 17351 2012.D2.POLSUSKA.123 HANDI SURYADI TAUFIK CIAMIS 5/16/1993
15 19634 2012.D2.POLSUSKA.130 HIKMAT JUANDA BANDUNG 9/16/1989
16 20080 2012.D2.POLSUSKA.141 IWAN SAEPUDIN BANJAR 8/6/1988
17 23667 2012.D2.POLSUSKA.159 MUHAMAD NOVIAN ADIGUNA GARUT 10/10/1989
18 22626 2012.D2.POLSUSKA.166 MULYANA MAULANA BIN WAWAN K CIANJUR 10/10/1990
19 22764 2012.D2.POLSUSKA.186 QODRAT ABDUL ROHMAN GARUT 3/4/1992
20 18383 2012.D2.POLSUSKA.188 RAMDAN BANDUNG 3/29/1990
21 17876 2012.D2.POLSUSKA.203 RISKA PRATIWI CIAMIS 10/18/1993
22 17146 2012.D2.POLSUSKA.206 RISWAN ZAMALUDIN BANDUNG 12/6/1992
23 22116 2012.D2.POLSUSKA.217 SIGIT PEBRIANTO SRAGEN 2/13/1991
24 14689 2012.D2.POLSUSKA.237 TRI ASPUTRO BANDUNG 7/6/1994
25 19176 2012.D2.POLSUSKA.254 YUSUF HENDRYAN PADANG 8/22/1993
DAERAH OPERASI 3 CIREBON
LOKASI :  GEDUNG MANAJEMEN PERHOTELAN , UNTAG PRIMA, JL. PERJUANGAN NO.17 A CIREBON
1 13798 2012.D3.POLSUSKA.001 AAN ANSORI CIREBON 6/28/1991
2 16657 2012.D3.POLSUSKA.004 ABDUL ROHMAN CIREBON 10/22/1990
3 15213 2012.D3.POLSUSKA.009 ADI PRIYANDOKO BREBES 4/12/1993
4 14545 2012.D3.POLSUSKA.017 AJENG TRIANI PUTRI CIREBON 7/14/1994
5 13618 2012.D3.POLSUSKA.030 ASWAR YUDHA MULYANA UJUNG PANDANG 8/11/1993
6 20289 2012.D3.POLSUSKA.037 DAVID RUBY AVANSAH CIREBON 1/21/1993
7 19378 2012.D3.POLSUSKA.056 EKA PUTRA ATMAJI CIREBON 2/9/1992
8 21003 2012.D3.POLSUSKA.072 HENDRA CIREBON 5/19/1989
9 20479 2012.D3.POLSUSKA.075 HERMAWAN SAPUTRA CIREBON 6/4/2012
10 19317 2012.D3.POLSUSKA.077 IMAM BAYHAQI CIREBON 10/20/1991
11 22624 2012.D3.POLSUSKA.078 IMAM SUCIPTO CIREBON 7/12/1988
12 23184 2012.D3.POLSUSKA.098 MOHAMAD ISA DIN CIREBON 7/21/1993
13 17117 2012.D3.POLSUSKA.101 MULYONO HARYANTO CIREBON 4/29/1994
14 14298 2012.D3.POLSUSKA.115 ROSIKIN CIREBON 2/15/1989
15 13649 2012.D3.POLSUSKA.122 SISWO UTOMO CIREBON 11/13/1994
16 15369 2012.D3.POLSUSKA.130 SUCIPTO MAJALENGKA 9/3/1989
17 14853 2012.D3.POLSUSKA.135 SUPARTOMO SUBANG 12/19/1989
18 16531 2012.D3.POLSUSKA.140 TAHARNO CIREBON 4/14/1993
19 15295 2012.D3.POLSUSKA.152 WAHYU ISNAPUTRA PRAHADI CIREBON 2/17/1988
20 22887 2012.D3.POLSUSKA.157 YOGA PRIYANA CIREBON 4/10/1994
DAERAH OPERASI 4 SEMARANG
LOKASI  :  RUANG MAHASE KANTOR DAOP 4 SEMARANG,  JL. M.H. THAMRIN NO.3 SEMARANG
1 14225 2012.D4.POLSUSKA.036 CATUR AGUNG RIZKY SEMARANG 11/27/1991
2 23552 2012.D4.POLSUSKA.041 DANY HANDRIAN GROBOGAN 12/22/1991
3 22604 2012.D4.POLSUSKA.054 EKA TULUS PRASETYO GROBOGAN 2/24/1988
4 23181 2012.D4.POLSUSKA.058 ELY AYASMI DEMAK 4/1/1992
5 19805 2012.D4.POLSUSKA.076 HENDRI KURNIAWAN ADI WIBOWO MAGELANG 2/21/1990
6 18608 2012.D4.POLSUSKA.078 HENDRO PRABOWO SEMARANG 6/18/1990
7 14488 2012.D4.POLSUSKA.090 KUKUH TRI ATMOJO KENDAL 6/8/1992
8 23873 2012.D4.POLSUSKA.098 MEGA MUSTIKA NURMAJID TUNTANG 1/22/1990
9 22069 2012.D4.POLSUSKA.127 RODHI NURKHUSAINI BLORA 4/15/1991
10 18084 2012.D4.POLSUSKA.134 SANDRIA TRI GARBIANTO RAHARJO TEGAL 6/7/1990
11 22859 2012.D4.POLSUSKA.145 TAUFIC ISMAIL BALIKPAPAN 6/28/1993
12 23761 2012.D4.POLSUSKA.155 WAHYU TITIS HARYANTO GROBOGAN 7/31/1989
DAERAH OPERASI 5 PURWOKERTO
LOKASI  :  AUDITORIUM UNIV. WIJAYA KUSUMA,  JL. KARANG SALAM PURWOKERTO
1 15115 2012.D5.POLSUSKA.004 ADE BAGUS HERDIANSYAH PURWOKERTO 4/12/1993
2 18000 2012.D5.POLSUSKA.005 ADHEKA RITA TUBAGIS SAPUTRI PURBALINGGA 12/18/1993
3 14880 2012.D5.POLSUSKA.010 AGUS RIYANKOMAR NUR JAMAN TEGAL 8/27/1994
4 17643 2012.D5.POLSUSKA.011 AGUSMAN PURNOMO BANYUMAS 8/20/2012
5 18736 2012.D5.POLSUSKA.017 ALDITA BAHTIAR BANYUMAS 1/15/1995
6 21599 2012.D5.POLSUSKA.024 ANGGIA ALFI SUHUR BANYUMAS 3/4/1994
7 20174 2012.D5.POLSUSKA.025 ANGGORO PANDU PRATAMA BANYUMAS 8/20/1991
8 17962 2012.D5.POLSUSKA.026 ARFAN HIDAYAT KEBUMEN 11/7/1990
9 22451 2012.D5.POLSUSKA.029 ARIF KUSTANTO BANYUMAS 8/16/1990
10 14328 2012.D5.POLSUSKA.036 ASEP SULAEMAN CIREBON 5/8/1989
11 20331 2012.D5.POLSUSKA.037 AWAL IRWANTO BANYUMAS 3/17/1989
12 19183 2012.D5.POLSUSKA.038 AWANG HARYONO BANYUMAS 1/30/1992
13 18477 2012.D5.POLSUSKA.039 AZHAR HAWARI ILYAS BANYUMAS 5/21/1992
14 18149 2012.D5.POLSUSKA.041 BAMBANG KURNIAWAN WONOSOBO 1/28/1988
15 21212 2012.D5.POLSUSKA.045 BONDAN PRIHATNOLO PURBALINGGA 5/9/1990
16 14722 2012.D5.POLSUSKA.046 BUDI CAHYO PURNOMO CILACAP 6/6/1992
17 15359 2012.D5.POLSUSKA.048 CATUR JOKO RIYADI BANYUMAS 5/7/1989
18 21347 2012.D5.POLSUSKA.052 DANI MIRANDA AGUSTIAN BANYUMAS 7/3/1992
19 17939 2012.D5.POLSUSKA.056 DENDY NUR HAKIM PURBALINGGA 3/16/1994
20 24075 2012.D5.POLSUSKA.058 DENI NOVI PRATAMA BANJARNEGARA 11/8/1991
21 20986 2012.D5.POLSUSKA.063 DONI PRAYONGKI BANYUMAS 12/23/1991
22 19585 2012.D5.POLSUSKA.066 DWI PRASETYO SAPUTRO BANJARNEGARA 7/8/1992
23 18487 2012.D5.POLSUSKA.068 EKO FAJAR BUSONO BANYUMAS 9/10/1989
24 20754 2012.D5.POLSUSKA.074 ERIK SETYO PERMADI CILACAP 9/11/1993
25 15083 2012.D5.POLSUSKA.085 GALIH PRABOWO PURWOKERTO 9/17/1992
26 22246 2012.D5.POLSUSKA.087 HANUNGGRAHA DIAN PRATAMA PURWOKERTO 12/14/1992
27 22718 2012.D5.POLSUSKA.089 HAYATULLAH HASANI YOGYAKARTA 7/20/1994
28 15990 2012.D5.POLSUSKA.091 HENDRI KURNIAWAN BANYUMAS 12/29/1989
29 20700 2012.D5.POLSUSKA.103 KHARISMA DONA IRLANDI PURBALINGGA 2/22/1994
30 22557 2012.D5.POLSUSKA.105 KOMARUDIN CILACAP 8/26/1989
31 22778 2012.D5.POLSUSKA.107 LILI INDRA PURWONO BANYUMAS 11/19/1994
32 15347 2012.D5.POLSUSKA.114 MUGI SETIYONO BANYUMAS 11/27/1991
33 17515 2012.D5.POLSUSKA.119 NOFAN PRIYANTO PURWOKERTO 11/25/1990
34 15898 2012.D5.POLSUSKA.125 PAMUJI WIDODO BANYUMAS 2/15/1991
35 15169 2012.D5.POLSUSKA.129 PRASETYO YANUAR NURCAHYO CILACAP 1/19/1992
36 18508 2012.D5.POLSUSKA.131 PRIYO ARDHI RUBIYANTO PURWOREJO 9/12/1991
37 16749 2012.D5.POLSUSKA.132 PURNOKO BANYUMAS 1/25/1991
38 19365 2012.D5.POLSUSKA.138 RIDWAN BAGUS ANJASMORO BANYUMAS 8/11/1993
39 23131 2012.D5.POLSUSKA.142 RISKIADI BANYUMAS 5/9/1992
40 16193 2012.D5.POLSUSKA.150 SHOIM HIDAYAT BANYUMAS 4/24/1991
41 22066 2012.D5.POLSUSKA.151 SIDIK ARI TRIADI BANYUMAS 2/14/1993
42 21971 2012.D5.POLSUSKA.155 SUGITO BANYUMAS 10/13/1990
43 15125 2012.D5.POLSUSKA.164 TORIQ ISMANTORO PURWOKERTO 7/10/1991
44 14517 2012.D5.POLSUSKA.174 WAHYU SETIA AJI CILACAP 12/1/1989
45 20804 2012.D5.POLSUSKA.177 WIDYATMOKO BANYUMAS 8/14/1993
46 14211 2012.D5.POLSUSKA.178 YKKA TULUS SUCI HIDAYAT BANYUMAS 3/19/1991
DAERAH OPERASI 6 YOGYAKARTA
LOKASI  :  RUANG BIMA LOKA  KANTOR DAOP 6 YOGYAKARTA  JL. LEMPUYANGAN NO.1 YOGYAKARTA
1 19924 2012.D6.POLSUSKA.015 AGUS TRIYANTO SRAGEN 4/24/1990
2 23874 2012.D6.POLSUSKA.016 AHMAD EKO MARDIANTO SUKOHARJO 10/28/2012
3 18269 2012.D6.POLSUSKA.024 ANGGA EARIESKA BOYOLALI 2/5/1988
4 22815 2012.D6.POLSUSKA.030 ARFAN YUNUS MAGELANG 6/11/1992
5 23125 2012.D6.POLSUSKA.054 DENY ADITIYA PURNOMO SLEMAN 12/8/1992
6 19064 2012.D6.POLSUSKA.055 DEWI KURNIA SURAKARTA 9/13/1991
7 18019 2012.D6.POLSUSKA.058 DIDIK NURDIYANTO KULON PROGO 5/30/1992
8 23253 2012.D6.POLSUSKA.092 HERMAWAN WIBOWO BANTUL 11/10/1989
9 19817 2012.D6.POLSUSKA.096 IMAM BUDI PRAKOSO SLEMAN 7/8/1992
10 14576 2012.D6.POLSUSKA.097 INDRA SATRIA PERMADI SITUBONDO 2/2/1988
11 21486 2012.D6.POLSUSKA.101 ISNAIN HAFID MUSTOFA KLATEN 7/3/1989
12 22705 2012.D6.POLSUSKA.103 JOKO SANTOSO KLATEN 6/11/1988
13 23498 2012.D6.POLSUSKA.106 LUCKY YUDHA PRAWIRA BANDUNG 7/15/1994
14 21119 2012.D6.POLSUSKA.112 MOHAMMAD ADNAN RIFAI GUNUNGKIDUL 3/7/1992
15 19355 2012.D6.POLSUSKA.115 MUHAMAD ANDI  WIJAYANTO TANGERANG 1/21/1992
16 17338 2012.D6.POLSUSKA.122 NUGROHO SUSANTO BANTUL 6/24/1991
17 20851 2012.D6.POLSUSKA.147 SAPTA ADITA MUNAWAR SLEMAN 11/23/1989
18 20511 2012.D6.POLSUSKA.148 SARWAN YULIANTO KLATEN 7/21/1988
19 15714 2012.D6.POLSUSKA.149 SARWO PAMBUDI KULON PROGO 9/5/1990
20 20719 2012.D6.POLSUSKA.151 SEFYAN DWI ERYANTO BANTUL 9/14/1992
21 15198 2012.D6.POLSUSKA.164 TONI WAHYONO SEMARANG 12/10/1990
22 15967 2012.D6.POLSUSKA.165 TONIE SURIANTO BANTUL 8/7/1990
23 20036 2012.D6.POLSUSKA.166 TRI BOWO DARMANTO PURWOREJO 7/6/1991
24 20133 2012.D6.POLSUSKA.167 TRI WIDODO BANTUL 5/6/1990
25 20225 2012.D6.POLSUSKA.169 TRIYAN HADI PRASETYO TULUNGAGUNG 8/16/1993
26 14941 2012.D6.POLSUSKA.175 WISNU WICAKSONO SLEMAN 5/8/1993
DAERAH OPERASI 7 MADIUN
LOKASI  :  RUANG PERTEMUAN LANTAI II KANTOR DAOP 7 MADIUN,  JL. KOMPOL SUNARYO NO. 14 MADIUN
1 21676 2012.D7.POLSUSKA.006 AGUS SEPTIAN KUDUS 9/30/1990
2 14579 2012.D7.POLSUSKA.010 ANDI PURNAMA PUTRA GIANYAR 1/28/1993
3 19462 2012.D7.POLSUSKA.030 DENI ARDIANSYAH MADIUN 9/13/1993
4 16918 2012.D7.POLSUSKA.032 DIAN PRADANA MAGETAN 12/25/1992
5 14933 2012.D7.POLSUSKA.036 DWI SUWANTO NGAWI 9/26/1992
6 21039 2012.D7.POLSUSKA.038 EKO PRIMA SAPUTRA MADIUN 3/22/1990
7 18801 2012.D7.POLSUSKA.058 JECKY SETIA NUGRAHA S. MAGETAN 7/12/1992
8 20343 2012.D7.POLSUSKA.081 RENDY CHRISTANTO MAGETAN 7/1/1991
9 14195 2012.D7.POLSUSKA.089 SONIA DWI AYU NOVIANTI MADIUN 11/29/1993
10 20776 2012.D7.POLSUSKA.092 TONIO JANU WAHANA MADIUN 1/23/1994
11 15380 2012.D7.POLSUSKA.098 WISNU WARDHANA MADIUN 10/29/1989
DAERAH OPERASI 8 SURABAYA
LOKASI  :  RUANG RAPAT LANTAI II KANTOR DAOP 8 SURABAYA, JL. GUBENG MASJID SURABAYA
1 15420 2012.D8.POLSUSKA.009 AHMAD FAUSI JEMBER 5/17/1990
2 14096 2012.D8.POLSUSKA.013 AKBAR JONI MARGIANTORO LAMONGAN 6/12/1994
3 22036 2012.D8.POLSUSKA.014 AKMAL HUDAEINI JEMBER 6/15/1993
4 19514 2012.D8.POLSUSKA.015 ANA WAHID SURYANA JEMBER 4/27/1994
5 21993 2012.D8.POLSUSKA.033 DENY DERMAWAN KEDIRI 8/30/1992
6 15515 2012.D8.POLSUSKA.035 DEWA DIPRANATA SUKOHARJO 2/13/1994
7 18489 2012.D8.POLSUSKA.039 DIMAS DICKY K GRESIK 8/11/1993
8 19039 2012.D8.POLSUSKA.040 DIMAS OKTRIAWAN RINALDY JEMBER 10/31/1990
9 20858 2012.D8.POLSUSKA.041 DONNY PURIAWAN MALANG 5/8/1994
10 13676 2012.D8.POLSUSKA.042 DONY ADITYA SAPUTRA MALANG 10/28/2012
11 22668 2012.D8.POLSUSKA.047 DZIKRI ICHLASHUL AMAL SURABAYA 12/19/1993
12 18256 2012.D8.POLSUSKA.048 ELSA NOVA WILDYANTO JEMBER 11/7/1991
13 15760 2012.D8.POLSUSKA.055 FITROH ABDUL WAHID JEMBER 3/14/1993
14 14081 2012.D8.POLSUSKA.063 HERI MUGIONO BOJONEGORO 3/5/1989
15 17533 2012.D8.POLSUSKA.072 IMAM JUWADI BLORA 12/10/1991
16 14148 2012.D8.POLSUSKA.080 KHOKO ARIANTO LAMONGAN 1/8/1992
17 23621 2012.D8.POLSUSKA.084 M FAUZI ANDI WIJAYA LAMONGAN 7/18/1993
18 15830 2012.D8.POLSUSKA.092 MOH NANANG SYAIFULLOH JEMBER 8/18/1990
19 21093 2012.D8.POLSUSKA.094 MOH. YUSUF PASURUAN 11/19/1989
20 14275 2012.D8.POLSUSKA.097 MOKHAMAD RIZKI KURNIAWAN SIDOARJO 6/4/1992
21 15204 2012.D8.POLSUSKA.101 MUHAMMAD APRI ROMADHONI SIDOARJO 4/1/1991
22 17991 2012.D8.POLSUSKA.111 NANANG SURIADI PASURUAN 3/10/1992
23 14244 2012.D8.POLSUSKA.115 NUR CAHYONO LAMONGAN 8/18/1994
24 22943 2012.D8.POLSUSKA.124 RIAN DHIKA ASMARA PUTRA MAGETAN 1/20/1993
25 13779 2012.D8.POLSUSKA.127 RIKKY JANUARSAM P.D MOJOKERTO 1/28/1990
26 17366 2012.D8.POLSUSKA.130 RIZA FAUZI JEMBER 6/25/1989
27 22415 2012.D8.POLSUSKA.135 RONY PRAYUGO SIDOARJO 6/21/1990
28 15203 2012.D8.POLSUSKA.144 SOBIUL AHMAD TUBAN 12/19/1990
29 20638 2012.D8.POLSUSKA.149 SUSI KHOMARIYAH LAMONGAN 3/2/1990
30 20949 2012.D8.POLSUSKA.150 SYAIFUL PRATITIS KLATEN 3/18/1994
31 14011 2012.D8.POLSUSKA.153 TEGUH PRASETYO LAMONGAN 2/20/1994
32 21365 2012.D8.POLSUSKA.156 TITO YANUAR D PRATAMA MOJOKERTO 1/18/1990
33 19650 2012.D8.POLSUSKA.158 VATRA RIAU BUDI SAMPURNA MALANG 4/7/2012
34 23750 2012.D8.POLSUSKA.170 YUDI KRISTIAWAN GRESIK 9/26/1990
SUB DIVISI REGIONAL III.1 KERTAPATI
LOKASI  :  KANTOR SUB DIVRE III.1 KERTAPATI,  JL. STASIUN NO.2 KERTAPATI PALEMBANG
1 16892 2012.KPT.POLSUSKA.009 AFFANDI KURNIAWAN PALEMBANG 4/18/1994
2 16477 2012.KPT.POLSUSKA.024 APRIYADI PALEMBANG 4/18/1989
3 19083 2012.KPT.POLSUSKA.033 ASEP ADE SAPUTRA LUBUK LINGGAU 7/22/1992
4 14031 2012.KPT.POLSUSKA.042 BENI HIDAYAT PALEMBANG 12/13/1993
5 17012 2012.KPT.POLSUSKA.043 BERRY PURNA NUGRAHA PALEMBANG 10/2/1994
6 14683 2012.KPT.POLSUSKA.048 DEDEK APRIYANSYAH PALEMABNG 11/6/1990
7 22071 2012.KPT.POLSUSKA.065 FERDIANSYAH EKA SAPUTRA PALEMBANG 2/28/1989
8 22990 2012.KPT.POLSUSKA.085 JUNAIDI PALEMBANG 11/25/1993
9 13669 2012.KPT.POLSUSKA.093 M. RUNZUL FAHMI PALEMBANG 11/4/1990
10 14323 2012.KPT.POLSUSKA.102 MUHAMMAD ABDULLAH SEI LIAT-BANGKA 10/5/1990
11 14104 2012.KPT.POLSUSKA.109 MUHAMMAD KURNIAWAN PALEMBANG 11/5/1993
12 15892 2012.KPT.POLSUSKA.110 MUHAMMAD PURWADI PALEMBANG 10/28/1990
13 18601 2012.KPT.POLSUSKA.120 RAHMAD KURNIAWAN PALEMBANG 11/3/1989
14 21031 2012.KPT.POLSUSKA.134 RICKY WIJAYA PALEMBANG 5/17/1988
15 14934 2012.KPT.POLSUSKA.141 SAHRUL HAMIDI PALEMBANG 6/15/1990
16 21922 2012.KPT.POLSUSKA.142 SAMSUDIN PALEMBANG 4/19/1993
17 19638 2012.KPT.POLSUSKA.146 SUHERMANTO PALEMBANG 4/15/1992
SUB DIVISI REGIONAL III.2 TANJUNGKARANG
LOKASI :  KANTOR PT. KAI (PERSERO) SUB DIVRE III.2 TANJUNGKARANG, JL. TEUKU UMAR NO.23 BANDAR LAMPUNG
1 22940 2012.TNK.POLSUSKA.001 ACHMAD IRFAN HERANDI SUKANA BANDAR LAMPUNG 7/28/2012
2 18914 2012.TNK.POLSUSKA.017 ANGGA RIZKI PRATAMA BOGOR 12/21/1993
3 18531 2012.TNK.POLSUSKA.020 APRIDONA TANJUNG TIGA 10/3/1988
4 19104 2012.TNK.POLSUSKA.032 BIMA ARISTA TANJUNG KARANG 4/16/1994
5 15162 2012.TNK.POLSUSKA.033 BUDIANSYAH BATURAJA 11/16/1990
6 19600 2012.TNK.POLSUSKA.035 CANDRA PRAMANA PUTRA BATURAJA 9/10/1989
7 16900 2012.TNK.POLSUSKA.050 DONNY RIO SAPUTRA BANDAR LAMPUNG 12/17/1990
8 13872 2012.TNK.POLSUSKA.052 EKO ARIYANTO ADIPURO 5/4/1990
9 23156 2012.TNK.POLSUSKA.062 FADILLAH ROMADON BANDAR LAMPUNG 3/18/1993
10 21369 2012.TNK.POLSUSKA.063 FAJAR ADE ANUGRAH BANDAR LAMPUNG 4/12/1993
11 22323 2012.TNK.POLSUSKA.064 FEBRI SUSILO SEPUTIH BANYAK 2/13/1992
12 17193 2012.TNK.POLSUSKA.067 FERY ADI IRAWAN BANDAR LAMPUNG 2/9/1990
13 14411 2012.TNK.POLSUSKA.073 HENDRI GUNAWAN BANDAR LAMPUNG 11/29/1989
14 18744 2012.TNK.POLSUSKA.076 HENGKY FERNANDO BATURAJA 9/3/1992
15 17179 2012.TNK.POLSUSKA.077 HERI SEPTIADI BATURAJA 9/15/1992
16 21318 2012.TNK.POLSUSKA.079 HETTI SAKARINDA BANDAR LAMPUNG 4/30/1988
17 22190 2012.TNK.POLSUSKA.085 JUNI ISKANDAR TAMBAH MULYO 6/16/1992
18 14663 2012.TNK.POLSUSKA.089 LUTHFI ADAM JAKARTA 4/11/1994
19 18659 2012.TNK.POLSUSKA.105 NAKA BONE MARTAPURA,OKU TIMUR 5/2/1989
20 16993 2012.TNK.POLSUSKA.108 NICO JUJUREN PRIMA SEMBIRING MEDAN 6/2/1991
21 16113 2012.TNK.POLSUSKA.109 NIGA NOPARIYANTO TANJUNG KARANG 11/18/1989
22 17733 2012.TNK.POLSUSKA.110 NIKKO HENDI PRATAMA KALIREJO 6/16/1993
23 15445 2012.TNK.POLSUSKA.113 NUR IMAN JAYANTO KOTABUMI 7/30/1994
24 19172 2012.TNK.POLSUSKA.114 NURUL HIDAYAT BANDAR LAMPUNG 3/8/1992
25 21698 2012.TNK.POLSUSKA.116 OKTA KURNIA PUTRA BANDAR LAMPUNG 10/17/1991
26 17316 2012.TNK.POLSUSKA.117 OKTA MAHARLIKA BATURAJA 10/20/1990
27 20853 2012.TNK.POLSUSKA.123 RENDY FERRIE VERNANDO BANDAR LAMPUNG 5/18/1993
28 21040 2012.TNK.POLSUSKA.125 RESTU SAPUTRA NEGARARATU 10/19/1992
29 17680 2012.TNK.POLSUSKA.127 RICO JULIYANTO BANDAR LAMPUNG 7/28/1993
30 21197 2012.TNK.POLSUSKA.129 RIFAL ERFANIKA BANDAR LAMPUNG 5/31/1994
31 21962 2012.TNK.POLSUSKA.141 ROMMY WAHYU SAPUTRA TANJUNG HARAPAN 5/5/1994
32 15033 2012.TNK.POLSUSKA.146 RYAN MAULANA AZIS TANJUNG KARANG 9/20/1989
33 14103 2012.TNK.POLSUSKA.152 SOFYAN CAHYADI OGAN LIMA 6/18/1993
34 21684 2012.TNK.POLSUSKA.160 TITO FERDIANTHO PRATAMA BANDAR LAMPUNG 4/19/1992
35 21748 2012.TNK.POLSUSKA.172 YOSUA MARTUA SIANTURI OKU TIMUR 3/14/1989
36 22004 2012.TNK.POLSUSKA.178 YUPERLY PALEMBANG 5/24/1989

 

Published on 27 Nov 2012

INFORMASI SERTIFIKASI DEPAG/KEMENAG 2013

INFORMASI PENDAFTARAN SERTIFIKASI DEPAG/KEMENAG 2013

PENDAFTARAN CALON PESERTA SERITIFIKASI DEPAG/KEMENAG 2013 AKAN BERAKHIR

SEGERA DAFTARKAN DIRI ANDA DI KANTOR KEMENAG KABUPATEN/KOTA MASING-MASING

DOWNLOAD BERKAS YANG BERKAIATAN DENGAN PENDAFTARAN CALON PESERTA SERTIFIKASI KEMENAG 2013 DI BAWAH INI :

 

Formulir A.1

Formulir A.2

FORMULIR A1 (EXCEL)

FORMULIR A2 (EXCEL)

MAHIR ZEN = INSYA ALLAH

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI TAHAP II (TES KESEHATAN FISIK) REKRUT EKSTERNAL UNTUK CUSTOMER SERVICE TINGKAT DIPLOMA III (D3) TAHUN 2012

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI TAHAP II (TES KESEHATAN FISIK) REKRUT EKSTERNAL UNTUK CUSTOMER SERVICE TINGKAT DIPLOMA III (D3) TAHUN 2012

Kembali
Diberitahukan pada peserta Rekrut Eksternal Untuk Customer Service Tingkat Diploma III (D3) Tahun 2012 Di Lingkungan PT. Kereta Api Indonesia (Persero), yang dinyatakan Lulus dan mengikuti Seleksi Tahap III (Tes Psikologi dan Tes Wawancara) sebagaimana daftar terlampir di bawah ini.

Pelaksanaan Tes Psikologi pada :

Hari, Tanggal : Sabtu, 24 November 2012
Pukul : 07.00 WIB s/d selesai
Lokasi Tes

 

: Auditorium Kantor Pusat PT. Kereta Api Indonesia (Persero)
Jl. Perintis Kemerdekaan No.1 Bandun

Pelaksanaan Tes Wawancara pada :

Hari, Tanggal : Selasa, 27 November 2012
Pukul : 07.00 WIB s/d selesai
Lokasi Tes

 

: Auditorium Kantor Pusat PT. Kereta Api Indonesia (Persero)
Jl. Perintis Kemerdekaan No.1 Bandung
Ketentuan : 1. Setiap peserta harap membawa KARTU PESERTA yang telah dicetak melalui website http://rekrut.kereta-api.co.id
2. Pada saat mengikuti seleksi tahap III. peserta wajib bersepatu dan berpakaian : kemeja putih. celana warna hitam/gelap.
3. Membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Bukti Identitas lain yang masih berlaku.
4. Peserta membawa alat tulis berupa Pensil 2B, HB, Penghapus dan Pulpen
Keterangan : Penetapan Kelulusan Seleksi Tahap III (Tes Psikologi dan Tes Wawancara) akan diumumkan pada tanggal 3 Desember 2012 melalui website http://rekrut.kereta-api.co.id/

 

NO NO REGISTER NO TEST NAMA LENGKAP TEMPAT LAHIR TGL LAHIR
1 9120 2012.KP.CS.012 ANNISA YUANTRI BANDUNG 11/18/1988
2 12933 2012.KP.CS.022 CAHYA PRASETYA UTOMO KLATEN 5/9/1989
3 484 2012.KP.CS.026 DAVIQ HUDA NUR HAKIM SEMARANG 8/11/1989
4 11390 2012.KP.CS.032 DICKY ERVYANTO SEMARANG 7/17/1987
5 11885 2012.KP.CS.044 HERI KRISTIANTORO BEKASI 12/25/1987
6 2640 2012.KP.CS.052 KHARA PUTRA KUSMAHADI BANDUNG 11/19/1989
7 12998 2012.KP.CS.055 LUCYANA E U SIAHAAN TIGALINGGA 9/11/1989
8 6129 2012.KP.CS.066 NILA AMALIAH SEMARANG 11/22/1988
9 11994 2012.KP.CS.077 R. RIFKY RUSTAMAJI WINIARTO SEMARANG 9/22/1990
10 7424 2012.KP.CS.081 RIAN HABIBI KUNINGAN 5/3/1991
11 13181 2012.KP.CS.085 RICKY YOGATAMA SLEMAN 7/6/1989
12 6171 2012.KP.CS.104 USEP RAHMAT DARMAWAN BANDUNG 3/15/1991
13 5078 2012.KP.CS.105 VITA MARSHINTA DEWI CILACAP 7/24/1991
14 3233 2012.KP.CS.009 ANA ISWARI SLEMAN 5/4/1990
15 122 2012.KP.CS.013 ARI ISMAYANTI CIANJUR 2/7/1990
16 11461 2012.KP.CS.036 ELLINA INTAN SEPTININGTYAS SUKOHARJO 9/10/1991
17 2347 2012.KP.CS.058 MEGA DAYA MUSTIKA BREBES 6/11/1990
18 11720 2012.KP.CS.064 MUKHODIMAH CIREBON 7/6/1989
19 12828 2012.KP.CS.080 RIA SETYA RAHAYU GRESIK 10/25/1990
20 9456 2012.KP.CS.096 SHINTA GUNUNG MERAKSA BR 12/19/1988

 

Published on 20 Nov 2012

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI TAHAP III (TES WAWANCARA) REKRUTMEN EKSTERNAL UNTUK MASINIS TINGKAT SLTA TAHUN 2012

Diberitahukan pada peserta Rekrut Eksternal Untuk Masinis Tingkat SLTA Tahun 2012 Di Lingkungan PT. Kereta Api Indonesia (Persero), yang dinyatakan Lulus dan mengikuti Seleksi Tahap IV (Tes Kesehatan) sebagaimana daftar terlampir di bawah ini
Pelaksanaan Tes Kesehatan pada :
Hari : Rabu dan Kamis (sesuai daftar terlampir)
Tanggal : 21 dan 22 November 2012 (sesuai daftar terlampir)
Pukul : 06.30 WIB s/d selesai
Lokasi Tes : Sesuai Daftar Terlampir
Ketentuan : 1. Setiap peserta harap membawa KARTU PESERTA.
2. Pada saat mengikuti seleksi tahap IV. peserta wajib bersepatu dan berpakaian : kemeja putih. celana warna hitam/gelap.
3. Membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Bukti Identitas lain yang masih berlaku.
4. Peserta diwajibkan berpuasa pada pukul 22.00 wib sampai dengan pemeriksaan kesehatan laboratorium (tidak boleh makan, mengkonsumsi obat-obatan dan minum kecuali minum air putih)
Keterangan : Penetapan Kelulusan Seleksi Tahap IV (Tes Kesehatan) akan diumumkan pada tanggal 29 November 2012 melalui website http://rekrut.kereta-api.co.id/

DOWNLOAD HASIL SELEKSI TAHAP III MASINIS PT KAI 2012
PENGUMUMAN HASIL SELEKSI TAHAP III MASINIS PT KAI 2012

NO NO REG NO TEST NAMA TEMPAT LAHIR TGL LAHIR
DAERAH OPERASI 1 JAKARTA
TGL, 21 NOPEMBER 2012 PUKUL : 06.30 WIB (TES KESEHATAN LABORATORIUM)
TGL,  22 NOPEMBER 2012 PUKUL : 06.30 WIB (TES KESEHATAN FISIK)
LOKASI : UNIT KESEHATAN AREA 1 JAKARTA  JL. BUKIT DURI PUTERAN NO.1 MANGGARAI JAKARTA SELATAN
1 1158 2012.MAS.DI.003 ABDUL JAFAR TEGAL 2/6/1993
2 2239 2012.MAS.DI.004 ABDUL KOMAR BOGOR 12/22/1987
3 483 2012.MAS.DI.007 ABDUL ZALIL BLORA 3/28/1988
4 7491 2012.MAS.DI.018 ACHMAD IKHSAN FADILAH JAKARTA 3/10/1988
5 4425 2012.MAS.DI.026 ACHMAD ZARKASIH SIDOARJO 2/10/1992
6 6196 2012.MAS.DI.027 ADE ACHDIAT ARDIADI GARUT 12/16/1990
7 2293 2012.MAS.DI.029 ADE FIRMANSYAH CIREBON 6/24/1992
8 11605 2012.MAS.DI.038 ADI BASUKI CIAMIS 10/9/1991
9 2820 2012.MAS.DI.044 ADI SUCIPTO NUGROHO TEGAL 10/29/1992
10 6052 2012.MAS.DI.051 ADITYA NUGRAHA PATI 4/1/1989
11 4871 2012.MAS.DI.060 AGUNG HUTAMA PUTRA KULONPROGO 11/12/1988
12 2100 2012.MAS.DI.066 AGUNG WAHYU WIBOWO BEKASI 9/22/1989
13 3380 2012.MAS.DI.069 AGUS ABDULAH BANYUMAS 8/10/1990
14 2143 2012.MAS.DI.073 AGUS DARMAWAN MAGETAN 12/21/1987
15 8282 2012.MAS.DI.076 AGUS LAKSONO SURAKARTA 8/31/1989
16 423 2012.MAS.DI.087 AGUS SUROTO BLORA 8/19/1989
17 1138 2012.MAS.DI.089 AGUS SUTISNA SERANG 8/30/1991
18 2514 2012.MAS.DI.090 AGUS TRI LEKSONO BREBES 8/24/1993
19 864 2012.MAS.DI.097 AHMAD FAJAR CIREBON 5/11/1993
20 8843 2012.MAS.DI.105 AHMAD SUTRISNO TEGAL 5/26/1990
21 5622 2012.MAS.DI.115 AJI YULIAN USMAN TEGAL 7/3/1990
22 2017 2012.MAS.DI.127 ALAN KASTOLANI CIREBON 10/3/1993
23 11988 2012.MAS.DI.130 ALEX FANDY KHUSUMA MAGETAN 9/2/1989
24 9998 2012.MAS.DI.143 AMIN TEGAL 10/27/1987
25 2580 2012.MAS.DI.147 ANAS NUR WAHID MADIUN 4/20/1991
26 1883 2012.MAS.DI.172 ANDRIANSYAH BOGOR 12/12/1987
27 2930 2012.MAS.DI.178 ANDYKA DADANG ALRIANSYAH TEGAL 11/19/1993
28 2428 2012.MAS.DI.180 ANGGER WIJAYANTO JAKARTA 7/29/1991
29 272 2012.MAS.DI.188 ANJAR INDRA PRIYANTO PURWOREJO 3/23/1992
30 7257 2012.MAS.DI.189 ANJAR KIRMAWAN SURAKARTA 1/30/1988
31 1290 2012.MAS.DI.191 ANTON SUDARSONO KEDIRI 10/18/1992
32 4027 2012.MAS.DI.193 APRIAGA DAVID TRISTANTO JAKARTA 4/10/1988
33 2886 2012.MAS.DI.202 ARI DWI SAPTHOMO JAKARTA 9/24/1992
34 11491 2012.MAS.DI.210 ARI WIDODO BANYUMAS 2/22/1991
35 6298 2012.MAS.DI.221 ARIF RAGIL SETIYA AJI BANJARNEGARA 12/23/1987
36 1670 2012.MAS.DI.239 ASEP SARIPUDIN BEKASI 5/19/1993
37 9461 2012.MAS.DI.241 ASEP SUSANTO CIREBON 1/23/1989
38 6939 2012.MAS.DI.252 AZIS AGUS SAPUTRA BANTUL 8/18/1987
39 6814 2012.MAS.DI.254 AZIZ AWALUDIN BEKASI 12/15/1991
40 3143 2012.MAS.DI.255 BAGUS AJI SANTOSO SIDOARJO 12/7/1990
41 11220 2012.MAS.DI.260 BAGUS SETIADI SURABAYA 8/14/1992
42 1253 2012.MAS.DI.264 BAMBANG SUGIONO KUTA PINANG 1/18/1990
43 560 2012.MAS.DI.268 BARITA HAMONANGAN SINAGA RONDANG 1/12/1991
44 11124 2012.MAS.DI.271 BAYU IRAWAN BANTUL 7/3/1992
45 8968 2012.MAS.DI.273 BAYU KRISTIYANTO PURWOREJO 3/5/1990
46 10558 2012.MAS.DI.281 BISRI LATIF MUSTOFA BANTUL 6/21/1988
47 329 2012.MAS.DI.296 CATUR AGUS SETIAWAN SURABAYA 8/17/1990
48 10419 2012.MAS.DI.299 CECEP SUPRIYADI CIREBON 11/7/1986
49 8373 2012.MAS.DI.317 DASWITA CIREBON 7/17/1987
50 2703 2012.MAS.DI.332 DEDI HARTANTO PEKALONGAN 12/28/1992
51 10879 2012.MAS.DI.343 DENI NOVI PRATAMA BANJARNEGARA 11/8/1991
52 1942 2012.MAS.DI.360 DIAN PRAMONO BREBES 3/18/1990
53 7958 2012.MAS.DI.362 DIDI SAPUTRA KAB. CIREBON 11/15/1988
54 3820 2012.MAS.DI.363 DIDI SUHADI PURWAKARTA 9/10/1988
55 1937 2012.MAS.DI.370 DIKY ARIESTIAN RANGKASBITUNG 4/13/1988
56 11496 2012.MAS.DI.372 DIMAS DWI DARMAWAN LAMONGAN 1/21/1993
57 4067 2012.MAS.DI.380 DIMAS WIDYANTORO NGAWI 8/27/1994
58 9909 2012.MAS.DI.382 DINAR AKHMAD TRIFANA KARANGANYAR 6/23/1994
59 8573 2012.MAS.DI.399 DWI APRIADE HERMAWAN BANYUMAS 4/6/1990
60 3691 2012.MAS.DI.403 DWI HARI ANDRIYANTO BANYUMAS 10/8/1990
61 11773 2012.MAS.DI.405 DWI HARSONO MADIUN 4/13/1994
62 378 2012.MAS.DI.406 DWI HARYANTO KULON PROGO 3/26/1985
63 5862 2012.MAS.DI.410 DWI NUR WIBOWO MAGETAN 3/23/1991
64 1325 2012.MAS.DI.411 DWI PURNIAWAN BLITAR 5/7/1993
65 10349 2012.MAS.DI.413 DWI WIDIYANTO PURWOREJO 3/4/1992
66 13965 2012.MAS.DI.415 DWIYANTO BOYOLALI 2/24/1995
67 570 2012.MAS.DI.421 EDWIN EKO APRILIANTO TULUNGAGUNG 4/13/1992
68 3535 2012.MAS.DI.422 EDY CAHYONO REMBANG 11/18/1993
69 2738 2012.MAS.DI.426 EGAR HADI SAPUTRA BOGOR 10/10/1991
70 6485 2012.MAS.DI.429 EKA BANGUN PURNOMO BANYUMAS 9/12/1991
71 5952 2012.MAS.DI.433 EKA NUGRAHA KUNINGAN 1/12/1991
72 4784 2012.MAS.DI.437 EKO HIMAWAN SASONGKO KUNINGAN 3/8/1989
73 11563 2012.MAS.DI.440 EKO SAPUTRA MEDAN 11/1/1992
74 7919 2012.MAS.DI.441 EKO SUPRIYADI KULON PROGO 1/8/1989
75 5158 2012.MAS.DI.454 FADJAR ARI SETIADJI JAKARTA 3/6/1987
76 1196 2012.MAS.DI.458 FAJAR HENDRIKA KEBUMEN 4/5/1988
77 4170 2012.MAS.DI.459 FAJAR ISMAIL BOGOR 6/20/1991
78 2689 2012.MAS.DI.467 FATHAR AZMI JAKARTA 3/20/1995
79 7641 2012.MAS.DI.468 FATHIR SUPRIYONO CILACAP 1/19/1990
80 8111 2012.MAS.DI.469 FATKHURROHMAN KEBUMEN 11/11/1992
81 1738 2012.MAS.DI.472 FENDY PRATAMA WONOGIRI 7/8/1990
82 7764 2012.MAS.DI.475 FERI ANDIANTO SAPUTRO MADIUN 2/8/1994
83 7034 2012.MAS.DI.479 FERRI ADE SANTO BEKASI 2/8/1992
84 7620 2012.MAS.DI.506 GESIT PRADANA BEKASI 6/15/1989
85 7246 2012.MAS.DI.514 HADI PRAYITNO KEBUMEN 5/21/1991
86 776 2012.MAS.DI.530 HARTANTO BOYOLALI 7/31/1990
87 12770 2012.MAS.DI.537 HASAN BASRI CIREBON 5/20/1987
88 2076 2012.MAS.DI.548 HENDRA SETIAWAN KEBUMEN 10/27/1990
89 4870 2012.MAS.DI.574 IAN JUSTIAN CIAMIS 3/9/1989
90 9931 2012.MAS.DI.582 IDHAM KAMARULLAH JAKARTA 10/24/1989
91 13454 2012.MAS.DI.588 ILHAM FRADITRA AFDILLAH MEDAN 11/30/1993
92 4090 2012.MAS.DI.592 IMAM ARIFIN KEBUMEN 10/31/1990
93 6588 2012.MAS.DI.597 IMRON HARTANTO KULON PROGO 1/17/1994
94 7847 2012.MAS.DI.600 INDRA JAMALUDIN GARUT 12/18/1992
95 7868 2012.MAS.DI.607 IRFAN YULIANTO BANYUMAS 7/19/1988
96 2747 2012.MAS.DI.620 IWAN FAUZI PEMALANG 10/5/1990
97 8477 2012.MAS.DI.623 JAFAR LUKMAN CIAMIS 1/9/1988
98 5577 2012.MAS.DI.625 JAKA PERMANA JAKARTA 9/10/1989
99 9160 2012.MAS.DI.637 JUANDA ANDRIAN JAKARTA 7/5/1990
100 1642 2012.MAS.DI.646 KELANA KARNA CIREBON 3/5/1987
101 4916 2012.MAS.DI.659 KURNIA ADI PUTRA BANYUMAS 7/11/1990
102 2475 2012.MAS.DI.666 LUH YOGI AL AZAR BREBES 11/10/1990
103 8389 2012.MAS.DI.686 MA1RUF DZIKRULLOH KEBUMEN 1/14/1995
104 4685 2012.MAS.DI.694 MAMAY KOMARUDIN SUMEDANG 1/7/1988
105 698 2012.MAS.DI.703 MATHEUS CLINTON BUTARBUTAR DEPOK 1/12/1994
106 2034 2012.MAS.DI.711 MIFTAKH FARID BREBES 8/26/1989
107 7849 2012.MAS.DI.719 MOCHAMAD FAUZI KEBUMEN 7/9/1990
108 13753 2012.MAS.DI.724 MOCHAMMAD APRIUNFU SUBCHI TEGAL 4/3/1993
109 1531 2012.MAS.DI.736 MOHAMAD NURU DAROJAT CIREBON 10/2/1992
110 2298 2012.MAS.DI.737 MOHAMAD SUBEKHI TEGAL 2/7/1991
111 393 2012.MAS.DI.738 MOHAMAD YOGIE HERTANTO CIREBON 5/14/1988
112 205 2012.MAS.DI.745 MUADI CIREBON 9/22/1989
113 12090 2012.MAS.DI.747 MUCHAMAD ROFIK TEGAL 1/10/1986
114 12213 2012.MAS.DI.748 MUCHAMMAD YUNUS MAGELANG 1/19/1989
115 502 2012.MAS.DI.755 MUHAMAD AGUS HARTONO CIREBON 8/17/1994
116 1190 2012.MAS.DI.756 MUHAMAD AKMALUDIN JIDNI SERANG 7/23/1994
117 7739 2012.MAS.DI.762 MUHAMAD IDRIS GARUT 12/24/1989
118 1610 2012.MAS.DI.764 MUHAMAD IQBAL JAKARTA 8/15/1988
119 9209 2012.MAS.DI.782 MUHAMMAD ARIFIN JAKARTA 2/27/1992
120 4303 2012.MAS.DI.804 MUKHAMAD ARISTO PEKALONGAN 10/16/1992
121 3009 2012.MAS.DI.821 NANANG SETIYAWAN SRAGEN 9/5/1992
122 7008 2012.MAS.DI.823 NANDA WAHYU WIDODO TANGERANG 9/11/1994
123 5723 2012.MAS.DI.825 NASHIHUN IBNU ABBAS BEKASI 2/4/1991
124 6068 2012.MAS.DI.826 NASIH JANAN HANIEF KEBUMEN 4/19/1990
125 12063 2012.MAS.DI.828 NATSIR ALBANA TEGAL 7/11/1988
126 8021 2012.MAS.DI.836 NOPA DITIA PUTRA SEMARANG 11/1/1989
127 1654 2012.MAS.DI.837 NOPI SUSANTO CIANJUR 11/14/1993
128 2523 2012.MAS.DI.844 NUGRAHA ADI PUTRA CILEGON 3/9/1988
129 3840 2012.MAS.DI.848 NURCAHYO EKO PRASETYO MALANG 6/7/1990
130 1330 2012.MAS.DI.855 NURUL FIRDAUS CIREBON 6/15/1990
131 178 2012.MAS.DI.865 OKTARIYANTO EKO SAPUTRO SRAGEN 10/5/1993
132 8196 2012.MAS.DI.870 PAMUNGKAS ARIWIBOWO CILACAP 1/21/1990
133 8818 2012.MAS.DI.890 PURWO SETIO ADI KEBUMEN 8/29/1988
134 2727 2012.MAS.DI.922 REVAN KUSWENDI BREBES 2/4/1986
135 2114 2012.MAS.DI.936 RIDWANSYAH JAKARTA 6/14/1993
136 9604 2012.MAS.DI.941 RILISTYAN ADI WIBOWO PURWOKERTO 4/24/1987
137 13255 2012.MAS.DI.945 RINGGA HELSA PUTRA BANJARNEGARA 11/19/1988
138 5089 2012.MAS.DI.956 RIYADI SLEMAN 5/9/1991
139 2865 2012.MAS.DI.957 RIYADI KEBUMEN 8/26/1991
140 8055 2012.MAS.DI.958 RIYAN TRI PRABOWO GROBOGAN 4/28/1993
141 8140 2012.MAS.DI.960 RIYANTINO JOKO SAPUTRO MAGELANG 3/12/1994
142 11566 2012.MAS.DI.963 RIZDIN AHMAD FARIZI BOGOR 6/11/1989
143 12009 2012.MAS.DI.966 RIZKI FAJAR UTOMO PEMALANG 5/3/1994
144 924 2012.MAS.DI.971 RIZKI ZAKARIA JAKARTA 3/28/1991
145 4669 2012.MAS.DI.973 RIZKY SIGIT ADIPUTRA JAKARTA 2/25/1994
146 13054 2012.MAS.DI.982 ROKHIWAN BANYUMAS 12/17/1988
147 3139 2012.MAS.DI.983 ROMY GINAWANSYAH CIREBON 12/21/1994
148 4564 2012.MAS.DI.987 RONI RAISMAN BANDUNG 8/28/1992
149 2752 2012.MAS.DI.993 RUDI PERDIANSAH BOGOR 8/14/1992
150 6152 2012.MAS.DI.998 RUDI WIBOWO JAKARTA 6/26/1993
151 7187 2012.MAS.DI.999 RUDY FRIMA JAKARTA 4/10/1989
152 9661 2012.MAS.DI.1004 RUSMAWI SUBANG 12/8/1985
153 4856 2012.MAS.DI.1005 RUSTAMI ASNAN KEBUMEN 9/12/1989
154 6659 2012.MAS.DI.1028 SAPTAMA DWI PUTRA SLEMAN 9/17/1991
155 307 2012.MAS.DI.1035 SENDI AKHMAD FAUZY 21 SEPTEMBER 1989 9/21/1989
156 3495 2012.MAS.DI.1052 SIGIT NUGROHO SEMARANG 3/1/1990
157 600 2012.MAS.DI.1055 SIGIT SURYANTO GUNUNGKIDUL 3/16/1988
158 2485 2012.MAS.DI.1067 SOIMUL HIDAYAT KENDAL 5/10/1986
159 5682 2012.MAS.DI.1075 SUDARMONO GUNUNGKIDUL 12/11/1987
160 3832 2012.MAS.DI.1077 SUGENG MADIUN 7/5/1990
161 13810 2012.MAS.DI.1104 SYAIDINA ALI BOGOR 1/14/1994
162 9881 2012.MAS.DI.1118 TEJO INDRA GUNAWAN BOGOR 9/25/1993
163 188 2012.MAS.DI.1121 TOFAN ANGGORO MADIUN 5/7/1991
164 2191 2012.MAS.DI.1126 TOPAN HARIMURTI MADIUN 12/2/1992
165 7059 2012.MAS.DI.1135 TRI NUGROHO KEBUMEN 9/6/1993
166 3857 2012.MAS.DI.1137 TRI WAHYUDI KEBUMEN 6/14/1987
167 293 2012.MAS.DI.1139 TRI WIDODO SRAGEN 1/12/1989
168 6051 2012.MAS.DI.1140 TRIASMOKO RAGIL ERLANDO BREBES 8/22/1988
169 6125 2012.MAS.DI.1152 UNTUNG ARPIT SETIAWAN JAKARTA 6/14/1994
170 8781 2012.MAS.DI.1156 WAHYU ADITAMA CILACAP 9/17/1991
171 7439 2012.MAS.DI.1159 WAHYU BAGUS TRIYANTO BANYUMAS 9/1/1991
172 637 2012.MAS.DI.1174 WAHYUDI NUR DIANTORO BLORA 12/9/1994
173 8049 2012.MAS.DI.1176 WAHYUDIN GARUT 5/15/1986
174 4741 2012.MAS.DI.1178 WARSA BOGOR 5/28/1986
175 8446 2012.MAS.DI.1186 WIDYATMOKO BANYUMAS 8/14/1993
176 11970 2012.MAS.DI.1189 WINDY EKA PRASETYA SURABAYA 7/4/1994
177 9264 2012.MAS.DI.1191 WISHNU WURYARADYA BLORA 10/2/1992
178 4507 2012.MAS.DI.1199 YANUAR ARIEF BHASKARA CILACAP 1/9/1991
179 7981 2012.MAS.DI.1204 YAPTO WIYONO TANGERANG 7/5/1994
180 11663 2012.MAS.DI.1205 YAYAN HARI PRAMANA BANYUMAS 1/2/1995
181 6979 2012.MAS.DI.1206 YAYAN SOPIAN GARUT 6/28/1988
182 2333 2012.MAS.DI.1209 YOGA PRAMANA PURWOKERTO 8/23/1986
183 8474 2012.MAS.DI.1216 YOSEF ARYA PUTRANTO YOGYAKARTA 9/13/1989
184 3167 2012.MAS.DI.1217 YUDHA FRADELLA NUGRAHA KLATEN 8/17/1989
185 2504 2012.MAS.DI.1220 YUDI RUSTANDI BOGOR 7/18/1987
186 8861 2012.MAS.DI.1223 YUGO GINANJAR KEBUMEN 7/24/1991
187 6828 2012.MAS.DI.1227 YUNIARTO HAMIDIANSYAH BOGOR 6/3/1991
188 968 2012.MAS.DI.1233 YUSUF SEPTIAN ADITOMO SEMARANG 9/17/1991
189 6777 2012.MAS.DI.1234 YUSUF SOFYAN GARUT 4/7/1992
190 11786 2012.MAS.DI.1236 ZAENAL ABIDIN SEMARANG 7/2/1990
191 4745 2012.MAS.DI.1243 ZANUARDI NUGROHO JATI SLEMAN 1/2/1993
SUB DIVISI REGIONAL III.2 TANJUNGKARANG
TGL, 21 NOPEMBER 2012 PUKUL : 06.30 WIB (TES KESEHATAN LABORATORIUM)
TGL,  22 NOPEMBER 2012 PUKUL : 06.30 WIB (TES KESEHATAN FISIK)
LOKASI : UNIT KESEHATAN AREA 12 TANJUNGKARANG,  JL. KOTARAJA NO.1 TANJUNGKARANG BANDAR LAMPUNG
1 8632 2012.TNK.MAS.005 ABDUL ROSID BANJAR NEGERI 3/23/1986
2 8730 2012.TNK.MAS.009 ADE RIZKI WIBOWO TANJUNG KARANG 12/28/1993
3 11296 2012.TNK.MAS.012 ADEI  DEADEI  GUNAWAN M.A BANDAR LAMPUNG 7/9/1990
4 3001 2012.TNK.MAS.022 ADITYA SAPTO PRABOWO BANDAR LAMPUNG 8/18/1992
5 325 2012.TNK.MAS.033 AGUNG BAROKAH LAMPUNG 10/3/1992
6 412 2012.TNK.MAS.037 AGUNG PRASETYO BANDAR LAMPUNG 2/22/1992
7 110 2012.TNK.MAS.042 AGUS PRIYANTO CANDIMAS 8/28/1989
8 10342 2012.TNK.MAS.043 AGUS RISKIYANTO KOTABUMI 8/17/1992
9 1160 2012.TNK.MAS.048 AHMAD ANSORI TANJUNG KARANG 4/28/1994
10 7938 2012.TNK.MAS.049 AHMAD FAIZAL RUSLI KOTABUMI 10/29/1989
11 3706 2012.TNK.MAS.052 AHMAD RIDWAN TANJUNG KARANG 9/21/1992
12 5628 2012.TNK.MAS.067 ALI MUHAMAD FAUZI PALEMBANG 4/15/1993
13 260 2012.TNK.MAS.069 ANANG NUR PRAYOGI BRANTI 10/3/1994
14 10943 2012.TNK.MAS.071 ANDI PRASETIYO TANJUNG ENIM 4/14/1994
15 3713 2012.TNK.MAS.079 ANDIKA JONATA KOTABUMI 12/30/1987
16 102 2012.TNK.MAS.081 ANDREAS DWI JAYANTO BEKRI 7/14/1992
17 2319 2012.TNK.MAS.082 ANDREAS PANDAPOTAN SITANGGANG BANDAR LAMPUNG 12/7/1992
18 3810 2012.TNK.MAS.084 ANDRI TOBRIWAN BANDAR ABUNG 10/9/1987
19 2120 2012.TNK.MAS.089 ANES SAPUTRA NATAR 11/1/1992
20 11154 2012.TNK.MAS.090 ANGGA ADI SURINDA SRIDADI 1/5/1993
21 10163 2012.TNK.MAS.096 ANGGUN YULIANTO SENDANG MULYO 7/11/1988
22 5131 2012.TNK.MAS.104 ARDHO ARNINDO BANDAR LAMPUNG 4/18/1990
23 13172 2012.TNK.MAS.109 ARDIAN THOMAS SIMANJUNTAK BATANG 5/18/1994
24 11433 2012.TNK.MAS.113 ARDIANSYAH KOTABUMI 8/10/1989
25 7616 2012.TNK.MAS.115 ARDIYANSAH PANJANG 12/16/1990
26 3401 2012.TNK.MAS.135 ARIO WIDYADI BANDAR LAMPUNG 1/10/1989
27 9735 2012.TNK.MAS.139 ARMANDA SAPUTRA PEMANGGILAN 3/18/1992
28 77 2012.TNK.MAS.146 AWANG ZAKA SASTRAWAN METRO 8/18/1988
29 1019 2012.TNK.MAS.164 BERRY RIYANTO BATURAJA 12/26/1989
30 12412 2012.TNK.MAS.167 BINA SENTOSA BAGELEN 8/13/1986
31 280 2012.TNK.MAS.183 CULO ARJANGGI BANDAR LAMPUNG 12/7/1989
32 10599 2012.TNK.MAS.187 DARMA SATYA PRATAMA NEGARA RATU 9/19/1994
33 547 2012.TNK.MAS.204 DENI APRIADI LAMPUNG BARAT 4/19/1991
34 5081 2012.TNK.MAS.206 DENI PRASETYO SUKOHARJO 6/13/1989
35 3000 2012.TNK.MAS.209 DERI SUSANTO BANDAR LAMPUNG 12/23/1993
36 2746 2012.TNK.MAS.212 DESMARYANSYAH BATURAJA 12/19/1985
37 2681 2012.TNK.MAS.214 DIAN ALDIANSYAH PUTRA PALEMBANG 10/2/1994
38 12748 2012.TNK.MAS.218 DIKY NANDA PRATAMA PALEMBANG 10/24/1994
39 12535 2012.TNK.MAS.219 DIMAS AMINUDIN SAPUTRA METRO 5/4/1992
40 7053 2012.TNK.MAS.222 DJODI ARIS MUNANDAR BANDAR LAMPUNG 6/27/1994
41 5906 2012.TNK.MAS.230 DWI ARBOWO ENDARWAN BANDAR LAMPUNG 6/20/1987
42 380 2012.TNK.MAS.231 DWI RESTU SEPTIANTO BANYUMAS 9/21/1993
43 2159 2012.TNK.MAS.239 EDWAR PRATAMA LAMPUNG 2/16/1994
44 13319 2012.TNK.MAS.253 ELVANSIUS AGUSNINTO BARUS DELITUA 8/22/1988
45 7537 2012.TNK.MAS.256 ERI SANDY PRABUMULIH 7/30/1991
46 7698 2012.TNK.MAS.259 ERIX SAPUTRA PAJAR BARU 12/14/1990
47 11684 2012.TNK.MAS.267 FAROUQ SADIAN RIVAI BANYUMAS 8/23/1993
48 3511 2012.TNK.MAS.268 FAUZI BATURAJA 11/4/1994
49 6791 2012.TNK.MAS.279 FENDI WAHYUDI BANDAR LAMPUNG 7/28/1990
50 9945 2012.TNK.MAS.283 FERI KURNIAWAN BANDAR LAMPUNG 2/3/1994
51 11174 2012.TNK.MAS.284 FERRY TRI SETYA PANJANG 11/5/1992
52 842 2012.TNK.MAS.299 GERI GANTARA KOTABUMI 11/25/1988
53 7211 2012.TNK.MAS.310 HARI APRIYANTO SUMBER JAYA 4/21/1991
54 5118 2012.TNK.MAS.313 HARI SABAR RINALDI PALEMBANG 7/11/1989
55 172 2012.TNK.MAS.315 HARIS PADILAH PALEMBANG 3/28/1993
56 3752 2012.TNK.MAS.317 HARIYANTO KOTABUMI 10/19/1990
57 9793 2012.TNK.MAS.319 HARLIANDIKA RADITIA KOTO KERAS 12/31/1991
58 6495 2012.TNK.MAS.320 HARPANDU BANJAR HARUM I 9/24/1990
59 1440 2012.TNK.MAS.331 HENDRIK WIJAYA BATURAJA 11/23/1994
60 1377 2012.TNK.MAS.347 ILHAM FRADHIPTA NATAR 4/6/1991
61 9378 2012.TNK.MAS.348 ILHAM SUGANDA PRABUMULIH 9/29/1991
62 123 2012.TNK.MAS.350 IMAM SAPUTRA CANDIMAS 2/18/1992
63 8334 2012.TNK.MAS.352 INDRA ANGKASA PANJANG 7/28/1988
64 2668 2012.TNK.MAS.353 INDRA HERMAWAN TANJUNG KARANG 3/29/1990
65 9253 2012.TNK.MAS.357 IQBAL ADE ROMADONI BANDAR LAMPUNG 3/5/1994
66 5251 2012.TNK.MAS.364 IRVAN PRATAMA YUSUF KOTA GAJAH 6/1/1993
67 6660 2012.TNK.MAS.365 IRWAN SIDODADI ASRI 12/3/1990
68 5031 2012.TNK.MAS.379 JULI SUPRIYADI BANDAR LAMPUNG 7/28/1990
69 1093 2012.TNK.MAS.386 KHUSNUL AMRI BANGUNREJO 6/17/1989
70 9070 2012.TNK.MAS.394 LUKMAN HAKIM PALEMBANG 10/14/1994
71 6493 2012.TNK.MAS.397 M INDO SAPUTRA PALEMBANG 7/24/1993
72 4132 2012.TNK.MAS.400 M. ADRI PALEMBANG 10/7/1991
73 6483 2012.TNK.MAS.402 M. ARI WIBOWO KOTABUMI 5/30/1994
74 99 2012.TNK.MAS.403 M. IMAM SYUKRON PALEMBANG 10/22/1994
75 10321 2012.TNK.MAS.421 MAULANA ASQOLANI KOTABUMI 1/24/1993
76 4052 2012.TNK.MAS.429 MISWANTO BANDAR LAMPUNG 5/12/1994
77 6567 2012.TNK.MAS.430 MOCHAMMAD IRFAN SAZALI CIAMIS 4/24/1991
78 14130 2012.TNK.MAS.432 MUCHAMMAD UKASAH PURBALINGGA 4/13/1987
79 10103 2012.TNK.MAS.436 MUHAMAD FARIZKY PALEMBANG 2/24/1993
80 3468 2012.TNK.MAS.441 MUHAMAD SOLIHIN OKU TIMUR 5/26/1988
81 167 2012.TNK.MAS.475 NANANG RINALDY, S.PD. PONCOWARNO 7/16/1989
82 5463 2012.TNK.MAS.477 NANDA HADIDIA PALEMBANG 10/16/1990
83 2947 2012.TNK.MAS.480 NANDO KURNIADI BUMISARI 6/25/1991
84 12167 2012.TNK.MAS.498 OKTARIAN PALEMBANG 6/5/1992
85 9819 2012.TNK.MAS.502 PAHALA RAJA MABRUR PALEMBANG 5/10/1994
86 7606 2012.TNK.MAS.505 PANCA INDRA TANJUNG AGUNG 2/25/1993
87 4348 2012.TNK.MAS.508 PANCA RAMADHON PALEMBANG 2/16/1994
88 2620 2012.TNK.MAS.514 PRASEPTIAN HADINATA TANJUNG KARANG 9/2/1992
89 1583 2012.TNK.MAS.517 PUJI TRIYONO PALEMBANG 9/12/1989
90 3547 2012.TNK.MAS.520 PUTRA JULIANSYAH MUARA ENIM 7/6/1990
91 532 2012.TNK.MAS.533 RAHMAT SETIAWAN BANDAR LAMPUNG 12/22/1991
92 3712 2012.TNK.MAS.547 RENDI YOSFI KURNIAWAN KOTABUMI 4/10/1989
93 4038 2012.TNK.MAS.554 RIAN FIAZRI BANDAR LAMPUNG 1/18/1987
94 5260 2012.TNK.MAS.559 RICKY ANDI FIRMANSYAH BUMISARI 8/12/1992
95 3162 2012.TNK.MAS.560 RICKY HERDIYANTO TANJUNGKARANG 5/31/1994
96 2137 2012.TNK.MAS.566 RIDO SETIAWAN BUKIT KEMUNING 11/9/1988
97 3961 2012.TNK.MAS.567 RIFQON FAJRI KOTABUMI 9/18/1987
98 7917 2012.TNK.MAS.571 RIKI RAPIAN PRABOWO BATURAJA 5/8/1991
99 4437 2012.TNK.MAS.574 RIKI SEPRIYANDA KOTABUMI 9/13/1994
100 4534 2012.TNK.MAS.578 RIO MAULANA NUGROHO TANJUNG KARANG 9/29/1991
101 2574 2012.TNK.MAS.599 RIZKY HERMANDA CEMPAKA 6/9/1991
102 1676 2012.TNK.MAS.610 ROSIHIN ANWAR BANDAR LAMPUNG 6/13/1987
103 2210 2012.TNK.MAS.624 SATRIA WIGUNA MARGOREJO 9/17/1991
104 1721 2012.TNK.MAS.632 SETIONO PURWODADI DALAM 5/3/1991
105 1055 2012.TNK.MAS.633 SETYADI NUGROHO BANDAR LAMPUNG 4/11/1990
106 8445 2012.TNK.MAS.636 SIGIT HARJANTO PALEMBANG 6/11/1991
107 800 2012.TNK.MAS.647 SUMARIONO BANDAR LAMPUNG 10/14/1990
108 2141 2012.TNK.MAS.670 TABRANI PALEMBANG 12/25/1994
109 4616 2012.TNK.MAS.675 THIO ARDIAN BANDAR LAMPUNG 11/17/1991
110 4682 2012.TNK.MAS.678 TOMI SUKMAWAN BANDAR LAMPUNG 11/26/1990
111 6005 2012.TNK.MAS.683 TRI DESTANTO BANDAR LAMPUNG 12/5/1991
112 4622 2012.TNK.MAS.698 WAHYU SASONGKO ADIPURO 12/18/1993
113 2061 2012.TNK.MAS.699 WAHYU SUTIADI TANJUNG KARANG 6/5/1990
114 9418 2012.TNK.MAS.700 WAIS ALKORNI KALIASIN 10/17/1993
115 3945 2012.TNK.MAS.706 WAYAN ARIEF KRISNANTHA PUGUNG RAHARJO 10/28/1992
116 1878 2012.TNK.MAS.712 WUJUD PRATAMASANJAYA TANJUNG ENIM 2/6/1993
117 152 2012.TNK.MAS.723 YULIAN PRADIKA BATURAJA 7/23/1993
118 9384 2012.TNK.MAS.724 YULIANDI BRATA PERMADI PANCORAN 5/18/1992

MATERI PERSIAPAN UKA SERTIFIKASI GURU 2013 UNTUK GURU KELAS SD

MATERI PERSIAPAN UKA SERTIFIKASI GURU 2013 UNTUK GURU KELAS SD
DOWNLOAD DIBAWAH INI
kisi-Kisi UKA Guru Kelas SD
PANDUAN PEMBELAJARAN TEMATIK ARYADUTA 1 JULI
Panduan Tematik Aryaduta Kls. 2
Panduan Tematik Aryaduta Kls. 1
PKn Modul 7
PKn Modul 6
PKn Modul 5
PKn Modul 4
Pkn Modul 3
PKn Modul 2
PKn Modul 1
MODULS~1
REVISI GEOMETRI 19 Juli 2012
BAB II Revisi Kel 5_Sahid Jaya Ok
BAB II OK KB2-1 JUMLAH KURANG
BAB II OK KB2-1 JUMLAH KURANG
BAB II OK KB2-2 KALI BAGI RASIO
BAB II OK KB1 KONSEP DASAR
BAB III OK PENUTUP DAN PUSTAKA
HASIL KAJIAN MODUL MATEMATIKA 3
Final Bil ACB Modul UKA
2.Modul-Teori Belajar dan Pembelj Mat final-Sahid Jaya
Rangkuman Modul 3TEMUAN DAN MASUKAN
Modul Besaran Satuan diklat pasca UKA coreksi
MATERI~1
Materi Pengembangan Perangkat pembel
Materi Metd Tinggi
Materi Pembel Membaca dan Menulis di Kelas Rendah
1. Materi Ajar Apresiasi Sastra sahid solo
6. Materi Ket. Menulis
2. Materi Ket. Membaca
Materi Perkmb Anak

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI TAHAP II (TES PSIKOLOGI) REKRUTMEN EKSTERNAL UNTUK MASINIS TINGKAT SLTA TAHUN 2012

Diberitahukan pada peserta Rekrut Eksternal Untuk Masinis Tingkat SLTA Tahun 2012 Di Lingkungan PT. Kereta Api Indonesia (Persero), yang dinyatakan Lulus dan mengikuti Seleksi Tahap III (Tes Wawancara) sebagaimana daftar terlampir di bawah ini.

Pelaksanaan Tes Wawancara pada :

Hari : Rabu dan Kamis (sesuai daftar terlampir)
Tanggal : 14 dan 15 Nopember 2012 (sesuai daftar terlampir)
Pukul : 06.30 WIB s/d selesai
Lokasi Tes : Sesuai Daftar Terlampir
Ketentuan : 1. Setiap peserta harap membawa KARTU PESERTA
2. Pada saat mengikuti seleksi tahap III. peserta wajib bersepatu dan berpakaian : kemeja putih. celana warna hitam/gelap.
Keterangan : Penetapan Kelulusan Seleksi Tahap III (Tes Wawancara) akan diumumkan pada tanggal 19 November 2012 melalui websitehttp://rekrut.kereta-api.co.id/

DAFTAR NOMINATIF PESERTA LULUS TES TAHAP II TES (PSIKOLOGI)  REKRUT EKSTERNAL
UNTUK MASINIS TINGKAT SLTA TAHUN 2012
DI LINGKUNGAN PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO)

KLIK DI BAWAH INI UNTUK MENDOWNLOAD:

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI TAHAP II MASINIS 2012

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI TAHAP I (ADMINISTRASI) REKRUT EKSTERNAL UNTUK POLSUSKA TINGKAT SLTA TAHUN 2012

Diberitahukan pada peserta Rekrut Eksternal Untuk Polsuska Tingkat SLTA Tahun 2012 Di Lingkungan PT. Kereta Api Indonesia (Persero), yang dinyatakan Lulus dan mengikuti Seleksi Tahap II (Tes Kesehatan Fisik dan Parade) sebagaimana daftar terlampir di bawah ini

Pelaksanaan Tes Kesehatan Fisik dan Parade pada :

Hari Rabu, Kamis dan Jum`at (sesuai daftar terlampir)
Tanggal 14, 15 dan 16 Nopember 2012 (sesuai daftar terlampir)
Pukul 06.30 WIB
Lokasi Tes : Sesuai Daftar Terlampir
Ketentuan : 1. Setiap peserta harap membawa KARTU PESERTA yang telah dicetak melalui website http://rekrut.kereta-api.co.id
2. Pada saat mengikuti seleksi tahap II. peserta wajib bersepatu dan berpakaian : kemeja putih. celana warna hitam/gelap.
3. Membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Bukti Identitas lain yang masih berlaku.
4. Membawa pas foto 4 x 6 sebanyak 3 (tiga) lembar.
Membawa pakaian untuk pria celana  pendek dan wanita celana pendek serta kaos.
Keterangan : Penetapan Kelulusan Seleksi Tahap II (Tes Kesehatan Fisik dan Parade) akan diumumkan pada tanggal 26 Nopember 2012 melalui websitehttp://rekrut.kereta-api.co.id/

DOWNLOAD HASIL PENGUMUMAN POLSUSKA TAHAP I TAHUN 2012 DI BAWAH INI

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI TAHAP I POLSUSKA

PENGUMUMAN REKRUTMEN POLISI KHUSUS KERETA API 2012 PT KAI

Pengumuman Rekrutmen Polisi Khusus Kereta Api – Polsuska PT. KAI

Persyaratan dan Kriteria Rekrutmen Untuk Polsuska Tingkat SLTA Tahun 2012

PT. Kereta Api Indonesia (Persero) adalah perusahaan yang bergerak dibidang jasa transportasi terbesar di Indonesia, yang mengutamakan profesionalisme dan kinerja, memberikan kesempatan kepada putra-putri terbaik Indonesia untuk berkarier sebagai polsuska dengan persyaratan dan kriteria sebagai berikut :

Kriteria Pelamar

  1. Warga Negara Indonesia (WNI)
  2. Sehat jasmani dan rohani serta tidak buta warna dan tidak berkacamata
  3. Berkelakuan baik
  4. Berijazah SMU/SMK atau lebih dengan Nilai NEM rata- rata sekurang-kurangnya 6,5
  5. Usia pendaftar per 31Oktober 2012 Setinggi-tingginya 25 Tahun
  6. Tinggi / Berat Badan
    • - Pria minimal 170 cm / berat badan seimbang / normal
    • - Wanita minimal 165 cm /berat badan seimbang / normal
  7. Belum menikah
  8. Berpenampilan Menarik
  9. Tidak pernah terlibat Narkoba dan Psikotropika
  10. Tidak bertato dan bertindik
  11. Diutamakan memiliki kemampuan Beladiri yang dibuktikan dengan Sertifikat
  12. Lulus dalam mengikuti Seleksi Penerimaan Calon POLSUSKA yang diselenggarakan oleh PT Kereta Api (Persero) Tahun 2012

Persyaratan Umum Lamaran

Surat lamaran (ditulis tangan) dan ditandatangani dengan melampirkan :
a. Ijazah SMU/SMK
b. Nilai NEM SMU/SMK
c. Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang masih berlaku
d. Pas foto berwarna terbaru
e. Sertifikat bela diri yang dimiliki bila ada
f. Surat Keterangan Belum Menikah dari Kelurahan setempat
g. Surat Keterangan Kelakuan Baik dari Kepolisian yang masih berlaku
h. Surat Pernyataan Bersedia ditempatkan diseluruh wilayah perusahaan bermaterai Rp. 6.000,00
i. Surat Pernyataan tidak dalam ikatan kerja dengan instansi lain
j. Curiculum Vitae, mencantumkan pengalaman bekerja sampai dengan saat ini
k. Surat keterangan sehat dari dokter
l. Surat Keterangan Bebas Narkoba dari Kepolisian

Keterangan :
a,b,c,d,e di upload di web
f,g,h,i, j, k diberikan pada saat kesamaptaan
l diberikan pada saat penandatanganan kontrak magang

Tahapan Seleksi
a. Tahap I : Administrasi
b. Tahap II : Tes Kesehatan Fisiik dan Parade
c. Tahap III : Tes Psikologi
d. Tahap IV : Tes Kesehatan Laboratorium
e. Tahap V : Kesamaptaan

Kebutuhan

NO DAERAH OPERASI WILAYAH
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
DAOP 1
DAOP 2
DAOP 3
DAOP 4
DAOP 5
DAOP 6
DAOP 7
DAOP 8
SUBDIVRE 3.1 KPT
SUBDIVRE 3.2 TNK
JAKARTA
BANDUNG
CIREBON
SEMARANG
PURWOKERTO
YOGYAKARTA
MADIUN
SURABAYA
SUMATERA SELATAN/KERTAPATI
BANDAR LAMPUNG

Prosedur Melamar :

  • a. Pelamar harus mengisi/entry data pada Formulir lamaran kerja yang tersedia melalui Website : rekrut.kereta-api.co.id pelamar secara otomatis akan memperoleh nomor register mulai tanggal 20 Oktober 2012
  • b. Setelah registrasi pelamar log in menggunakan user dan password yang telah diisi pada saat registrasi
  • c. Kemudian pelamar meng-upload file dokumen lampiran sesuai pada persyaratan umum lamaran huruf a, b, c, d dan e paling lambat tanggal 28 Oktober 2012
  • d. Semua proses rekrut melalui website. Diluar itu tidak dilayani

Pelaksanaan Seleksi

  • a. Pelamar yang dipanggil untuk mengikuti seleksi, hanya pelamar yang dinyatakan lulus seleksi tahap 1 / administratif yang dilakukan di Daop/Divre dan memenuhi kriteria serta sesuai sort list yang akan diumumkan pada tanggal 9 November 2012
  • b. Pengumuman/pemanggilan peserta yang akan mengikuti proses seleksi, dapat diakses di website : rekrut.kereta-api.co.iddan tidak dilakukan surat menyurat
  • c. Setiap pelaksanaan seleksi, peserta wajib membawa kartu tanda peserta yang dicetak melalui website dan diperlihatkan kepada panitia pada saat seleksi
  • d. Dalam proses seleksi ini tidak dipungut biaya apapun dan dihimbau untuk mengabaikan pihak-pihak yang menjanjikan dapat membantu kelulusan
  • e. Dalam proses seleksi ini berlaku sistem gugur dan keputusan panitia tidak dapat diganggu gugat
  • f. Peserta seleksi yang tidak hadir pada waktu yang telah ditentukan, dianggap mengundurkan diri

Bagi yang berminat silakan mendaftar melalui laman :

DAFTAR NAMA PESERTA ANGKATAN KE-2, 3 dan 4 PLPG KEMENAG 2012 KUOTA TAMBAHAN

Berikut ini disampaikan nama-nama calon peserta dan jadwal pelaksanaan PLPG 2012 Kuota Tambahan Angkatan II, III dan IV:

  • Pelaksanaan PLPG 2012 Kuota Tambahan Angkatan II tanggal 30 Oktober sampai 8 November 2012
  • Pelaksanaan PLPG 2012 Kuota Tambahan Angkatan III tanggal 9 sampai 18 November 2012
  • Pelaksanaan PLPG 2012 Kuota Tambahan Angkatan IV tanggal 20 sampai 29 November 2012

seluruhnya bertempat di Madrasah Aliyah Negeri 1 (MAN 1) Bandar Lampung dengan alamat Jl. Letkol H. Endro Suratmin Sukarame Bandar Lampung.

Adapun Persyaratan yang harus dibawa peserta yaitu:
1.  Surat Rekomendasi mengikuti PLPG dari Mapenda Kab./Kota masing-masing.
2.  Surat Tugas dari Kepala sekolah.
3.  Mengisi Form Biodata dan kesediaan peserta yang telah disediakan
4.  Copy Ijazah Terakhir yang dilegalisir
5.  Copy SK Terakhir yang dilegalisir
6.  Photo Copy kartu NUPTK, KTP dan NPWP
7.  Photo berwarna ukuran 3×4 terbaru (4 lbr)
8.  Materai Rp.6000,- 2 buah (jgn ditempel)
9.  Buku Ajar/ bahan ajar sesuai dengan mata pelajaran yang diampu
10.  Silabus, RPP dan alat bantu mengajar yang dibutuhkan.
11. Membawa Pakain Dinas dan Batik

semua persyaratan (1 – 8) dimasukkan dalam map Snell Leter plastik (yang bagian depan transparant) warna Biru –> untuk angkatan II, warna Merah –> untuk angkatan III dan warna Hijau –> untuk angkatan IV

adapun nama-nama calon peserta dan Form Biodata serta Form Kesediaan dapat dilihat/diunduh pada link di bawah ini:

               Nama-nama Peserta Angkatan II
              Nama-nama Peserta Angkatan III
              Nama-nama Peserta Angkatan IV
              Form Biodata
 
              Form Kesediaan
          Surat Pemberitahuan Mapenda Kab./Kota

INFORMASI CALON PESERTA SERTIFIKASI GURU 2013

INFORMASI SERTIFIKASI 2013

Selamat Datang

Verifikasi Data

Terkait tahap verifikasi data guru, daftar guru belum bersertifikat pendidik dan panduan penetapan peserta sertifikasi guru tahun 2013 dapat dilihat melalui tautan berikut ini

Informasi Sebelumnya

Informasi OSN Guru

Informasi terkait Olimpiade Sains Nasional Guru. Penetapan peserta OSN Guru dan undangan OSN Guru

Diklat Pasca UKA

Kisi-Kisi Uji Kompetensi Guru

Materi PLPG

Kisi-Kisi Uji Kompetensi Awal

Informasi Calon Peserta Sertifikasi Guru

VERIFIKASI DATA PESERTA PLPG YANG LULUS (L) RAYON 107 UNIVERSITAS LAMPUNG 2012

Verifikasi data sertifikasi guru diperlukan untuk validasi data yg lebih akurat setelah peserta PLPG 2012 dinyatakan lulus (L), tetapi data masih perlu diperbaiki (seperti: kesalahan nama, tempat tanggal lahir) jika data sudah benar peserta PLPG tidak perlu melakukan verifikasi data. Tujuan verifikasi data untuk keperluan proses penerbitan SK Dirjend DIKTI dan Sertifikat Pendidik (Profesi). Proses Verifikasi Data dilakukan dengan cara :pertama, peserta PLPG datang langsung ke sekretariat Rayon 107 Universitas Lampung dengan membawa dokumen sesuai dengan ketentuan. Jika tidak bisa datang langsung peserta PLPG dapat melakukan via e-mail (kirim ke : kipunila@gmail.com) ijazah, ktp/akta di scan.
Peserta PLPG yang masih berstatus Klarifikasi (K) wajib melakukan proses klarifikasi sesuai dengan jadwal & ketentuan yang berlaku. Persyaratan apa saja untuk melakukan verifikasi data:
1.Ijazah akhir.
2. KTP/Akta lahir.
Batas Verifikasi Data sertifikasi guru sampai dengan tanggal 25 Oktober 2012 lewat dari tanggal tersebut panitia sertifikasi guru tidak akan memproses.
Apabila peserta berstatus Klarifikasi (K), Absen Tanpa Alasan (ATA),Absen Dengan Alasan (ADA), Gugur Dengan ALasan (GDA), Gugur Tanpa Alasan (GTA) peserta PLPG tidak perlu mengikuti proses verifikasi data. [src:@mrul]

HASIL PLPG KEMENAG TAHUN 2012 RAYON 107 UNIVERSITAS LAMPUNG

PENGUMUMAN
Nomor : 12202/UN26/PSG/2012

Diumumkan kepada peserta PLPG Kementrian Agama, agar memperhatikan Hal-Hal sebagai berikut:

  1. Hasil PLPG Kemenag dapat diakses di internet http://fkip.unila.ac.id.
  2. Peserta yang mengulang diberi kesempatan mengikuti ujian ulang sebanyak 2x.
  3. Unduh / lihat hasil penilaian selengkapnya.
  4. Peserta berstatus M (Mengulang) wajib mengikuti ujian ulang II (terakhir).
  5. Peserta berstatus L (Lulus) agar mempersiapkan fotocopy legalisir  Ijazah terakhir , pas photo berwarna ukuran 3×4 (background warna biru) sebanyak 2 lembar.
  6. Kelengkapan berkas dimasukan kedalam map warna hijau (luar map ditulis nama lengkap,no peserta,asal sekolah,bidang studi, no hand phone).  Berkas dikumpulkan ke masing-masing mapenda dan dikumpulkan ke Rayon 107 Universitas Lampung.
  7. Jadwal pengumpulan berkas dari mapenda ke Rayon 107 Universitas Lampung akan ditentukan setelah pelaksanaan ujian ulang 2 PLPG Kemenag selesai diumumkan.

Jadwal Ujian ulang II Kementerian Agama akan dilaksanakan pada :

Hari / Tanggal : Sabtu / 20 Oktober 2012
Waktu : Pkl. 09.00 WIB (peserta ujian ulang wajib datang 1 jam sebelum ujian dimulai)
Tempat / Lokasi Ujian Ulang : Gedung A (DEKANAT) Kampus FKIP Universitas Lampung

Demikian atas perhatiannya diucapkan terimakasih.

Bandar Lampung, 17 Oktober 2012
Panitia Sertifikasi Guru
Rayon 107 Universitas Lampung
Ketua,

Dto,

Drs. Buchori Asyik, M.Si.
NIP 19560108 198503 1 002

HASIL PENILAIAN SESUAI MATA PELAJARAN

bhs daerah

file_nilai_pesertaBHS INDONESIA1

file_nilai_pesertaBHS INDONESIA2

file_nilai_pesertaBHS INGGRIS1

file_nilai_pesertaBHS INGGRIS2

file_nilai_pesertaBHS INGGRIS3

file_nilai_pesertaBIMBINGAN KONSELING

file_nilai_pesertaFISIKA

file_nilai_pesertaIPA1

file_nilai_pesertaIPA2

file_nilai_pesertaIPS1

file_nilai_pesertaIPS2

file_nilai_pesertaKIMIA

file_nilai_pesertaMATH1

file_nilai_pesertaMATH2

file_nilai_pesertaPENJAS

file_nilai_pesertaSEJARAH

file_nilai_pesertaSENI BUDAYA

mulok

HASIL PLPG KEMDIKBUD TAHUN 2012 RAYON 107 UNIVERSITAS LAMPUNG

PENGUMUMAN
Nomor : 1212/UN26/PSG/2012

Bersama ini kami informasikan kepada seluruh peserta PLPG tahun 2012 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang hasil penilaian kegiatan PLPG Tahun 2012, dengan ketentuan sebagai berikut :

Unduh Surat/Informasi

info_plpg2012
Unduh Hasil Penilaian

Hasil PLPG 2012 (Kab.Lampung-Selatan)

Hasil PLPG 2012 (Kota-Prabumulih)

Hasil PLPG 2012 (Kota-Pangkal-Pinang)

Hasil PLPG 2012 (Kota-Palembang)

Hasil PLPG 2012 (Kota-Pagar-Alam)

Hasil PLPG 2012 (Kota-Metro)

Hasil PLPG 2012 (Kota-Lubuk-Linggau)

Hasil PLPG 2012 (Kota-Bengkulu)

Hasil PLPG 2012 (Kota-Bandar-Lampung)

Hasil PLPG 2012 (Kab.Way-Kanan)

Hasil PLPG 2012 (Kab.Tulang-Bawang-Barat)

Hasil PLPG 2012 (Kab.Tulang-Bawang)

Hasil PLPG 2012 (Kab.Tanggamus)

Hasil PLPG 2012 (Kab.Pringsewu)

Hasil PLPG 2012 (Kab.Pesawaran)

Hasil PLPG 2012 (Kab.Oku-Timur)

Hasil PLPG 2012 (Kab.Oku-Selatan)

Hasil PLPG 2012 (Kab.Ogan-Komering-Ulu)

Hasil PLPG 2012 (Kab.Ogan-Komering-Ilir)

Hasil PLPG 2012 (Kab.Ogan-Ilir)

Hasil PLPG 2012 (Kab.Musi-Rawas)

Hasil PLPG 2012 (Kab.Musi-Banyuasin)

Hasil PLPG 2012 (kab.Muko-muko)

Hasil PLPG 2012 (Kab.Muara-Enim)

Hasil PLPG 2012 (Kab.Mesuji)

Hasil PLPG 2012 (Kab.Lampung-Utara)

Hasil PLPG 2012 (Kab.Lampung-Timur)

Hasil PLPG 2012 (Kab.Lampung-Tengah)

Hasil PLPG 2012 (Kab.Lampung-Barat)

Hasil PLPG 2012 (Kab.Lahat)

Hasil PLPG 2012 (Kab.Bengkulu-Utara)

Hasil PLPG 2012 (Kab.Belitung-Timur)

Hasil PLPG 2012 (Kab.Belitung)

Hasil PLPG 2012 (Kab.Banyuasin)
Form Biodata Kelulusan

form_guru
Unduh Surat Pernyataan

pernyataan_klarifikasi
Demikian atas perhatiannya diucapkan terimakasih.

Bandar Lampung, 17 Oktober 2012
Panitia Sertifikasi Guru
Rayon 107 Universitas Lampung
Ketua,

Dto,

Drs. Buchori Asyik, M.Si.
NIP 19560108 198503 1 002

INFO PENERIMAAN MASINIS DAN PEGAWAI PT KAI SUB DIVRE TANJUNG KARANG

PT KAI SUB DIVRE 3.2 TANJUNG KARANG MEMBUKA LOWONGAN PEKERJAAN UNTUK MASINIS DAN PEGAWAI MULAI TANGGAL 13 – 20 OKTOBER 2012.

Lowongan Kerja BUMN PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) | PT Kereta Indonesia merupakan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). PT KAI (persero) bergerak di bidang jasa transportasi pengankutan penumpang, barang dan peti kemas. PT Kereta Api (persero) baru-baru ini meluncurkan rangkaian kereta ekonomi AC yang diberi nama Senja Menoreh Kereta Api ini terdiri atas 8 gerbong yang berkapasitas 806 penumpang. Pada zaman penjajahan Belanda Kereta Api pertama kali sudah di perkenalkan di Indonesia sekitar tahun 1864. Tidak hanya pemerintahan Belanda tetapi pada waktu itu perusahaan-perusahaan Belanda sudah banyak yang memanfaakan jasa transportasi ini, misalnya di pulau Jawa seperti : SCS, SLS, KSM, MSM dan lain-lain. PT Kereta Api (Persero) kembali membutuhkan kandidat terbaik bangsa untuk menduduki posisi :
Masinis
Persyaratan Khusus SMA atau SMK:
Warga Negara Indonesia (WNI)
Jenis kelamin : Pria
Sehat jasmani /rohani dantidak berkacamata serta tidak buta warna Berkelakuan baik
Berijazah SMA IPA / SMK Mesin Otomotif, Listrik atau Elektronika dan NEM rata-rata sekurang-kurangnya 6,5 Diutamakan yang memiliki Ijazah seperti diatas
Usia pelamar per 31 Oktober 2012 maksimal 27 tahun
Tinggi / Berat Badan sekurang-kurangnya 160 cm (berat badan ideal)
Tidak pernah terlibat Narkoba atau Psikotropika Tidak bertato dan bertindik Bersedia ditempatkan diseluruh wilayah kerja PT. Kereta Api Indonesia (persero)
Customer Service
Persyaratan Khusus D3:
Warga Negara Indonesia (WNI)
Jenis kelamin : pria dan wanita
Usia: Setinggi-tingginya 25 tahun per 30 Oktober 2012
LulusanDiploma 3 (D3) dariperguruantingginegeri/swasta yang terakreditasi “A”(pada tanggal kelulusan) dengan IPK serendah-rendahnya 3,00
Tinggi Badan untuk Wanita serendah-rendahnya 165 cm dan untuk Pria serendah-rendahnya 170 cm dengan berat badan seimbang
Menguasai Bahasa Inggris dan Bahasa Asing lainnya
Belum Menikah Berpenampilan menarik Diutamakan yang memiliki pengalaman bekerja sebagai Customer Service
Berbadan sehat dan tidak buta warna Berkelakuan baik
Tidak pernah terlibat narkoba dan/atau psikotropika
Tidak bertato baik pria maupun wanita Khusus pria tidak bertindik
Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah PT. Kereta Api Indonesia (Persero)
Persyaratan Umum :
Fotocopy Ijazah Fotocopy
Transkrip nilai
Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang masih berlaku
Pas foto berwarna terbaru
Fotocopy Sertifikat Akreditasi program studi pada tanggal kelulusan dari BAN PT
Sertifikat kemampuan bahasa Inggris dan bahasa Asing lainnya Surat Keterangan Sehat dari Dokter
Surat Keterangan Belum Menikah dari Kelurahan setempat
Surat keterangan bebas narkoba dari instansi yang berwenang (diserahkan pada saat seleksi wawancara /seleksi tahap akhir)
Surat Keterangan Kelakuan Baik dari Kepolisian yang masih berlaku Surat Pernyataan Bersedia di tempatkan diseluruh wilayah kerja PT. Kereta Api Indonesia (Persero) bermaterai Rp. 6.000,00
Curiculum Vitae, mencantumkan pengalaman bekerja, sertifikat (keahlian/kejuruan), Ijasah tertinggi yang dimiliki bila ada
Wilayah Penempatan Lowongan BUMN PT Kereta Api (persero) :
NODAERAH OPERASI WILAYAH
1.2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. DAOP 1 DAOP 2 DAOP 3 DAOP 4 DAOP 5 DAOP 6 DAOP 7 DAOP 8 DAOP 9 DIVRE 1 SU DIVRE 2 SB SUBDIVRE 3.1 KPT SUBDIVRE 3.2 TNK Jakarta Bandung Cirebon Semarang Purwokerto Yogyakarta Madiun Surabaya Jember Sumatera Utara Sumatera Barat Sumatera Selatan/Kertapati Bandar Lampung Info lebih lanjut & Pendaftaran Online melalui : http://rekrut.kereta-api.co.id/ 

HASIL PLPG KEMENTRIAN AGAMA TAHUN 2012 RAYON 107 UNILA

HASIL PENILAIAN PENDIDIKAN PROFESI GURU (PPG) UNIVERSITAS LAMPUNG (UNILA) TAHUN 2011/2012

PENGUMUMAN
Nomor : 1201/UN26/PPG/2012

Diumumkan kepada peserta PPG tentang hasil evaluasi dan uji kompetensi peserta Program Pendidikan Pofesi Guru (PPG) Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) bagi guru dalam jabatan FKIP Universitas Lampung 2011/2012 :

Demikian informasi ini kami sampaikan atas perhatiannya diucapkan terimakasih.

Bandar Lampung, 4 Oktober 2012
Praktik Lapangan Terpadu
Ketua,

Dto,

Dr. Mulyanto Widodo, M.Pd
NIP 19620203 198811 1 001

HASIL UJIAN ULANG I, DAFTAR PESERTA UJIAN ULANG II RAYON 107 UNIVERSITAS LAMPUNG

PENGUMUMAN
Nomor : 1208/UN26/PSG/2012

Diumumkan kepada peserta PLPG Tahap ke-1 sampai dengan Tahap ke-10, agar memperhatikan Hal-Hal sebagai berikut:

  1. Hasil PLPG Tahap ke-1 s.d Tahap ke-10 dapat diakses di internet http://fkip.unila.ac.id
  2. Peserta yang mengulang diberi kesempatan mengikuti ujian ulang sebanyak 2x
  3. Unduh / lihat hasil penilaian selengkapnya  dibawah ini :

Ujian ulang II tahap 1 s.d tahap 10 akan dilaksanakan pada :

Hari / Tanggal : Minggu / 23 September 2012
Waktu : Pkl. 09.00 WIB (peserta ujian ulang wajib datang 1 jam sebelum ujian dimulai)
Tempat / Lokasi Ujian Ulang : Kampus FKIP Universitas Lampung

Demikian atas perhatiannya diucapkan terimakasih.

PANITIA SERTIFIKASI GURU
RAYON 107 UNIVERSITAS LAMPUNG

PENGUMUMAN HASIL PLPG TAHAP 6 S.D. 10 RAYON 107 UNIVERSITAS LAMPUNG

Pengumuman hasil plpg tahap 6 s.d 10 Rayon 107 Universitas Lampung.
Diumumkan kepada peserta PLPG Tahap ke-6 sampai dengan Tahap ke-10, agar memperhatikan Hal-Hal sebagai berikut:

Hasil PLPG Tahap ke-6 s.d Tahap ke-10 dapat diakses di internet http://fkip.unila.ac.id
Peserta yang mengulang diberi kesempatan mengikuti ujian ulang sebanyak 2x
Unduh / lihat hasil ujian ulang selengkapnya
Tahap 8 Guru Kelas (SD-11) Masih dalam proses di Konsorsium Sertifikasi Guru (Jakarta)
Ujian ulang 1 akan diadakan pada :

Hari / Tanggal : Senin / 17 September 2012
Waktu : Pkl. 09.00 WIB (peserta ujian ulang wajib datang 1 jam sebelum ujian dimulai)
Tempat / Lokasi Ujian Ulang : Kampus FKIP Universitas Lampung

Download hasil PLPG tahap 6 s.d 10 di bawah ini:

Tahap 6

file_nilai_pesertaSD1

file_nilai_pesertaSD2

file_nilai_pesertaSD3

file_nilai_pesertaSD4

file_nilai_pesertaSD5

file_nilai_pesertaSD6

file_nilai_pesertaSD7

file_nilai_pesertaSD8

file_nilai_pesertaSD9

file_nilai_pesertaSD10

file_nilai_pesertaSD11

file_nilai_pesertaSD12

file_nilai_pesertaSD13

file_nilai_pesertaSD14

file_nilai_pesertaTK

file_nilai_pesertaSENI BUDAYA

file_nilai_pesertaPENJAS

file_nilai_pesertaPENJAS2

file_nilai_pesertaPEMASARAN

file_nilai_pesertaKEWIRAUSAHAAN

file_nilai_pesertaIPS

file_nilai_pesertaIPA

file_nilai_pesertaBIOLOGI

file_nilai_pesertaBIMBINGAN KONSELING

file_nilai_pesertaBHS_INGGRIS

file_nilai_pesertaBHS_INDO

file_nilai_pesertaBHS_DAERAH

Tahap 7

file_nilai_pesertaSD1

file_nilai_pesertaSD2

file_nilai_pesertaSD3

file_nilai_pesertaSD4

file_nilai_pesertaSD5

file_nilai_pesertaSD6

file_nilai_pesertaSD7

file_nilai_pesertaSD8

file_nilai_pesertaSD9

file_nilai_pesertaSD10

file_nilai_pesertaSD11

file_nilai_pesertaSD13

file_nilai_pesertaSD14

file_nilai_pesertaTK

file_nilai_pesertaSENI BUDAYA

file_nilai_pesertaPKN

file_nilai_pesertaPENJAS1

file_nilai_pesertaPENJAS2

file_nilai_pesertaIPS

file_nilai_pesertaGEOGRAFI

file_nilai_pesertaFISIKA

file_nilai_pesertaBIMBINGAN KONSELING

file_nilai_pesertaBHS-INGGRIS

Tahap 8

file_nilai_pesertaSD1

file_nilai_pesertaSD2

file_nilai_pesertaSD3

file_nilai_pesertaSD4

file_nilai_pesertaSD5

file_nilai_pesertaSD6

file_nilai_pesertaSD7

file_nilai_pesertaSD8

file_nilai_pesertaSD9

file_nilai_pesertaSD10

file_nilai_pesertaSD12

file_nilai_pesertaSD13

file_nilai_pesertaTK

file_nilai_pesertaSENIBUDAYA

file_nilai_pesertaPKN

file_nilai_pesertaPENJAS1

file_nilai_pesertaPENJAS2

file_nilai_pesertaKEWIRAUSAHAAN

file_nilai_pesertaIPS

file_nilai_pesertaIPA

file_nilai_pesertaBIMBINGAN KONSELING

file_nilai_pesertaBHS_daerah

file_nilai_pesertaAKUNTANSI

tahap 9

file_nilai_pesertaPENJAS1

file_nilai_pesertaPENJAS2

file_nilai_pesertaSENI BUDAYA

tahap 10

file_nilai_pesertaGeografi

file_nilai_pesertaPENJAS1

file_nilai_pesertaPENJAS2

file_nilai_pesertaSENIBUDAYA

PERUBAHAN LOKASI PLPG KEMENAG PROVINSI LAMPUNG 2012

Kami informasikan kepada peserta PLPG Kemenag Tahun 2012 khusus bidang studi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Tahap II (tanggal 7 – 16 September 2012) tadinya berlokasi di Wisma Universitas Lampung di pindah ke LEC METRO.
UNDUH DAFTAR PESERTANYA DI BAWAH INI:
uka&plpgkemenag2012

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1433 HIJRIAH

KEPALA SEKOLAH, ADMIN, SEGENAP DEWAN GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN SD NEGERI 3 NEGARA RATU KECAMATAN NATAR KABUPATEN LAMPUNG SELATAN MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, MINAL AIDIN WAL FAIZIN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN, KULLU AM WA ANTUM BI KHOIR.

DAFTAR PESERTA UKA DAN PLPG KEMENAG RAYON 107 UNILA 2012

DAFTAR PESERTA UKA DAN PLPG KEMENAG RAYON 107 UNILA 2012
Assalamu ‘alaikum wr.wb.

Kami beritahukan dengan hormat bahwa pelaksanaan Uji Kompetensi Awal (UKA) bagi peserta PLPG di lingkungan Kementerian Agama Provinsi Lampung akan dilaksanakan pada:

Hari, tanggal : Selasa, 28 Agustus 2012
Pukul : 09.00 – selesai (Peserta Wajib hadir 1 Jam sebelum Ujian dimulai)
Tempat : FKIP Universitas Lampung, Jl Sumantri Brodjo Negoro No.1 Gedong Meneng Bandar Lampung

Jadwal PLPG Kemenag :

Tahap I : 29 Agustus – 1 September 2012 (Kelas Bahasa Daerah, Bahasa Indonesia,Bimbingan Konseling, IPA,Biologi,Fisika, Kimia,Ekonomi,Geografi,Matematika, IPS,Sejarah, Bahasa Inggris,PKn)
Tahap II : 7 September – 16 September 2012 (Kelas PKn)
Tahap II : 17 September – 26 September 2012 (Kelas Penjas & Seni Budaya)

Uji Kompetensi Awal (UKA) syarat wajib mengikuti PLPG Tahun 2012, apabila tidak mengikuti Uji Kompetensi Awal (UKA) pada tanggal yang telah ditentukan Panitia Sertifikasi Guru Rayon 107 Universitas Lampung tidak diperbolehkan mengikuti kegiatan PLPG.

Berkaitan dengan hal tersebut di atas kami minta bantuan Saudara untuk menginformasikan kepada para peserta sebagaimana daftar terlampir.

Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Wassalamu ‘alaikum wr.wb.
DOWNLOAD DI BAWAH INI DAFTAR PESERTA UKA DAN PLPG KEMENAG 2012:
uka&plpgkemenag2012

PENGUMUMAN HASIL UJIAN MASUK LOKAL (UML) UNIVERSITAS LAMPUNG (UNILA) 2012

Download hasil UML Unila 2012 di bawah ini:
hasil_uml

UJI KOMPETENSI GURU 2012

BAGI GURU YANG TELAH MENDAPAT SERTIFIKASI AKAN DIADAKAN UKG TAHUN 2012.
DAFTAR PESERTA DAN TEMPAT UJIAN DAPAT DIAKSES PADA LINK BERIKUT: http://ukg.kemdikbud.go.id
ATAU KLIK LINK UKG PADA BLOGROLL DI SEBELAH KANAN.
Download Pedoman UKG di bawah ini:
PedomanUKG
Download Kisi-Kisi Soal UKG di bawah ini:
027-GURU SD
220-PENJASKES-SD
157-BHS INGGRIS-SMA
157-BHS INGGRIS-SMP
157- BAHASA INGGRIS-SD
180-MTK-SMA
180-MTK-SMK-
180-MTK-SMP
097-IPA-SMP
097-IPA-SMK
100- IPS-SMP
100-IPS-SMK
154-PKN-SMP
154-PPKn-SMA
156-BHS INDONESIA-SMP
184-FISIKA-SMA
184-FISIKA-SMK
187-KIMIA-SMA
187-Kimia-SMK
190-BIO-SMA
190-BIO- SMK
204-SEJARAH-SMA PAKET 1
210-EKONOMI-SMA
207-GEOGRAFI-SMA
214-SOSIOLOGI-SMA
215-ANTROPOLOGI-SMA
217 Seni Budaya SMP
220-PENJAS-SMP
220-PENJASKES-SD
220-PENJASORKES-SMA
224-TIK
227 Keterampilan SMA
227 Keterampilan SMP
331-KEWIRAUSAHAAN-SMK
800-KLS-SDLB

PENGUMUMAN PENERIMAAN PNS TAHUN 2012 DI 23 INSTANSI

Pemerintah melakukan rekrutmen PNS tahun 2012 pada 23 Instansi di bawah ini:
1. Kemenko Polhukam

http://www.polkam.go.id

2. Kementerian Dalam Negeri

http://www.depdagri.go.id

3. Kementerian Luar Negeri

https://e-cpns.kemlu.go.id/recruitment/berita/detail/61

4. Kementerian Hukum dan Ham

http://cpns.kemenkumham.go.id/cpns/

5. Kementerian Keuangan

http://rekrutmen.depkeu.go.id/Pengumuman_reghtml.asp

6. Kementerian Perdagangan

http://www.kemendag.go.id/files/banners/file_ina/Pengumuman%20Rekrutmen%20CPNS%20Kemendag%20Tahun%202012_5.pdf

7. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi

http://www.depnakertrans.go.id/ayamjago/doc/Pengumuman.pdf

8. Kementerian Kesehatan

http://www.ropeg-kemenkes.or.id/cpns2012.php

9. Kementerikan Pendidikan dan Kebudayaan (khusus dosen)
http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/sites/default/files/cpns_10Juli2012.pdf (Pengumuman lebih lanjut pada awal Agustus 2012)

10. Kementerian Sekretaris Negera

http://www.setneg.go.id/images/stories/image-news/kontributor/kepegawaian/072012_pengumuman_penerimaan_cpns_2012.pdf

11. Setjen BPK
http://www.bpk.go.id

12. Sektetariat Mahkamah Agung

http://mahkamahagung.go.id/rnews.asp?bid=3172

13. Badan Pusat Statistik (BPS)
http://www.bps.go.id

14. Badan Intelejen Negara

http://www.bin.go.id/karir/detil/107/9/28/06/2012/penerimaan-calon-pegawai-negeri-sipil-badan-intelijen-negara

15. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)

http://rekrutmen.bpkp.go.id/

16. Badan Pengkajian dan Penerapan (BPPT)

http://lowongan.bppt.go.id/

17. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)

http://www.bkpm.go.id/img/cpns_2012.pdf

18. Badan Pertanahan Negera (BPN)

http://www.bpn.go.id/Beranda/Berita—Artikel/Berita/PENERIMAAN-CALON-PEGAWAI-NEGERI-SIPIL-BADAN-PE-%281%29.aspx

19. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM)
http://www.pom.go.id

20. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)

http://www.bmkg.go.id/BMKG_Pusat/Sestama/Biro_Umum/PENERIMAAN_CALON_PEGAWAI_NEGERI_SIPIL_-_CPNS_BMKG_TAHUN_2012.bmkg

21. BNP2TKI http://bnp2tki.go.id/info-mainmenu-281/6996-pengadaan-cpns-di-lingkungan-bnp2tki-2012.html

22. Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) http://www.lkpp.go.id/v2/files/content/file/13072012170838pengumuman%20cpns%202012.pdf

23. Badan Narkotika Nasional (BNN)
http://www.bnn.go.id

Daftar nama 21 Pemda yang ditetapkan melakukan rekruitmen CPNS 2012

1. Kabupaten Labuhan Batu Selatan
http://www.labuhanbatuselatankab.go.id

2. Kota Sungai Penuh

http://www.sungaipenuhkota.go.id/

3. Kabupaten BanyuAsin

http://www.banyuasinkab.go.id/

4. Kabupaten Musi Rawas

http://www.musi-rawas.go.id/

5. Kabupaten Empat Lawang

http://www.empatlawangkab.go.id/

6. Kota Lubuk Linggau

http://www.lubuklinggau.go.id/

7. Kabupaten Lebong

http://www.lebongkab.go.id/

8. Provinsi Bangka Belitung

http://www.babelprov.go.id/

9. Kabupaten Bangka Barat

http://www.bangkabaratkab.go.id/

10. Kabupaten Bangka Tengah

http://www.bangkatengahkab.go.id/

11. Kabupaten Anambas

http://www.anambaskab.go.id/

12. Kabupaten Bogor

http://www.bogorkab.go.id/

13. Kota Bandung

http://www.bandung.go.id/

14. Provinsi Kalimantan Tengah

http://www.kalteng.go.id/

15. Provinsi Bali

http://www.baliprov.go.id/

16. Kabupaten Badung

http://www.badungkab.go.id/

17. Kota Balikpapan

http://www.balikpapan.go.id/

18. Kabupaten Tojo Una Una

http://www.tojounaunakab.go.id/

19. Kabupaten Manggarai Timur

http://www.manggaraitimurkab.go.id/

20. Kabupaten Tulang Bawang

http://www.tulangbawangkab.go.id/

21. Provinsi Jawa Timur

http://www.jatimprov.go.id/

Kemenko Polhukam > Home
http://www.polkam.go.id
Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum & Keamanan Jl. Medan Merdeka Barat No. 15 Jakarta Pusat 10110 Telp. 021 – 3521121, 3520145

PENGUMUMAN HASIL PLPG 2012 RAYON IAIN RADEN INTAN LAMPUNG

PENGUMUMAN HASIL PLPG 2012 RAYON IAIN RADEN INTAN LAMPUNG
TAHAP 1 DAN 2 DOWNLOAD DI BAWAH INI
Pengumuman Kelulusan Angkatan 1
Pengumuman Kelulusan Angk 2

PENGUMUMAN HASIL PLPG 2012 RAYON 107 UNILA UNIVERSITAS LAMPUNG TAHAP 1 – 5

DOWNLOAD HASIL PLPG 2012 RAYON 107 UNILA UNIVERSITAS LAMPUNG TAHAP 1-5 DI BAWAH INI
Kelas Penjas Tahap1-5
Periode 1
Periode 2
Periode 3
Periode 4
Periode 5
syarat_copy

PENGUMUMAN

Nomor : 1206 /UN26/3/PSG/2012

Diumumkan kepada peserta PLPG Tahap ke-1 sampai dengan Tahap ke-5, agar memperhatikan Hal-Hal sebagai berikut:

Hasil PLPG Tahap ke-1 s.d Tahap ke-5 dapat diakses di internet http://fkip.unila.ac.id
Peserta yang mengulang diberi kesempatan mengikuti ujian ulang sebanyak 2x
Pelaksanaan Ujian Ulang I, untuk Tahap ke-1 s.d Tahap ke-5, akan dilaksanakan pada :

Hari / Tanggal : Minggu / 22 Juli 2012

Waktu :

Pkl. 11.00 WIB untuk peserta yang mengulang Ujian Praktik (UP)

Pkl. 13.00 WIB untuk peserta yang mengulang Ujian Tulis Nasional(UTN) dan Ujian Tulis Lokal (UTL)

Tempat : Kampus FKIP Universitas Lampung Jl. Prof. Dr. Sumantri Brodjonegoro No.1 Bandar Lampung.

PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN

PERATURAN PEMERINTAH

NOMOR 19 TAHUN 2005

TENTANG

STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 35 ayat (4), Pasal 36 ayat (4), Pasal 37 ayat (3), Pasal 42 ayat (3), Pasal 43 ayat (2), Pasal 59 ayat (3), Pasal 60 ayat (4), dan Pasal 61 ayat (4) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Standar Nasional Pendidikan;

Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 78 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4301);

MEMUTUSKAN:

Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:

1. Standar nasional pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

3. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.

4. Standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

5. Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.

6. Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan.

7. Standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan.

8. Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.

9. Standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan.

10. Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun.

11. Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik.

12. Biaya operasi satuan pendidikan adalah bagian dari dana pendidikan yang diperlukan untuk membiayai kegiatan operasi satuan pendidikan agar dapat berlangsungnya kegiatan pendidikan yang sesuai standar nasional pendidikan secara teratur dan berkelanjutan.

13. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

14. Kerangka dasar kurikulum adalah rambu-rambu yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah ini untuk dijadikan pedoman dalam penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya pada setiap satuan pendidikan.

15. Kurikulum tingkat satuan pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan.

16. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.

17. Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik.

18. Evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan.

19. Ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk memantau kemajuan dan perbaikan hasil belajar peserta didik .

20. Ujian adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai pengakuan prestasi belajar dan/atau penyelesaian dari suatu satuan pendidikan.

21. Akreditasi adalah kegiatan penilaian kelayakan program dan/atau satuan pendidikan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.

22. Badan Standar Nasional Pendidikan yang selanjutnya disebut BSNP adalah badan mandiri dan independen yang bertugas mengembangkan, memantau pelaksanaan, dan mengevaluasi standar nasional pendidikan;

23. Departemen adalah departemen yang bertanggung jawab di bidang pendidikan;

24. Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan yang selanjutnya disebut LPMP adalah unit pelaksana teknis Departemen yang berkedudukan di provinsi dan bertugas untuk membantu Pemerintah Daerah dalam bentuk supervisi, bimbingan, arahan, saran, dan bantuan teknis kepada satuan pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan nonformal, dalam berbagai upaya penjaminan mutu satuan pendidikan untuk mencapai standar nasional pendidikan;

25. Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah yang selanjutnya disebut BAN-S/M adalah badan evaluasi mandiri yang menetapkan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah jalur formal dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.

26. Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Non Formal yang selanjutnya disebut BAN-PNF adalah badan evaluasi mandiri yang menetapkan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan jalur pendidikan nonformal dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.

27. Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi yang selanjutnya disebut BAN-PT adalah badan evaluasi mandiri yang menetapkan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.

28. Menteri adalah menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang pendidikan.

BAB II

LINGKUP, FUNGSI, DAN TUJUAN

Pasal 2

(1) Lingkup Standar Nasional Pendidikan meliputi:

a. standar isi;

b. standar proses;

c. standar kompetensi lulusan;

d. standar pendidik dan tenaga kependidikan;

e. standar sarana dan prasarana;

f. standar pengelolaan;

g. standar pembiayaan;dan

h. standar penilaian pendidikan.

(2) Untuk penjaminan dan pengendalian mutu pendidikan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan dilakukan evaluasi, akreditasi, dan sertifikasi.

(3) Standar Nasional Pendidikan disempurnakan secara terencana, terarah, dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.

Pasal 3

Standar Nasional Pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.

Pasal 4

Standar Nasional Pendidikan bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.

BAB III

STANDAR ISI

Bagian Kesatu

Umum

Pasal 5

(1). Standar isi mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.

(2). Standar isi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kalender pendidikan/akademik.

Bagian Kedua

Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum

Pasal 6

(1) Kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas:

a. kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia;

b. kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian;

c. kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi;

d. kelompok mata pelajaran estetika;

e. kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan.

(2) Kurikulum untuk jenis pendidikan keagamaan formal terdiri atas kelompok mata pelajaran yang ditentukan berdasarkan tujuan pendidikan keagamaan.

(3) Satuan pendidikan nonformal dalam bentuk kursus dan lembaga pelatihan menggunakan kurikulum berbasis kompetensi yang memuat pendidikan kecakapan hidup dan keterampilan.

(4) Setiap kelompok mata pelajaran dilaksanakan secara holistik sehingga pembelajaran masing-masing kelompok mata pelajaran mempengaruhi pemahaman dan/atau penghayatan peserta didik.

(5) Semua kelompok mata pelajaran sama pentingnya dalam menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah.

(6) Kurikulum dan silabus SD/MI/SDLB/Paket A, atau bentuk lain yang sederajat menekankan pentingnya kemampuan dan kegemaran membaca dan menulis, kecakapan berhitung, serta kemampuan berkomunikasi.

Pasal 7

(1) Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia pada SD/MI/SDLB/Paket A, SMP/MTs/SMPLB/Paket B, SMA/MA/SMALB/ Paket C, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan agama, kewarganegaraan, kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi, estetika, jasmani, olah raga, dan kesehatan.

(2) Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian pada SD/MI/SDLB/Paket A, SMP/MTs/SMPLB/Paket B, SMA/MA/SMALB/ Paket C, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan agama, akhlak mulia, kewarganegaraan, bahasa, seni dan budaya, dan pendidikan jasmani.

(3) Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SD/MI/ SDLB/Paket A, atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, keterampilan/kejuruan, dan muatan lokal yang relevan.

(4) Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMP/MTs/SMPLB/Paket B, atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, keterampilan/kejuruan, dan/atau teknologi informasi dan komunikasi, serta muatan lokal yang relevan.

(5) Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMA/MA/SMALB/Paket C, atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, keterampilan/kejuruan, teknologi informasi dan komunikasi, serta muatan lokal yang relevan.

(6) Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, keterampilan, kejuruan, teknologi informasi dan komunikasi, serta muatan lokal yang relevan.

(7) Kelompok mata pelajaran estetika pada SD/MI/SDLB/Paket A, SMP/MTs/SMPLB/Paket B, SMA/MA/SMALB/Paket C, SMK/ MAK, atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, seni dan budaya, keterampilan, dan muatan lokal yang relevan.

(8) Kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan pada SD/MI/SDLB/ Paket A, SMP/MTs/SMPLB/Paket B, SMA/MA/SMALB/ Paket C, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan pendidikan jasmani, olahraga, pendidikan kesehatan, ilmu pengetahuan alam, dan muatan lokal yang relevan.

Pasal 8

(1) Kedalaman muatan kurikulum pada setiap satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi pada setiap tingkat dan/atau semester sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan.

(2) Kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas standar kompetensi dan kompetensi dasar.

(3) Ketentuan mengenai kedalaman muatan kurikulum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

Pasal 9

(1) Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan tinggi dikembangkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan untuk setiap program studi.

(2) Kurikulum tingkat satuan pendidikan tinggi wajib memuat mata kuliah pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.

(3) Selain ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), kurikulum tingkat satuan pendidikan tinggi program Sarjana dan Diploma wajib memuat mata kuliah yang bermuatan kepribadian, kebudayaan, serta mata kuliah Statistika, dan/atau Matematika.

(4) Kurikulum tingkat satuan pendidikan dan kedalaman muatan kurikulum pendidikan tinggi diatur oleh perguruan tinggi masing-masing.

Bagian Ketiga

Beban Belajar

Pasal 10

(1) Beban belajar untuk SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMLB, SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat menggunakan jam pembelajaran setiap minggu setiap semester dengan sistem tatap muka, penugasan terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur, sesuai kebutuhan dan ciri khas masing-masing.

(2) MI/MTs/MA atau bentuk lain yang sederajat dapat menambahkan beban belajar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia serta kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian sesuai dengan kebutuhan dan ciri khasnya.

(3) Ketentuan mengenai beban belajar, jam pembelajaran, waktu efektif tatap muka, dan persentase beban belajar setiap kelompok matapelajaran ditetapkan dengan Peraturan Menteri berdasarkan usulan BSNP.

Pasal 11

(1) Beban belajar untuk SMP/MTs/SMPLB, atau bentuk lain yang sederajat dapat dinyatakan dalam satuan kredit semester (SKS).

(2) Beban belajar untuk SMA/MA/SMLB, SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat pada jalur pendidikan formal kategori standar dapat dinyatakan dalam satuan kredit semester.

(3) Beban belajar untuk SMA/MA/SMLB, SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat pada jalur pendidikan formal kategori mandiri dinyatakan dalam satuan kredit semester.

(4) Beban belajar minimal dan maksimal bagi satuan pendidikan yang menerapkan sistem SKS ditetapkan dengan Peraturan Menteri berdasarkan usul dari BSNP.

Pasal 12

(1) Beban belajar pada pendidikan kesetaraan disampaikan dalam bentuk tatap muka, praktek keterampilan, dan kegiatan mandiri yang terstruktur sesuai dengan kebutuhan.

(2) Beban belajar efektif per tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan dengan Peraturan Menteri berdasarkan usulan BSNP.

Pasal 13

(1) Kurikulum untuk SMP/MTs/SMPLB atau bentuk lain yang sederajat, SMA/MA/SMALB atau bentuk lain yang sederajat, SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat memasukkan pendidikan kecakapan hidup.

(2) Pendidikan kecakapan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup kecakapan pribadi, kecakapan sosial, kecakapan akademik, dan kecakapan vokasional.

(3) Pendidikan kecakapan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) dapat merupakan bagian dari pendidikan kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, pendidikan kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, pendidikan kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, kelompok mata pelajaran pendidikan estetika, atau kelompok mata pelajaran pendidikan jasmani, olah raga, dan kesehatan.

(4) Pendidikan kecakapan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1), (2), dan (3) dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan yang bersangkutan atau dari satuan pendidikan nonformal yang sudah memperoleh akreditasi.

Pasal 14

(1) Kurikulum untuk SMP/MTs/SMPLB atau bentuk lain yang sederajat dan kurikulum untuk SMA/MA/SMALB atau bentuk lain yang sederajat dapat memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal.

(2) Pendidikan berbasis keunggulan lokal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat merupakan bagian dari pendidikan kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, pendidikan kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, pendidikan kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, pendidikan kelompok mata pelajaran estetika, atau kelompok mata pelajaran pendidikan jasmani, olah raga, dan kesehatan.

(3) Pendidikan berbasis keunggulan lokal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) dapat diperoleh peserta didik dari satuan pendidikan yang bersangkutan atau dari satuan pendidikan nonformal yang sudah memperoleh akreditasi.

Pasal 15

(1) Beban SKS minimal dan maksimal program pendidikan pada pendidikan tinggi dirumuskan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

(2) Beban SKS efektif program pendidikan pada pendidikan tinggi diatur oleh masing-masing perguruan tinggi.

Bagian Keempat

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Pasal 16

(1) Penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang disusun oleh BSNP.

(2) Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berisi sekurang-kurangnya:

a. Model-model kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk SD/MI/ SDLB/SMP/MTs/SMPLB/SMA/MA/SMALB, dan SMK/MAK pada jalur pendidikan formal kategori standar;

b. Model-model kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk SD/MI/ SDLB/SMP/MTs/SMPLB/SMA/MA/SMALB, dan SMK/MAK pada jalur pendidikan formal kategori mandiri;

(3) Penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah keagamaan berpedoman pada panduan yang disusun oleh BSNP.

(4) Panduan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berisi sekurang-kurangnya model-model kurikulum satuan pendidikan keagamaan jenjang pendidikan dasar dan menengah.

(5) Model-model kurikulum tingkat satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan (4) sekurang-kurangnya meliputi model kurikulum tingkat satuan pendidikan apabila menggunakan sistem paket dan model kurikulum tingkat satuan pendidikan apabila menggunakan sistem kredit semester.

Pasal 17

(1) Kurikulum tingkat satuan pendidikan SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik.

(2) Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggungjawab di bidang pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK, dan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK.

(3) Kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya untuk program paket A, B, dan C ditetapkan oleh dinas kabupaten/kota yang bertanggungjawab di bidang pendidikan berdasarkan kerangka dasar kurikulum sesuai dengan peraturan pemerintah ini dan standar kompetensi lulusan.

(4) Kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk setiap program studi di perguruan tinggi dikembangkan dan ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi dengan mengacu Standar Nasional Pendidikan.

Bagian Kelima

Kalender Pendidikan/Akademik

Pasal 18

(1) Kalender pendidikan/kalender akademik mencakup permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif, dan hari libur.

(2) Hari libur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk jeda tengah semester selama-lamanya satu minggu dan jeda antar semester.

(3) Kalender pendidikan/akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk setiap satuan pendidikan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri.

BAB IV

STANDAR PROSES

Pasal 19

(1) Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

(2) Selain ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dalam proses pembelajaran pendidik memberikan keteladanan.

(3) Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.

Pasal 20

Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar.

Pasal 21

(1) Pelaksanaan proses pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (3) harus memperhatikan jumlah maksimal peserta didik per kelas dan beban mengajar maksimal per pendidik, rasio maksimal buku teks pelajaran setiap peserta didik, dan rasio maksimal jumlah peserta didik setiap pendidik.

(2) Pelaksanaan proses pembelajaran dilakukan dengan mengembangkan budaya membaca dan menulis.

Pasal 22

(1) Penilaian hasil pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (3) pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai.

(2) Teknik penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa tes tertulis, observasi, tes praktek, dan penugasan perseorangan atau kelompok.

(3) Untuk mata pelajaran selain kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, teknik penilaian observasi secara individual sekurang-kurangnya dilaksanakan satu kali dalam satu semester.

Pasal 23

Pengawasan proses pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (3) meliputi pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan, dan pengambilan langkah tindak lanjut yang diperlukan.

Pasal 24

Standar perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran dan pengawasan proses pembelajaran dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

BAB V

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN

Pasal 25

(1) Standar kompetensi lulusan digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan.

(2) Standar kompetensi lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran dan mata kuliah atau kelompok mata kuliah.

(3) Kompetensi lulusan untuk mata pelajaran bahasa menekankan pada kemampuan membaca dan menulis yang sesuai dengan jenjang pendidikan.

(4) Kompetensi lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Pasal 26

(1) Standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan dasar bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahklak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.

(2) Standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan menengah umum bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahklak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.

(3) Standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan menengah kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, ahklak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.

(4) Standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan tinggi bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang berakhlak mulia, memiliki pengetahuan, keterampilan, kemandirian, dan sikap untuk menemukan, mengembangkan, serta menerapkan ilmu, teknologi, dan seni, yang bermanfaat bagi kemanusiaan.

Pasal 27

(1) Standar kompetensi lulusan pendidikan dasar dan menengah dan pendidikan nonformal dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

(2) Standar kompetensi lulusan pendidikan tinggi ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi.

BAB VI

STANDAR PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

Bagian Kesatu

Pendidik

Pasal 28

(1) Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

(2) Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

(3) Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi:

a. Kompetensi pedagogik;

b. Kompetensi kepribadian;

c. Kompetensi profesional; dan

d. Kompetensi sosial.

(4) Seseorang yang tidak memiliki ijazah dan/atau sertifikat keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tetapi memiliki keahlian khusus yang diakui dan diperlukan dapat diangkat menjadi pendidik setelah melewati uji kelayakan dan kesetaraan.

(5) Kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan (4) dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

Pasal 29

(1) Pendidik pada pendidikan anak usia dini memiliki:

a. kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1)

b. latar belakang pendidikan tinggi di bidang pendidikan anak usia dini, kependidikan lain, atau psikologi; dan

c. sertifikat profesi guru untuk PAUD

(2) Pendidik pada SD/MI, atau bentuk lain yang sederajat memiliki:

a. kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1)

b. latar belakang pendidikan tinggi di bidang pendidikan SD/MI, kependidikan lain, atau psikologi; dan

c. sertifikat profesi guru untuk SD/MI

(3) Pendidik pada SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat memiliki:

a. kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1)

b. latar belakang pendidikan tinggi dengan program pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan; dan

c. sertifikat profesi guru untuk SMP/MTs

(4) Pendidik pada SMA/MA, atau bentuk lain yang sederajat memiliki:

kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1)
latar belakang pendidikan tinggi dengan program pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan; dan
sertifikat profesi guru untuk SMA/MA

(5) Pendidik pada SDLB/SMPLB/SMALB, atau bentuk lain yang sederajat memiliki:

a. kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) latar belakang pendidikan tinggi dengan program pendidikan khusus atau sarjana yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan; dan

b. sertifikat profesi guru untuk SDLB/SMPLB/SMALB.

(6) Pendidik pada SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat memiliki:

a. kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1)

b. latar belakang pendidikan tinggi dengan program pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan; dan

c. sertifikat profesi guru untuk SMK/MAK.

Pasal 30

(1) Pendidik pada TK/RA sekurang-kurangnya terdiri atas guru kelas yang penugasannya ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan sesuai dengan keperluan.

(2) Pendidik pada SD/MI sekurang-kurangnya terdiri atas guru kelas dan guru mata pelajaran yang penugasannya ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan sesuai dengan keperluan.

(3) Guru mata pelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya mencakup guru kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia serta guru kelompok mata pelajaran pendidikan jasmani, olah raga, dan kesehatan.

(4) Pendidik pada SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat dan SMA/MA, atau bentuk lain yang sederajat terdiri atas guru mata pelajaran yang penugasannya ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan sesuai dengan keperluan.

(5) Pendidik pada SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat terdiri atas guru mata pelajaran dan instruktur bidang kejuruan yang penugasannya ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan sesuai dengan keperluan.

(6) Pendidik pada SDLB, SMPLB, dan SMALB terdiri atas guru mata pelajaran dan pembimbing yang penugasannya ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan sesuai dengan keperluan.

(7) Pendidik pada satuan pendidikan Paket A, Paket B dan Paket C terdiri atas tutor penanggungjawab kelas, tutor penanggungjawab mata pelajaran, dan nara sumber teknis yang penugasannya ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan sesuai dengan keperluan.

(8) Pendidik pada lembaga kursus dan pelatihan keterampilan terdiri atas pengajar, pembimbing, pelatih atau instruktur, dan penguji.

Pasal 31

(1) Pendidik pada pendidikan tinggi memiliki kualifikasi pendidikan minimum:

lulusan diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) untuk program diploma;
lulusan program magister (S2) untuk program sarjana (S1); dan
lulusan program doktor (S3) untuk program magister (S2) dan program doktor (S3).

(2) Selain kualifikasi pendidik sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) butir a, pendidik pada program vokasi harus memiliki sertifikat kompetensi sesuai dengan tingkat dan bidang keahlian yang diajarkan yang dihasilkan oleh perguruan tinggi.

(3) Selain kualifikasi pendidik sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) butir b, pendidik pada program profesi harus memiliki sertifikat kompetensi setelah sarjana sesuai dengan tingkat dan bidang keahlian yang diajarkan yang dihasilkan oleh perguruan tinggi.

Pasal 32

(1) Pendidik kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar sebagaimana diatur dalam Pasal 28 sampai dengan pasal 31.

(2) Selain syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 sampai dengan Pasal 31 menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama dapat memberikan kriteria tambahan.

Pasal 33

(1) Pendidik di lembaga kursus dan lembaga pelatihan keterampilan harus memiliki kualifikasi dan kompetensi minimum yang dipersyaratkan.

(2) Kualifikasi dan kompetensi minimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

Pasal 34

Rasio pendidik terhadap peserta didik ditetapkan dalam Peraturan Menteri berdasarkan usulan dari BSNP.

Bagian Kedua

Tenaga Kependidikan

Pasal 35

(1) Tenaga kependidikan pada:

a. TK/RA atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala TK/RA dan tenaga kebersihan TK/RA.

b. SD/MI atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah/madrasah, tenaga administrasi, tenaga perpustakaan, dan tenaga kebersihan sekolah/madrasah.

c. SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat dan SMA/MA, atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah/madrasah, tenaga administrasi, tenaga perpustakaan, tenaga laboratorium, dan tenaga kebersihan sekolah/madrasah.

d. SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah/madrasah, tenaga administrasi, tenaga perpustakaan, tenaga laboratorium, dan tenaga kebersihan sekolah/madrasah.

e. SDLB, SMPLB, dan SMALB atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekolah, tenaga administrasi, tenaga perpustakaan, tenaga laboratorium, tenaga kebersihan sekolah, teknisi sumber belajar, psikolog, pekerja sosial, dan terapis.

f. Paket A, Paket B dan Paket C sekurang-kurangnya terdiri atas pengelola kelompok belajar, tenaga administrasi, dan tenaga perpustakaan.

g. lembaga kursus dan lembaga pelatihan keterampilan sekurang-kurangnya terdiri atas pengelola atau penyelenggara, teknisi, sumber belajar, pustakawan, dan laboran.

(2) Standar untuk setiap jenis tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

Pasal 36

(1) Tenaga Kependidikan pada pendidikan tinggi harus memiliki kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi sesuai dengan bidang tugasnya.

(2) Kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

Pasal 37

(1) Tenaga kependidikan di lembaga kursus dan pelatihan harus memiliki kualifikasi dan kompetensi minimum yang dipersyaratkan.

(2) Ketentuan lebih lanjut tentang standar tenaga kependidikan pada lembaga kursus dan pelatihan dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

Pasal 38

(1) Kriteria untuk menjadi kepala TK/RA meliputi:

a. Berstatus sebagai guru TK/RA;

b. Memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku;

c. Memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun di TK/RA; dan

d. Memiliki kemampuan kepimpinanan dan kewirausahaan di bidang pendidikan.

(2) Kriteria untuk menjadi kepala SD/MI meliputi:

a. Berstatus sebagai guru SD/MI;

b. Memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku;

c. Memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun di SD/MI; dan

d. Memiliki kemampuan kepimpinanan dan kewirausahaan di bidang pendidikan.

(3) Kriteria untuk menjadi kepala SMP/MTs/SMA/MA/SMK/MAK meliputi:

a. Berstatus sebagai guru SMP/MTS/SMA/MA/SMK/MAK;

b. Memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku;

c. Memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun di SMP/MTs/SMA/MA/SMK/MAK; dan

d. Memiliki kemampuan kepimpinanan dan kewirausahaan di bidang pendidikan.

(4) Kriteria untuk menjadi kepala SDLB/SMPLB/SMALB meliputi:

a. Berstatus sebagai guru pada satuan pendidikan khusus;

b. Memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku;

c. Memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun di satuan pendidikan khusus; dan

d. Memiliki kemampuan kepimpinanan, pengelolaan, dan kewirausahaan di bidang pendidikan khusus.

(5) Kriteria kepala satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan (4) dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

Pasal 39

(1) Pengawasan pada pendidikan formal dilakukan oleh pengawas satuan pendidikan.

(2) Kriteria minimal untuk menjadi pengawas satuan pendidikan meliputi:

a. Berstatus sebagai guru sekurang-kurangnya 8 (delapan) tahun atau kepala sekolah sekurang-kurangnya 4 (empat) tahun pada jenjang pendidikan yang sesuai dengan satuan pendidikan yang diawasi;

b. memiliki sertifikat pendidikan fungsional sebagai pengawas satuan pendidikan;

c. lulus seleksi sebagai pengawas satuan pendidikan.

(3) Kriteria pengawas suatu satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

Pasal 40

(1) Pengawasan pada pendidikan nonformal dilakukan oleh penilik satuan pendidikan.

(2) Kriteria minimal untuk menjadi penilik adalah:

a. Berstatus sebagai pamong belajar/pamong atau jabatan sejenis di lingkungan pendidikan luar sekolah dan pemuda sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun, atau pernah menjadi pengawas satuan pendidikan formal;

b. memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku;

c. memiliki sertifikat pendidikan fungsional sebagai penilik; dan

d. lulus seleksi sebagai penilik.

(3) Kriteria penilik suatu satuan pendidikan sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) dan ayat (2) dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

Pasal 41

(1) Setiap satuan pendidikan yang melaksanakan pendidikan inklusif harus memiliki tenaga kependidikan yang mempunyai kompetensi menyelenggarakan pembelajaran bagi peserta didik dengan kebutuhan khusus.

(2) Kriteria penyelenggaraan pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

BAB VII

STANDAR SARANA DAN PRASARANA

Pasal 42

(1) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

(2) Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

Pasal 43

(1) Standar keragaman jenis peralatan laboratorium ilmu pengetahuan alam (IPA), laboratorium bahasa, laboratorium komputer, dan peralatan pembelajaran lain pada satuan pendidikan dinyatakan dalam daftar yang berisi jenis minimal peralatan yang harus tersedia.

(2) Standar jumlah peralatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan dalam rasio minimal jumlah peralatan per peserta didik.

(3) Standar buku perpustakaan dinyatakan dalam jumlah judul dan jenis buku di perpustakaan satuan pendidikan.

(4) Standar jumlah buku teks pelajaran di perpustakaan dinyatakan dalam rasio minimal jumlah buku teks pelajaran untuk masing-masing mata pelajaran di perpustakaan satuan pendidikan untuk setiap peserta didik.

(5) Kelayakan isi, bahasa, penyajian, dan kegrafikaan buku teks pelajaran dinilai oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

(6) Standar sumber belajar lainnya untuk setiap satuan pendidikan dinyatakan dalam rasio jumlah sumber belajar terhadap peserta didik sesuai dengan jenis sumber belajar dan karakteristik satuan pendidikan.

Pasal 44

(1) Lahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (2) untuk bangunan satuan pendidikan, lahan praktek, lahan untuk prasarana penunjang, dan lahan pertamanan untuk menjadikan satuan pendidikan suatu lingkungan yang secara ekologis nyaman dan sehat.

(2) Standar lahan satuan pendidikan dinyatakan dalam rasio luas lahan per peserta didik.

(3) Standar letak lahan satuan pendidikan mempertimbangkan letak lahan satuan pendidikan di dalam klaster satuan pendidikan sejenis dan sejenjang, serta letak lahan satuan pendidikan di dalam klaster satuan pendidikan yang menjadi pengumpan masukan peserta didik.

(4) Standar letak lahan satuan pendidikan mempertimbangkan jarak tempuh maksimal yang harus dilalui oleh peserta didik untuk menjangkau satuan pendidikan tersebut.

(5) Standar letak lahan satuan pendidikan mempertimbangkan keamanan, kenyamanan, dan kesehatan lingkungan.

Pasal 45

(1) Standar rasio luas ruang kelas per peserta didik dirumuskan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

(2) Standar rasio luas bangunan per peserta didik dirumuskan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

(3) Standar kualitas bangunan minimal pada satuan pendidikan dasar dan menengah adalah kelas B.

(4) Standar kualitas bangunan minimal pada satuan pendidikan tinggi adalah kelas A.

(5) Pada daerah rawan gempa bumi atau tanahnya labil, bangunan satuan pendidikan harus memenuhi ketentuan standar bangunan tahan gempa.

(6) Standar kualitas bangunan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), (4), dan (5) mengacu pada ketetapan menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang pekerjaan umum.

Pasal 46

(1) Satuan pendidikan yang memiliki peserta didik, pendidik, dan/atau tenaga kependidikan yang memerlukan layanan khusus wajib menyediakan akses ke sarana dan prasarana yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

(2) Kriteria penyediaan akses sarana dan prasarana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

Pasal 47

(1) Pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 sampai dengan Pasal 46 menjadi tanggung jawab satuan pendidikan yang bersangkutan.

(2) Pemeliharaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara berkala dan berkesinambungan dengan memperhatikan masa pakai.

(3) Pengaturan tentang masa pakai sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

Pasal 48

Standar sarana dan prasarana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 sampai 47 dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

BAB VIII

STANDAR PENGELOLAAN

Bagian Kesatu

Standar Pengelolaan Oleh Satuan Pendidikan

Pasal 49

(1) Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas

(2) Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi menerapkan otonomi perguruan tinggi yang dalam batas-batas yang diatur dalam ketentuan perundang-undangan yang berlaku memberikan kebebasan dan mendorong kemandirian dalam pengelolaan akademik, operasional, personalia, keuangan, dan area fungsional kepengelolaan lainnya yang diatur oleh masing-masing perguruan tinggi.

Pasal 50

(1) Setiap satuan pendidikan dipimpin oleh seorang kepala satuan sebagai penanggung jawab pengelolaan pendidikan.

(2) Dalam melaksanakan tugasnya kepala satuan pendidikan SMP/MTs/ SMPLB, atau bentuk lain yang sederajat dibantu minimal oleh satu orang wakil kepala satuan pendidikan.

(3) Pada satuan pendidikan SMA/MA/SMALB, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat kepala satuan pendidikan dalam melaksanakan tugasnya dibantu minimal oleh tiga wakil kepala satuan pendidikan yang masing-masing secara berturut-turut membidangi akademik, sarana dan prasarana, serta kesiswaan.

Pasal 51

(1) Pengambilan keputusan pada satuan pendidikan dasar dan menengah di bidang akademik dilakukan oleh rapat Dewan Pendidik yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan.

(2) Pengambilan keputusan pada satuan pendidikan dasar dan menengah di bidang non-akademik dilakukan oleh komite sekolah/madrasah yang dihadiri oleh kepala satuan pendidikan.

(3) Rapat dewan pendidik dan komite sekolah/madrasah dilaksanakan atas dasar prinsip musyawarah mufakat yang berorientasi pada peningkatan mutu satuan pendidikan.

Pasal 52

(1) Setiap satuan pendidikan harus memiliki pedoman yang mengatur tentang:

a. Kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabus;

b. Kalender pendidikan/akademik, yang menunjukkan seluruh kategori aktivitas satuan pendidikan selama satu tahun dan dirinci secara semesteran, bulanan, dan mingguan;

c. Struktur organisasi satuan pendidikan;

d. Pembagian tugas di antara pendidik;

e. Pembagian tugas di antara tenaga kependidikan;

f. Peraturan akademik;

g. Tata tertib satuan pendidikan, yang minimal meliputi tata tertib pendidik, tenaga kependidikan dan peserta didik, serta penggunaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana;

h. Kode etik hubungan antara sesama warga di dalam lingkungan satuan pendidikan dan hubungan antara warga satuan pendidikan dengan masyarakat;

i. Biaya operasional satuan pendidikan.

(2) Pedoman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) butir a, b, d, e, f, dan h diputuskan oleh rapat dewan pendidik dan ditetapkan oleh kepala satuan pendidikan.

(3) Pedoman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) butir c dan i diputuskan oleh komite sekolah/madrasah dan ditetapkan oleh kepala satuan pendidikan.

(4) Pedoman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) butir g ditetapkan oleh kepala satuan pendidikan setelah mempertimbangkan masukan dari rapat dewan pendidik dan komite sekolah/madrasah.

(5) Pedoman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) butir e ditetapkan oleh pimpinan satuan pendidikan.

(6) Pedoman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk pendidikan tinggi diatur oleh masing-masing perguruan tinggi sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 53

(1) Setiap satuan pendidikan dikelola atas dasar rencana kerja tahunan yang merupakan penjabaran rinci dari rencana kerja jangka menengah satuan pendidikan yang meliputi masa 4 (empat) tahun.

(2) Rencana kerja tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a. kalender pendidikan/akademik yang meliputi jadwal pembelajaran, ulangan, ujian, kegiatan ekstrakurikuler, dan hari libur;

b. jadwal penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk tahun ajaran berikutnya;

c. mata pelajaran atau mata kuliah yang ditawarkan pada semester gasal, semester genap, dan semester pendek bila ada;

d. penugasan pendidik pada mata pelajaran atau mata kuliah dan kegiatan lainnya;

e. buku teks pelajaran yang dipakai pada masing-masing mata pelajaran;

f. jadwal penggunaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana pembelajaran;

g. pengadaan, penggunaan, dan persediaan minimal bahan habis pakai;

h. program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan yang meliputi sekurang-kurangnya jenis, durasi, peserta, dan penyelenggara program;

i. jadwal rapat Dewan Pendidik, rapat konsultasi satuan pendidikan dengan orang tua/wali peserta didik, dan rapat satuan pendidikan dengan komite sekolah/madrasah, untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah;

j. jadwal rapat Dewan Dosen dan rapat Senat Akademik untuk jenjang pendidikan tinggi;

k. rencana anggaran pendapatan dan belanja satuan pendidikan untuk masa kerja satu tahun;

l. jadwal penyusunan laporan akuntabilitas dan kinerja satuan pendidikan untuk satu tahun terakhir.

(3) Untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah, rencana kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) harus disetujui rapat dewan pendidik setelah memperhatikan pertimbangan dari Komite Sekolah/Madrasah.

(4) Untuk jenjang pendidikan tinggi, rencana kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) harus disetujui oleh lembaga berwenang sebagaimana diatur oleh masing-masing perguruan tinggi sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 54

(1) Pengelolaan satuan pendidikan dilaksanakan secara mandiri, efisien, efektif, dan akuntabel.

(2) Pelaksanaan pengelolaan satuan pendidikan untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah yang tidak sesuai dengan rencana kerja tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 harus mendapat persetujuan dari rapat dewan pendidik dan komite sekolah/madrasah

(3) Pelaksanaan pengelolaan satuan pendidikan untuk jenjang pendidikan tinggi yang tidak sesuai dengan rencana kerja tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 harus mendapat persetujuan dari lembaga berwenang sebagaimana diatur oleh masing-masing perguruan tinggi sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

(4) Pelaksanaan pengelolaan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dipertanggungjawabkan oleh kepala satuan pendidikan kepada rapat dewan pendidik dan komite sekolah/madrasah.

(5) Pelaksanaan pengelolaan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi dipertanggungjawabkan oleh kepala satuan pendidikan kepada lembaga berwenang sebagaimana diatur oleh masing-masing perguruan tinggi sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 55

Pengawasan satuan pendidikan meliputi pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan, dan tindak lanjut hasil pengawasan.

Pasal 56

Pemantauan dilakukan oleh pimpinan satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah atau bentuk lain dari lembaga perwakilan pihak-pihak yang berkepentingan secara teratur dan berkesinambungan untuk menilai efisiensi, efektivitas, dan akuntabilitas satuan pendidikan.

Pasal 57

Supervisi yang meliputi supervisi manajerial dan akademik dilakukan secara teratur dan berkesinambungan oleh pengawas atau penilik satuan pendidikan dan kepala satuan pendidikan.

Pasal 58

(1) Pelaporan dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, dan pengawas atau penilik satuan pendidikan.

(2) Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, laporan oleh pendidik ditujukan kepada pimpinan satuan pendidikan dan orang tua/wali peserta didik, berisi hasil evaluasi dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan dilakukan sekurang-kurangnya setiap akhir semester.

(3) Laporan oleh tenaga kependidikan ditujukan kepada pimpinan satuan pendidikan, berisi pelaksanaan teknis dari tugas masing-masing dan dilakukan sekurang-kurangnya setiap akhir semester.

(4) Untuk pendidikan dasar dan menengah, laporan oleh pimpinan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan kepada komite sekolah/madrasah dan pihak-pihak lain yang berkepentingan, yang berisi hasil evaluasi dan dilakukan sekurang-kurangnya setiap akhir semester.

(5) Untuk pendidikan dasar, menengah, dan non formal laporan oleh pengawas atau penilik satuan pendidikan ditujukan kepada Bupati/Walikota melalui Dinas Kabupaten/Kota yang bertanggungjawab di bidang pendidikan dan satuan pendidikan yang bersangkutan.

(6) Untuk pendidikan dasar dan menengah keagamaan, laporan oleh pengawas satuan pendidikan ditujukan kepada Kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota dan satuan pendidikan yang bersangkutan.

(7) Untuk jenjang pendidikan tinggi, laporan oleh kepala satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan kepada Menteri, berisi hasil evaluasi dan dilakukan sekurang-kurangnya setiap akhir semester.

(8) Setiap pihak yang menerima laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (7) wajib menindak lanjuti laporan tersebut untuk meningkatkan mutu satuan pendidikan, termasuk memberikan sanksi atas pelanggaran yang ditemukannya.

Bagian Kedua

Standar Pengelolaan Oleh Pemerintah Daerah

Pasal 59

(1) Pemerintah Daerah menyusun rencana kerja tahunan bidang pendidikan dengan memprioritaskan program:

a. wajib belajar;

b. peningkatan angka partisipasi pendidikan untuk jenjang pendidikan menengah;

c. penuntasan pemberantasan buta aksara;

d. penjaminan mutu pada satuan pendidikan, baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah maupun masyarakat;

e. peningkatan status guru sebagai profesi;

f. akreditasi pendidikan;

g. peningkatan relevansi pendidikan terhadap kebutuhan masyarakat; dan

h. pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang pendidikan.

(2) Realisasi rencana kerja tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disetujui dan dipertanggungjawabkan oleh Gubernur atau Bupati/Walikota sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Bagian Ketiga

Standar Pengelolaan Oleh Pemerintah

Pasal 60

Pemerintah menyusun rencana kerja tahunan bidang pendidikan dengan memprioritaskan program:

a. wajib belajar;

b. peningkatan angka partisipasi pendidikan untuk jenjang pendidikan menengah dan tinggi;

c. penuntasan pemberantasan buta aksara;

d. penjaminan mutu pada satuan pendidikan, baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah maupun masyarakat;

e. peningkatan status guru sebagai profesi;

f. peningkatan mutu dosen;

g. standarisasi pendidikan;

h. akreditasi pendidikan;

i. peningkatan relevansi pendidikan terhadap kebutuhan lokal, nasional, dan global;

j. pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang pendidikan; dan

k. Penjaminan mutu pendidikan nasional.

Pasal 61

(1) Pemerintah bersama-sama pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada jenjang pendidikan menengah untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan bertaraf internasional.

(2) Menteri menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan bertaraf internasional.

BAB IX

STANDAR PEMBIAYAAN

Pasal 62

(1) Pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi, biaya operasi, dan biaya personal.

(2) Biaya investasi satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumberdaya manusia, dan modal kerja tetap.

(3) Biaya personal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan.

(4) Biaya operasi satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a. gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji,

b. bahan atau peralatan pendidikan habis pakai, dan

c. biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya, air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak, asuransi, dan lain sebagainya.

(5) Standar biaya operasi satuan pendidikan ditetapkan dengan Peraturan Menteri berdasarkan usulan BSNP.

BAB X

STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN

Bagian Kesatu

Umum

Pasal 63

(1) Penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas:

a. penilaian hasil belajar oleh pendidik;

b. penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan; dan

c. penilaian hasil belajar oleh Pemerintah.

(2) Penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi terdiri atas:

a. penilaian hasil belajar oleh pendidik; dan

b. penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan tinggi.

(3) Penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur oleh masing-masing perguruan tinggi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Bagian Kedua

Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik

Pasal 64

(1) Penilaian hasil belajar oleh pendidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 ayat 1 butir a dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas.

(2) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk:

menilai pencapaian kompetensi peserta didik;

bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar; dan

memperbaiki proses pembelajaran.

(3) Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia serta kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian dilakukan melalui:

a. pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan kepribadian peserta didik; serta

b. ujian, ulangan, dan/atau penugasan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik.

(4) Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi diukur melalui ulangan, penugasan, dan/atau bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik materi yang dinilai

(5) Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran estetika dilakukan melalui pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan afeksi dan ekspresi psikomotorik peserta didik.

(6) Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan dilakukan melalui:

a. pengamatan terhadap perubahan perilaku dan sikap untuk menilai perkembangan psikomotorik dan afeksi peserta didik; dan

b. ulangan, dan/atau penugasan untuk mengukur aspek kognitif peserta didik.

(7) Untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah BSNP menerbitkan panduan penilaian untuk:

a. kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia;

b. kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian;

c. kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi;

d. kelompok mata pelajaran estetika; dan

e. kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan.

Bagian Ketiga

Penilaian Hasil Belajar oleh Satuan Pendidikan

Pasal 65

(1) Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 ayat (1) butir b bertujuan menilai pencapaian standar kompetensi lulusan untuk semua mata pelajaran.

(2) Penilaian hasil belajar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk semua mata pelajaran pada kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan merupakan penilaian akhir untuk menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan.

(3) Penilaian akhir sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mempertimbangkan hasil penilaian peserta didik oleh pendidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64.

(4) Penilaian hasil belajar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk semua mata pelajaran pada kelompok ilmu pengetahuan dan teknologi dilakukan melalui ujian sekolah/madrasah untuk menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan.

(5) Untuk dapat mengikuti ujian sekolah/madrasah sebagaimana dimaksud pada ayat (4), peserta didik harus mendapatkan nilai yang sama atau lebih besar dari nilai batas ambang kompetensi yang dirumuskan oleh BSNP, pada kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, serta kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan.

(6) Ketentuan mengenai penilaian akhir dan ujian sekolah/madrasah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri berdasarkan usulan BSNP.

Bagian Keempat

Penilaian Hasil Belajar oleh Pemerintah

Pasal 66

(1) Penilaian hasil belajar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 ayat (1) butir c bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan teknologi dan dilakukan dalam bentuk ujian nasional.

(2) Ujian nasional dilakukan secara obyektif, berkeadilan, dan akuntabel.

(3) Ujian nasional diadakan sekurang-kurangnya satu kali dan sebanyak-banyaknya dua kali dalam satu tahun pelajaran.

Pasal 67

(1) Pemerintah menugaskan BSNP untuk menyelenggarakan ujian nasional yang diikuti peserta didik pada setiap satuan pendidikan jalur formal pendidikan dasar dan menengah dan jalur nonformal kesetaraan.

(2) Dalam penyelenggaraan ujian nasional BSNP bekerja sama dengan instansi terkait di lingkungan Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/ Kota, dan satuan pendidikan.

(3) Ketentuan mengenai ujian nasional diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri.

Pasal 68

Hasil ujian nasional digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk:

a. pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan;

b. dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya;

c. penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan;

d. pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upayanya untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Pasal 69

(1) Setiap peserta didik jalur formal pendidikan dasar dan menengah dan pendidikan jalur nonformal kesetaraan berhak mengikuti ujian nasional dan berhak mengulanginya sepanjang belum dinyatakan lulus dari satuan pendidikan.

(2) Setiap peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mengikuti satu kali ujian nasional tanpa dipungut biaya.

(3) Peserta didik pendidikan informal dapat mengikuti ujian nasional setelah memenuhi syarat yang ditetapkan oleh BSNP.

(4) Peserta ujian nasional memperoleh surat keterangan hasil ujian nasional yang diterbitkan oleh satuan pendidikan penyelenggara Ujian Nasional.

Pasal 70

(1) Pada jenjang SD/MI/SDLB, atau bentuk lain yang sederajat, Ujian Nasional mencakup mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

(2) Pada program paket A, Ujian Nasional mencakup mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan Pendidikan Kewarganegaraan.

(3) Pada jenjang SMP/MTs/SMPLB, atau bentuk lain yang sederajat, Ujian Nasional mencakup pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

(4) Pada program paket B, Ujian Nasional mencakup mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan Pendidikan Kewarganegaraan.

(5) Pada SMA/MA/SMALB atau bentuk lain yang sederajat, Ujian Nasional mencakup mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan mata pelajaran yang menjadi ciri khas program pendidikan.

(6) Pada program paket C, Ujian Nasional mencakup mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan mata pelajaran yang menjadi ciri khas program pendidikan.

(7) Pada jenjang SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat, Ujian Nasional mencakup pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan mata pelajaran kejuruan yang menjadi ciri khas program pendidikan.

Pasal 71

Kriteria kelulusan ujian nasional dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

Bagian Kelima

Kelulusan

Pasal 72

(1) Peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah:

menyelesaikan seluruh program pembelajaran;
memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan ;
lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; dan
lulus Ujian Nasional.

(2) Kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan ditetapkan oleh satuan pendidikan yang bersangkutan sesuai dengan kriteria yang dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

BAB XI

BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN

(BSNP)

Pasal 73

(1) Dalam rangka pengembangan, pemantauan, dan pelaporan pencapaian standar nasional pendidikan, dengan Peraturan Pemerintah ini dibentuk Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

(2) BSNP berkedudukan di ibu kota wilayah Negara Republik Indonesia yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri.

(3) Dalam menjalankan tugas dan fungsinya BSNP bersifat mandiri dan profesional.

Pasal 74

(1) Keanggotaan BSNP berjumlah gasal, paling sedikit 11 (sebelas) orang dan paling banyak 15 (lima belas) orang.

(2) Anggota BSNP terdiri atas ahli-ahli di bidang psikometri, evaluasi pendidikan, kurikulum, dan manajemen pendidikan yang memiliki wawasan, pengalaman, dan komitmen untuk peningkatan mutu pendidikan.

(3) Keanggotaan BSNP diangkat dan diberhentikan oleh Menteri untuk masa bakti 4 (empat) tahun.

Pasal 75

(1) BSNP dipimpin oleh seorang ketua dan seorang sekretaris yang dipilih oleh dan dari anggota atas dasar suara terbanyak.

(2) Untuk membantu kelancaran tugasnya BSNP didukung oleh sebuah sekretariat yang secara ex-officio diketuai oleh pejabat Departemen yang ditunjuk oleh Menteri.

(3) BSNP menunjuk tim ahli yang bersifat ad-hoc sesuai kebutuhan.

Pasal 76

(1) BSNP bertugas membantu Menteri dalam mengembangkan, memantau, dan mengendalikan standar nasional pendidikan.

(2) Standar yang dikembangkan oleh BSNP berlaku efektif dan mengikat semua satuan pendidikan secara nasional setelah ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

(3) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) BSNP berwenang:

a. mengembangkan Standar Nasional Pendidikan;

b. menyelenggarakan ujian nasional;

c. memberikan rekomendasi kepada Pemerintah dan pemerintah daerah dalam penjaminan dan pengendalian mutu pendidikan.

d. merumuskan kriteria kelulusan dari satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Pasal 77

Dalam menjalankan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat (3), BSNP didukung dan berkoordinasi dengan Departemen dan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama, dan dinas yang menangani pendidikan di provinsi/ kabupaten/kota.

BAB XII

EVALUASI

Pasal 78

Evaluasi pendidikan meliputi:

a. evaluasi kinerja pendidikan yang dilakukan oleh satuan pendidikan sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan;

b. evaluasi kinerja pendidikan oleh Pemerintah;

c. evaluasi kinerja pendidikan oleh Pemerintah Daerah Provinsi

d. evaluasi kinerja pendidikan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota; dan

e. evaluasi oleh lembaga evaluasi mandiri yang dibentuk masyarakat atau organisasi profesi untuk menilai pencapaian Standar Nasional Pendidikan;

Pasal 79

(1) Evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 butir a dilakukan oleh satuan pendidikan pada setiap akhir semester.

(2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya meliputi:

a. tingkat kehadiran peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan;

b. pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan kegiatan ekstrakurikuler;

c. hasil belajar peserta didik;dan

d. realisasi anggaran;

(3) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaporkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Pasal 80

(1) Evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 butir b dilakukan oleh Menteri terhadap pengelola, satuan, jalur, jenjang, dan jenis pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi secara berkala.

(2) Evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 butir b dilakukan oleh menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama terhadap pengelola, satuan, jalur, jenjang, dan jenis pendidikan pada pendidikan keagamaan secara berkala.

Pasal 81

Evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 butir c dilakukan terhadap pengelola, satuan, jalur, jenjang, dan jenis pendidikan, pada pendidikan dasar dan menengah, serta pendidikan nonformal termasuk pendidikan anak usia dini, secara berkala.

Pasal 82

Evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 butir d dilakukan terhadap pengelola, satuan, jalur, jenjang, dan jenis pendidikan, pada pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan nonformal termasuk pendidikan anak usia dini, secara berkala.

Pasal 83

(1) Evaluasi terhadap pengelola sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 sampai dengan Pasal 82 dilakukan sekurang-kurangnya setahun sekali.

(2) Evaluasi terhadap pengelola sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup sekurang-kurangnya:

a. Tingkat relevansi pendidikan terhadap visi, misi, tujuan, dan paradigma pendidikan nasional;

b. Tingkat relevansi satuan, jalur, jenjang, dan jenis pendidikan terhadap kebutuhan masyarakat akan sumberdaya manusia yang bermutu dan kompetitif;

c. Tingkat pencapaian Standar Nasional Pendidikan oleh satuan, jalur, jenjang, dan jenis pendidikan;

d. Tingkat efisiensi dan produktivitas satuan, jalur, jenjang, dan jenis pendidikan;

e. Tingkat daya saing satuan, jalur, jenjang, dan jenis pendidikan pada tingkat daerah, nasional, regional, dan global.

(3) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) dilaporkan kepada Menteri.

(4) Atas dasar evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan (3), Menteri melakukan evaluasi komprehensif untuk menilai:

a. Tingkat relevansi pendidikan nasional terhadap visi, misi, tujuan, dan paradigma pendidikan nasional;

b. Tingkat relevansi pendidikan nasional terhadap kebutuhan masyarakat akan sumberdaya manusia yang bermutu dan berdayasaing;

c. Tingkat mutu dan daya saing pendidikan nasional;

d. Tingkat partisipasi masyarakat dalam pendidikan;

e. Tingkat pemerataan akses masyarakat ke pelayanan pendidikan; dan

f. Tingkat efisiensi, produktivitas, dan akuntabilitas pendidikan nasional.

Pasal 84

(1) Evaluasi dapat dilakukan oleh lembaga evaluasi mandiri yang dibentuk masyarakat.

(2) Evaluasi sebagai dimaksud pada ayat (1) secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistemik.

(3) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditujukan untuk menentukan pencapaian standar nasional pendidikan oleh peserta didik, program, dan/atau satuan pendidikan.

(4) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) dilakukan secara mandiri, independen, obyektif, dan profesional.

(5) Metode dan hasil evaluasi yang dilakukan oleh lembaga evaluasi mandiri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diumumkan kepada publik dan dilaporkan ke BSNP.

Pasal 85

(1) Untuk mengukur dan menilai pencapaian standar nasional pendidikan oleh peserta didik, program dan/atau satuan pendidikan, masyarakat dapat membentuk lembaga evaluasi mandiri.

(2) Kelompok masyarakat yang dapat membentuk lembaga mandiri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah kelompok masyarakat yang memiliki kompetensi untuk melakukan evaluasi secara profesional, independen dan mandiri.

(3) Pembentukan lembaga mandiri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaporkan kepada Menteri.

BAB XIII

AKREDITASI

Pasal 86

(1) Pemerintah melakukan akreditasi pada setiap jenjang dan satuan pendidikan untuk menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan.

(2) Kewenangan akreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat pula dilakukan oleh lembaga mandiri yang diberi kewenangan oleh Pemerintah untuk melakukan akreditasi.

(3) Akreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) sebagai bentuk akuntabilitas publik dilakukan secara obyektif, adil, transparan, dan komprehensif dengan menggunakan instrumen dan kriteria yang mengacu kepada Standar Nasional Pendidikan.

Pasal 87

(1) Akreditasi oleh Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 ayat (1) dilaksanakan oleh:

BAN-S/M terhadap program dan/atau satuan pendidikan penddikan jalur formal pada jenjang pendidikan dasar dan menengah;
BAN-PT terhadap program dan/atau satuan pendidikan jenjang pendidikan tinggi; dan
BAN-PNF terhadap progam dan/atau satuan pendidikan jalur nonformal.

(2) Dalam melaksanakan akreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), BAN-S/M dibantu oleh badan akreditasi provinsi yang dibentuk oleh Gubernur.

(3) Badan akreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri.

(4) Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya badan akreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bersifat mandiri.

(5) Ketentuan mengenai badan akreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur labih lanjut dengan Peraturan Menteri.

Pasal 88

(1) Lembaga mandiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 ayat (2) dapat melakukan fungsinya setelah mendapat pengakuan dari Menteri.

(2) Untuk memperoleh pengakuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) lembaga mandiri wajib memenuhi persyaratan sekurang-kurangnya:

a. berbadan hukum Indonesia yang bersifat nirlaba.

b. memiliki tenaga ahli yang berpengalaman di bidang evaluasi pendidikan.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai lembaga mandiri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) diatur dengan Peraturan Menteri.

BAB XIV

SERTIFIKASI

Pasal 89

(1) Pencapaian kompetensi akhir peserta didik dinyatakan dalam dokumen ijazah dan/atau sertifikat kompetensi.

(2) Ijazah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan oleh satuan pendidikan dasar dan menengah serta satuan pendidikan tinggi, sebagai tanda bahwa peserta didik yang bersangkutan telah lulus dari satuan pendidikan.

(3) Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, Ijazah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya berisi:

a. Identitas peserta didik;

b. Pernyataan bahwa peserta didik yang bersangkutan telah lulus dari penilaian akhir satuan pendidikan beserta daftar nilai mata pelajaran yang ditempuhnya;

c. Pernyataan tentang status kelulusan peserta didik dari Ujian Nasional beserta daftar nilai mata pelajaran yang diujikan; dan

d. Pernyataan bahwa peserta didik yang bersangkutan telah memenuhi seluruh kriteria dan dinyatakan lulus dari satuan pendidikan.

(4) Pada jenjang pendidikan tinggi ijazah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya berisi:

a. Identitas peserta didik;

b. Pernyataan bahwa peserta didik yang bersangkutan telah memenuhi seluruh kriteria dan dinyatakan lulus dari satuan pendidikan.

(5) Sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi atau oleh lembaga sertifikasi mandiri yang dibentuk oleh organisasi profesi yang diakui Pemerintah sebagai tanda bahwa peserta didik yang bersangkutan telah lulus uji kompetensi.

(6) Sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) sekurang-kurangnya berisi:

a. Identitas peserta didik;

b. Pernyataan bahwa peserta didik yang bersangkutan telah lulus uji kompetensi untuk semua mata pelajaran atau mata kuliah keahlian yang dipersyaratkan dengan nilai yang memenuhi syarat sesuai ketentuan yang berlaku;

c. Daftar semua mata pelajaran atau mata kuliah keahlian yang telah ditempuh uji kompetensinya oleh peserta didik, beserta nilai akhirnya.

Pasal 90

(1) Peserta didik pendidikan informal dapat memperoleh sertifikat kompetensi yang setara dengan sertifikat kompetensi dari pendidikan formal setelah lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi atau oleh lembaga sertifikasi mandiri/profesi sesuai ketentuan yang berlaku.

(2) Peserta didik pendidikan informal dapat memperoleh ijazah yang setara dengan ijazah dari pendidikan dasar dan menengah jalur formal setelah lulus uji kompetensi dan ujian nasional yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi sesuai ketentuan yang berlaku.

BAB XV

PENJAMINAN MUTU

Pasal 91

(1) Setiap satuan pendidikan pada jalur formal dan nonformal wajib melakukan penjaminan mutu pendidikan.

(2) Penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk memenuhi atau melampaui Standar Nasional Pendidikan.

(3) Penjaminan mutu pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara bertahap, sistematis, dan terencana dalam suatu program penjaminan mutu yang memiliki target dan kerangka waktu yang jelas.

Pasal 92

(1) Menteri mensupervisi dan membantu satuan perguruan tinggi melakukan penjaminan mutu.

(2) Menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama mensupervisi dan membantu satuan pendidikan keagamaan melakukan penjaminan mutu.

(3) Pemerintah Provinsi mensupervisi dan membantu satuan pendidikan yang berada di bawah kewenangannya untuk meyelenggarakan atau mengatur penyelenggaraannya dalam melakukan penjaminan mutu.

(4) Pemerintah Kabupaten/Kota mensupervisi dan membantu satuan pendidikan yang berada di bawah kewenangannya untuk meyelenggarakan atau mengatur penyelenggaraannya dalam melakukan penjaminan mutu.

(5) BAN-S/M, BAN-PNF, dan BAN-PT memberikan rekomendasi penjaminan mutu pendidikan kepada program dan/atau satuan pendidikan yang diakreditasi, dan kepada Pemerintah dan Pemerintah Daerah.

(6) LPMP mensupervisi dan membantu satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dalam melakukan upaya penjaminan mutu pendidikan.

(7) Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (6), LPMP bekerja sama dengan Pemerintah Daerah dan Perguruan tinggi.

(8) Menteri menerbitkan pedoman program penjaminan mutu satuan pendidikan pada semua jenis, jenjang dan jalur pendidikan.

Pasal 93

(1) Penyelenggaraan satuan pendidikan yang tidak mengacu kepada Standar Nasional Pendidikan ini dapat memperoleh pengakuan dari Pemerintah atas dasar rekomendasi dari BSNP.

(2) Rekomendasi dari BSNP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada penilaian khusus.

(3) Pengakuan dari Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

BAB XVI

KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 94

Pada saat mulai berlakunya Peraturan Pemerintah ini:

a. Badan Akreditasi Sekolah Nasional (BASNAS), Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Panitia Nasional Penilaian Buku Pelajaran (PNPBP) masih tetap menjalankan tugas dan fungsinya sampai dibentuknya badan baru berdasarkan Peraturan Pemerintah ini.

b. Satuan pendidikan wajib menyesuaikan diri dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini paling lambat 7 (tujuh) tahun.

c. Standar kualifikasi pendidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 berlaku efektif sepenuhnya 15 (lima belas) tahun sejak ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini.

d. Ujian nasional untuk peserta didik SD/MI/SDLB mulai dilaksanakan 3 (tiga) tahun sejak ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini.

e. Penyelenggaraan ujian nasional dilaksanakan oleh Pemerintah sebelum BSNP menjalankan tugas dan wewenangnya berdasarkan Peraturan Pemerintah ini.

Pasal 95

Peraturan Perundang-undangan yang terkait dengan standar nasional pendidikan pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini.

BAB XVII

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 96

Semua peraturan yang diperlukan untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah ini harus diselesaikan paling lambat 2 (dua) tahun terhitung sejak berlakunya Peraturan Pemerintah ini.

Pasal 97

Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Agar setiap orang mengetahui, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta

Pada Tanggal 16 Mei 2005

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

ttd

DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Diundangkan di Jakarta

Pada Tanggal 16 Mei 2005

Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia

ttd

HAMID AWALUDIN

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2005 NOMOR 41

PENJELASAN

ATAS

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 19 TAHUN 2005

TENTANG

STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN

UMUM

Pada hakekatnya pendidikan dalam konteks pembangunan nasional mempunyai fungsi: (1) pemersatu bangsa, (2) penyamaan kesempatan, dan (3) pengembangan potensi diri. Pendidikan diharapkan dapat memperkuat keutuhan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), memberi kesempatan yang sama bagi setiap warga negara untuk berpartisipasi dalam pembangunan, dan memungkinkan setiap warga negara untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal.

Sementara itu, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional merupakan dasar hukum penyelenggaraan dan reformasi sistem pendidikan nasional. Undang-undang tersebut memuat visi, misi, fungsi, dan tujuan pendidikan nasional, serta strategi pembangunan pendidikan nasional, untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu, relevan dengan kebutuhan masyarakat, dan berdaya saing dalam kehidupan global.

Visi pendidikan nasional adalah mewujudkan sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Misi pendidikan nasional adalah: (1) mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia; (2) meningkatkan mutu pendidikan yang memiliki daya saing di tingkat nasional, regional, dan internasional; (3) meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan global; (4) membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar; (5) meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral; (6) meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar yang bersifat nasional dan global; dan (7) mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Terkait dengan visi dan misi pendidikan nasional tersebut di atas, reformasi pendidikan meliputi hal-hal berikut:

Pertama; penyelenggaraan pendidikan dinyatakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat, di mana dalam proses tersebut harus ada pendidik yang memberikan keteladanan dan mampu membangun kemauan, serta mengembangkan potensi dan kreativitas peserta didik. Prinsip tersebut menyebabkan adanya pergeseran paradigma proses pendidikan, dari paradigma pengajaran ke paradigma pembelajaran. Paradigma pengajaran yang lebih menitikberatkan peran pendidik dalam mentransformasikan pengetahuan kepada peserta didiknya bergeser pada paradigma pembelajaran yang memberikan peran lebih banyak kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi dan kreativitas dirinya dalam rangka membentuk manusia yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan, berakhlak mulia, berkepribadian, memiliki kecerdasan, memiliki estetika, sehat jasmani dan rohani, serta keterampilan yang dibutuhkan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Kedua; adanya perubahan pandangan tentang peran manusia dari paradigma manusia sebagai sumberdaya pembangunan, menjadi paradigma manusia sebagai subjek pembangunan secara utuh. Pendidikan harus mampu membentuk manusia seutuhnya yang digambarkan sebagai manusia yang memiliki karakteristik personal yang memahami dinamika psikososial dan lingkungan kulturalnya. Proses pendidikan harus mencakup: (1) penumbuhkembangan keimanan, ketakwaan,; (2) pengembangan wawasan kebangsaan, kenegaraan, demokrasi, dan kepribadian; (3) penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi; (4) pengembangan, penghayatan, apresiasi, dan ekspresi seni; serta (5) pembentukan manusia yang sehat jasmani dan rohani. Proses pembentukan manusia di atas pada hakekatnya merupakan proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.

Ketiga; Adanya pandangan terhadap keberadaan peserta didik yang terintegrasi dengan lingkungan sosial-kulturalnya dan pada gilirannya akan menumbuhkan individu sebagai pribadi dan anggota masyarakat mandiri yang berbudaya. Hal ini sejalan dengan proses pentahapan aktualisasi intelektual, emosional dan spiritual peserta didik di dalam memahami sesuatu, mulai dari tahapan paling sederhana dan bersifat eksternal, sampai tahapan yang paling rumit dan bersifat internal, yang berkenaan dengan pemahaman dirinya dan lingkungan kulturalnya.

Keempat; Dalam rangka mewujudkan visi dan menjalankan misi pendidikan nasional, diperlukan suatu acuan dasar (benchmark) oleh setiap penyelenggara dan satuan pendidikan, yang antara lain meliputi kriteria dan kriteria minimal berbagai aspek yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan. Dalam kaitan ini, kriteria dan kriteria penyelenggaraan pendidikan dijadikan pedoman untuk mewujudkan: (1) pendidikan yang berisi muatan yang seimbang dan holistik; (2) proses pembelajaran yang demokratis, mendidik, memotivasi, mendorong kreativitas, dan dialogis; (3) hasil pendidikan yang bermutu dan terukur; (4) berkembangnya profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan; (5) tersedianya sarana dan prasarana belajar yang memungkinkan berkembangnya potensi peserta didik secara optimal; (6) berkembangnya pengelolaan pendidikan yang memberdayakan satuan pendidikan; dan (7) terlaksananya evaluasi, akreditasi dan sertifikasi yang berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan.

Acuan dasar tersebut di atas merupakan standar nasional pendidikan yang dimaksudkan untuk memacu pengelola, penyelenggara, dan satuan pendidikan agar dapat meningkatkan kinerjanya dalam memberikan layanan pendidikan yang bermutu. Selain itu, standar nasional pendidikan juga dimaksudkan sebagai perangkat untuk mendorong terwujudnya transparansi dan akuntabilitas publik dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional.

Standar nasional pendidikan memuat kriteria minimal tentang komponen pendidikan yang memungkinkan setiap jenjang dan jalur pendidikan untuk mengembangkan pendidikan secara optimal sesuai dengan karakteristik dan kekhasan programnya. Standar nasional pendidikan tinggi diatur seminimal mungkin untuk memberikan keleluasaan kepada masing-masing satuan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi dalam mengembangkan mutu layanan pendidikannya sesuai dengan program studi dan keahlian dalam kerangka otonomi perguruan tinggi. Demikian juga standar nasional pendidikan untuk jalur pendidikan nonformal hanya mengatur hal-hal pokok dengan maksud memberikan keleluasaan kepada masing-masing satuan pendidikan pada jalur pendidikan nonformal yang memiliki karakteristik tidak terstruktur untuk mengembangkan programnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Penyelenggaraan pendidikan jalur informal yang sepenuhnya menjadi kewenangan keluarga dan masyarakat didorong dan diberikan keleluasaan dalam mengembangkan program pendidikannya sesuai dengan kebutuhan keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu, standar nasional pendidikan pada jalur pendidikan informal hanya mengatur hal-hal yang berkaitan dengan pengakuan kompetensi peserta didik saja.

II. Pasal demi pasal

Pasal 1

Cukup Jelas.

Pasal 2

Cukup Jelas.

Pasal 3

Pendidikan nasional yang bermutu diarahkan untuk pengembangan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Pasal 4

Cukup Jelas.

Pasal 5

Cukup Jelas.

Pasal 6

Ayat (1)

Yang dimaksud pendidikan umum meliputi SD/MI/paket A, SMP/MTs/Paket B, dan SMA/MA/Paket C atau bentuk lain yang sederajat.

Yang dimaksud pendidikan kejuruan meliputi SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat.

Yang dimaksud pendidikan khusus meliputi SDLB, SMPLB, dan SMALB atau bentuk lain yang sederajat.

Pelaksanaan semua kelompok mata pelajaran disesuaikan dengan tingkat perkembangan fisik dan psikologis peserta didik.

Ayat (1) butir a

Yang dimaksud dengan kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia termasuk di dalamnya muatan akhlak mulia yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama.

Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia pada SD/MI/SDLB/Paket A, SMP/MTs/ SMPLB/Paket B, SMA/MA/ SMALB/Paket C, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual. Peningkatan potensi spiritual dalam kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spiritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.

Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia untuk MA atau bentuk lain yang sederajat, dapat dimasukkan dalam kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia dan kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ayat (1) butir b

Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian pada SD/MI/SDLB/Paket A, SMP/MTs/SMPLB/Paket B, SMA/ MA/SMALB/ Paket C, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk peningkatan kesadaran dan wawasan peserta didik akan status, hak, dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta peningkatan kualitas dirinya sebagai manusia.

Kesadaran dan wawasan dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara mencakup upaya pendidikan untuk pembentukan pribadi yang unggul secara individual, dan pembudayaan serta pembentukan masyarakat madani.

Kesadaran dan wawasan termasuk wawasan kebangsaan, jiwa dan patriotisme bela negara, penghargaan terhadap hak asasi manusia, kemajemukan bangsa, pelestarian lingkungan hidup, kesetaraan gender, demokrasi, tanggung jawab sosial, ketaatan pada hukum, ketaatan membayar pajak, dan sikap serta perilaku anti korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia serta Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian pada SD/MI/SDLB/Paket A, SMP/MTs/SMPLB/Paket B, SMA/MA/SMALB/ Paket C, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat diamalkan sehari-hari oleh peserta didik di dalam dan di luar sekolah, dengan contoh pengamalan diberikan oleh setiap pendidik dalam interaksi sosialnya di dalam dan di luar sekolah, serta dikembangkan menjadi bagian dari budaya sekolah.

Muatan bahasa mencakup antara lain penanaman kemahiran berbahasa dan apresiasi terhadap karya sastra. Untuk menanamkan apresiasi terhadap karya sastra Indonesia, BSNP menetapkan karya-karya sastra Indonesia unggulan yang wajib dipelajari oleh peserta didik pada setiap jenjang pendidikan.

Ayat (1) butir c

Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SD/MI/Paket A atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk mengenal, menyikapi, dan mengapresiasi ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menanamkan kebiasaan berpikir dan berperilaku ilmiah yang kritis, kreatif dan mandiri.

Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMP/MTs/SMPLB/Paket B atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk memperoleh kompetensi dasar ilmu pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis, kreatif dan mandiri.

Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMA/MA/SMALB/Paket C atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk memperoleh kompetensi lanjut akan ilmu pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis, kreatif dan mandiri.

Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi, membentuk kompetensi, kecakapan, dan kemandirian kerja.

Ayat (1) butir d

Kelompok mata pelajaran estetika pada SD/MI/SDLB/Paket A, SMP/MTs/SMPLB/Paket B, SMA/MA/SMALB/Paket C, SMK/ MAK, atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan sensitifitas, kemampuan mengekspresikan dan kemampuan mengapresiasi keindahan dan harmoni.

Kemampuan mengapresiasi dan kemampuan mengekspresikan keindahan serta harmoni mencakup apresiasi dan ekspresi, baik dalam kehidupan individual sehingga mampu menikmati dan mensyukuri hidup, maupun dalam kehidupan kemasyarakatan sehingga mampu menciptakan kebersamaan yang harmonis.

Ayat (1) butir e

Kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan pada SD/MI/SDLB/ Paket A atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik serta menanamkan sportifitas dan kesadaran hidup sehat.

Kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan pada SMP/MTs/ SMPLB/Paket B atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik serta membudayakan sportifitas dan kesadaran hidup sehat.

Kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan pada SMA/MA/ SMALB/Paket C atau bentuk lain yang sederajat dimaksudkan untuk meningkatkan potensi fisik serta membudayakan sikap sportif, disiplin, kerja sama, dan hidup sehat.

Budaya hidup sehat termasuk kesadaran, sikap, dan perilaku hidup sehat yang bersifat individual maupun yang bersifat kolektif kemasyarakatan seperti keterbebasan dari perilaku seksual bebas, kecanduan narkoba, HIV/AIDS, demam berdarah, muntaber, dan penyakit lain yang potensial untuk mewabah.

Ayat (2)

Cukup Jelas.

Ayat (3)

Cukup Jelas.

Ayat (4)

Pelaksanaan pendidikan secara holistik dimaksudkan bahwa proses pembelajaran antar kelompok mata pelajaran bersifat terpadu dalam mencapai standar kompetensi yang ditetapkan.

Ayat (5)

Cukup Jelas.

Ayat (6)

Cukup Jelas.

Pasal 7

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup Jelas.

Ayat (3)

Cukup Jelas.

Ayat (4)

Cukup Jelas.

Ayat (5)

Ilmu pengetahuan alam sekurang-kurangnya terdiri atas fisika, kimia, dan biologi.

Ilmu pengetahuan sosial sekurang-kurangnya terdiri atas ketatanegaraan, ekonomika, sosiologi, antropologi, sejarah, dan geografi.

Ayat (6)

Ilmu pengetahuan alam dipilih dari muatan dan/atau kegiatan fisika, kimia, atau biologi yang disesuaikan dengan program kejuruan masing-masing.

Ilmu pengetahuan sosial dipilih dari muatan dan/atau kegiatan ketatanegaraan, ekonomika, sejarah, sosiologi, antropologi, atau geografi yang disesuaikan dengan program kejuruan masing-masing.

Ayat (7)

Cukup Jelas.

Ayat (8)

Cukup Jelas.

Pasal 8

Cukup Jelas.

Pasal 9

Ayat (1)

Dalam mengembangkan kerangka dasar dan struktur kurikulum, perguruan tinggi melibatkan asosiasi profesi, instansi pemerintah terkait, dan kelompok ahli yang relevan, misalnya, di bidang kedokteran melibatkan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang kesehatan dan Konsil Kedokteran Indonesia.

Ayat (2)

Pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, dan bahasa hanya diajarkan pada program sarjana dan diploma.

Ayat (3)

Mata kuliah statistika dan matematika dimaksudkan untuk memberikan dasar-dasar pemahaman dan penerapan metode kuantitatif yang pelaksanakannya disesuaikan dengan kebutuhan program studi yang bersangkutan.

Untuk program studi tertentu mata kuliah matematika dapat diganti dengan mata kuliah logika.

Ayat (4)

Cukup Jelas.

Pasal 10

Cukup Jelas.

Pasal 11

Ayat (1)

Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memfasilitasi satuan pendidikan yang berupaya menerapkan sistem satuan kredit semester karena sistem ini lebih mengakomodasikan bakat, minat, dan kemampuan peserta didik. Dengan diberlakukannya sistem ini maka satuan pendidikan tidak perlu mengadakan program pengayaan karena sudah tercakup (built in) dalam sistem ini.

Ayat (2) dan Ayat (3)

Dengan diberlakukannya Standar Nasional Pendidikan, maka Pemerintah memiliki kepentingan untuk memetakan sekolah/ madrasah menjadi sekolah/madrasah yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan dan sekolah/madrasah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan. Terkait dengan hal tersebut, Pemerintah mengkategorikan sekolah/ madrasah yang telah memenuhi atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori mandiri, dan sekolah/ madrasah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan ke dalam kategori standar. Berbagai upaya ditempuh agar alokasi sumberdaya Pemerintah dan Pemerintah Daerah diprioritaskan untuk membantu sekolah/madrasah yang masih dalam kategori standar untuk bisa meningkatkan diri menuju kategori mandiri. Terhadap sekolah/madrasah yang telah masuk dalam kategori mandiri, Pemerintah mendorongnya untuk secara bertahap mencapai taraf internasional. Terkait dengan penuntasan wajib belajar, Pemerintah tetap berkomitmen untuk mendukung penyelenggaraan wajib belajar sesuai dengan ketentuan Undang-undang Sisdiknas terlepas dari apakah sekolah/madrasah termasuk dalam kategori mandiri atau standar.

Pemerintah mendorong dan memfasilitasi diberlakukannya sistem satuan kredit semester (SKS) karena kelebihan sistem ini sebagaimana dijelaskan dalam penjelasan ayat (1).

Terkait dengan itu SMP/MTs/SMPLB atau bentuk lain yang sederajat, dan SMA/MA/SMLB, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dapat menerapkan sistem SKS. Khusus untuk SMA/MA/SMLB, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat yang berkategori mandiri harus menerapkan sistem SKS jika menghendaki tetap berada pada kategori mandiri.

Ayat (4)

Cukup Jelas.

Pasal 12

Cukup Jelas.

Pasal 13

Cukup Jelas.

Pasal 14

Cukup Jelas.

Pasal 15

Cukup Jelas.

Pasal 16

Cukup Jelas.

Pasal 17

Cukup Jelas.

Pasal 18

Ayat (1)

Untuk pendidikan tinggi kalender pendidikan disebut kalender akademik

Ayat (2)

Cukup Jelas.

Ayat (3)

Cukup Jelas.

Pasal 19

Cukup Jelas.

Pasal 20

Cukup Jelas.

Pasal 21

Cukup Jelas.

Pasal 22

Ayat (1)

Penilaian hasil pembelajaran mencakup aspek kognitif, psikomotorik, dan/atau afektif sesuai dengan karakteristik mata pelajaran.

Ayat (2)

Ketentuan pada ayat ini tidak menutup kemungkinan penggunaan teknik penilaian yang lain sesuai dengan karakteristik hasil pembelajaran dan kompetensi yang harus dikuasai peserta didik

Ayat (3)

Observasi dimaksudkan untuk mengukur perubahan sikap dan perilaku peserta didik sebagai indikasi dari keberhasilan pembelajaran dalam aspek afektif dan psikomotorik.

Pasal 23

Cukup Jelas.

Pasal 24

Cukup Jelas.

Pasal 25

Cukup Jelas.

Pasal 26

Cukup Jelas.

Pasal 27

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Standar kompetensi lulusan pendidikan tinggi dikembangkan oleh masing-masing perguruan tinggi sesuai dengan karakteristik program studi akademik, vokasi, dan profesi.

Pasal 28

Ayat (1)

Yang dimaksud dengan pendidik pada ketentuan ini adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi dan berkompetensi sebagai guru, dosen, konselor, pamong, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.

Yang dimaksud dengan pendidik sebagai agen pembelajaran (learning agent) pada ketentuan ini adalah peran pendidik antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik.

Ayat (2)

Cukup Jelas.

Ayat (3)

Butir a:

Yang dimaksud dengan kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Butir b:

Yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.

Butir c:

Yang dimaksud dengan kompetensi profesional adalah adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan.

Butir d:

Yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

Ayat (4)

Cukup Jelas.

Ayat (5)

Cukup Jelas.

Pasal 29

Standar kualifikasi pendidik sebagaimana diatur dalam pasal ini diterapkan secara bertahap. BSNP menetapkan pentahapannya untuk masing-masing jenjang pendidikan. Dalam menetapkan pentahapan tersebut BNSP memperhatikan pertimbangan dari Menteri.

Pasal 30

Cukup Jelas.

Pasal 31

Cukup Jelas.

Pasal 32

Cukup Jelas.

Pasal 33

Cukup Jelas.

Pasal 34

Cukup Jelas.

Pasal 35

Cukup Jelas.

Pasal 36

Cukup Jelas.

Pasal 37

Cukup Jelas.

Pasal 38

Cukup Jelas.

Pasal 39

Cukup Jelas.

Pasal 40

Cukup Jelas.

Pasal 41

Cukup Jelas.

Pasal 42

Ayat (1)

Yang dimaksud dengan sumber belajar lainnya antara lain journal, majalah, artikel, website, dan compact disk.

Ayat (2)

Cukup Jelas.

Pasal 43

Cukup Jelas.

Pasal 44

Cukup Jelas.

Pasal 45

Cukup Jelas.

Pasal 46

Cukup Jelas.

Pasal 47

Cukup Jelas.

Pasal 48

Cukup Jelas.

Pasal 49

Ayat (1)

Pengelolaan satuan pendidikan meliputi perencanaan program, penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kegiatan pembelajaran, pendayagunaan pendidik dan tenaga kependidikan, pengelolaan sarana dan prasana pendidikan, penilaian hasil belajar, dan pengawasan.

Ayat (2)

Cukup Jelas.

Pasal 50

Cukup Jelas.

Pasal 51

Ayat (1)

Anggota Dewan Pendidik terdiri atas para pimpinan satuan pendidikan dan semua pendidik tetap.

Pimpinan satuan pendidikan terdiri atas kepala sekolah/madrasah dan wakil kepala sekolah.

Ayat (2)

Cukup jelas

Ayat (3)

Dalam hal musyawarah tidak mencapai mufakat maka dewan pendidik dan/atau komite sekolah/madrasah menyerahkan pengambilan keputusan yang bersangkutan kepada lembaga berwenang di atasnya. Dalam hal sekolah/madrasah yang bersangkutan merupakan satuan pendidikan negeri, maka lembaga yang berwenang adalah dinas kabupaten/kota yang menangani urusan pemerintahan di bidang pendidikan atau kantor departemen yang menangani urusan di bidang agama kabupaten/kota. Dalam hal sekolah/madrasah yang bersangkutan merupakan satuan pendidikan swasta, maka lembaga yang berwenang adalah badan hukum yang menjadi penyelenggara satuan pendidikan dimaksud.

Pasal 52

Cukup Jelas.

Pasal 53

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

butir a:

Cukup Jelas.

butir b:

Cukup Jelas.

butir c:

Cukup Jelas.

butir d:

Cukup Jelas.

butir e:

Cukup Jelas.

butir f:

Cukup Jelas.

butir g:

Cukup Jelas.

butir h:

Cukup Jelas.

butir i:

Cukup Jelas.

butir j:

Cukup Jelas.

butir k:

RAPBS harus bersifat komprehensif yang meliputi sumber dan alokasi penggunaan biaya untuk satu tahun yang secara akuntabel dan transparan diketahui oleh orang tua/wali peserta didik.

butir l:

Cukup Jelas

Ayat (3)

Cukup Jelas.

Ayat (4)

Cukup Jelas.

Pasal 54

Cukup Jelas.

Pasal 55

Cukup Jelas.

Pasal 56

Cukup Jelas.

Pasal 57

Yang dimaksud dengan supervisi manajerial meliputi aspek pengelolaan dan administrasi satuan pendidikan. Yang dimaksud dengan supervisi akademik meliputi aspek-aspek pelaksanaan proses pembelajaran.

Pasal 58

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup Jelas.

Ayat (3)

Cukup Jelas.

Ayat (4)

Yang dimaksud dengan pihak terkait antara lain perangkat daerah atau instansi yang menangani urusan pendidikan di kabupaten/kota.

Ayat (5)

Cukup Jelas.

Ayat (6)

Cukup Jelas.

Ayat (7)

Cukup Jelas.

Ayat (8)

Cukup Jelas.

Pasal 59

Cukup Jelas.

Pasal 60

Cukup Jelas.

Pasal 61

Cukup Jelas.

Pasal 62

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup Jelas.

Ayat (3)

Yang termasuk biaya personal peserta didik antara lain pakaian, transpor, buku pribadi, konsumsi, akomodasi, dan biaya pribadi lainnya.

Ayat (4)

Cukup Jelas.

Ayat (5)

Cukup Jelas.

Pasal 63

Cukup Jelas.

Pasal 64

Cukup Jelas.

Pasal 65

Cukup Jelas.

Pasal 66

Ayat (1)

Ujian nasional mengukur kompetensi peserta didik dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, dalam rangka menilai pencapaian Standar Nasional Pendidikan oleh peserta didik, satuan pendidikan, dan/atau program pendidikan.

Ayat (2)

Cukup Jelas.

Ayat (3)

Hasil ujian nasional dapat dibandingkan baik antar satuan pendidikan, antara daerah, maupun antar waktu untuk pemetaan mutu pendidikan secara nasional.

Pasal 67

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup Jelas.

Ayat (3)

BSNP melakukan evaluasi penyelenggaraan ujian nasional dan dapat mengusulkan hal-hal yang perlu diatur dalam Peraturan Menteri.

Pasal 68

Butir a

Cukup Jelas.

Butir b

Hasil ujian nasional dijadikan sebagai salah satu dasar seleksi untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Satuan pendidikan dapat melakukan seleksi dengan menggunakan instrumen seleksi yang materinya tidak diujikan dalam Ujian Nasional, misalnya tes bakat skolastik, tes intelegensi, tes minat, tes bakat, tes kesehatan, atau tes lainnya sesuai dengan Kriteria pada satuan pendidikan tersebut.

Butir c

Cukup Jelas.

Butir d

Cukup Jelas.

Pasal 69

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup Jelas.

Ayat (3)

Cukup Jelas.

Ayat (4)

Surat keterangan hasil ujian nasional sekurang-kurangnya berisi:

a. Identitas peserta didik;

b. Pernyataan bahwa peserta didik yang bersangkutan telah menempuh Ujian Nasional;

c. Tanggal dan satuan pendidikan di mana Ujian Nasional telah ditempuh oleh peserta didik;

d. Nilai Ujian Nasional untuk setiap mata pelajaran yang diujikan; dan

e. Status kelulusan Ujian Nasional, untuk jenjang SMP/SMPLB/MTs atau bentuk lain yang sederajat, SMA/SMALB/MA atau bentuk lain yang sederajat, dan SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat.

Pasal 70

Cukup Jelas.

Pasal 71

Cukup Jelas.

Pasal 72

Ayat (1)

Cukup jelas.

Ayat (2)

Dalam mengembangkan kriteria kelulusan, BSNP mempertimbangkan keragaman mutu pendidikan secara nasional dan/atau tolok ukur (benchmark) yang bersifat regional maupun internasional.

Kriteria kelulusan peserta didik yang dikembangkan oleh BSNP tidak menghambat penuntasan program wajib belajar.

Pasal 73

Cukup Jelas.

Pasal 74

Cukup Jelas.

Pasal 75

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Menteri menunjuk pejabat yang bertanggung jawab sebagai ketua sekretariat BSNP yang melaksanakan pengelolaan ketenagaan, sarana dan prasarana, serta administrasi dan keuangan untuk dapat mendukung pelaksanaan tugas BSNP sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Ayat (3)

Penunjukan tim ahli didasarkan atas keahlian yang relevan dengan bidang yang dikembangkan yang berasal dari asosiasi profesi, tenaga ahli yang direkomendasikan oleh instansi pemerintah terkait dan lainnya. Misalnya, pengembangan kompetensi lulusan SMK di bidang pelayaran melibatkan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang perhubungan; pengembangan kompetensi lulusan SMK di bidang pariwisata melibatkan ahli dari Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan asosiasi jasa travel; pengembangan kompetensi lulusan SMK di bidang kesehatan melibatkan unsur profesi bidang kesehatan dan departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang kesehatan.

Pasal 76

Cukup Jelas.

Pasal 77

Cukup Jelas.

Pasal 78

Cukup Jelas.

Pasal 79

Cukup Jelas.

Pasal 80

Cukup Jelas.

Pasal 81

Cukup Jelas.

Pasal 82

Cukup Jelas.

Pasal 83

Cukup Jelas.

Pasal 84

Cukup Jelas.

Pasal 85

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Contoh dari kelompok masyarakat yang memiliki kompetensi tersebut adalah organisasi profesi berbadan hukum yang diakui oleh Pemerintah.

Ayat (3)

Cukup Jelas.

Pasal 86

Cukup Jelas.

Pasal 87

Cukup Jelas.

Pasal 88

Cukup Jelas.

Pasal 89

Cukup Jelas.

Pasal 90

Cukup Jelas.

Pasal 91

Ayat (1)

Pemerintah dan Pemerintah Daerah mendorong dan membantu satuan pendidikan formal dalam melakukan penjaminan mutu (quality assurance) agar memenuhi atau melampaui Standar Nasional Pendidikan, sehingga dapat dikategorikan ke dalam kategori mandiri.

Bantuan Pemerintah dan Pemerintah Daerah kepada satuan pendidikan dalam penjaminan mutu lebih diprioritaskan pada satuan pendidikan formal dan nonformal yang menyelenggarakan program wajib belajar dan satuan pendidikan formal yang masih berada pada kategori standar.

Dalam rangka lebih mendorong penjaminan mutu ke arah pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, Pemerintah dan Pemerintah Daerah memberikan perhatian khusus pada penjaminan mutu satuan pendidikan tertentu yang berbasis keunggulan lokal.

Dalam rangka lebih mendorong penjaminan mutu ke arah pendidikan yang berdaya saing pada tingkat global, Pemerintah dan Pemerintah Daerah memberikan perhatian khusus pada satuan pendidikan tertentu yang berkategori mandiri dan berorientasi untuk bertaraf internasional.

Ayat (2)

Cukup Jelas.

Ayat (3)

Cukup Jelas.

Pasal 92

Cukup Jelas.

Pasal 93

Cukup Jelas.

Pasal 94

Butir a:

Cukup Jelas.

Butir b:

Cukup Jelas

Butir c:

Sebelum standar kualifikasi akademik berlaku efektif, BSNP mengembangkan standar antara yang secara bertahap menuju pencapaian standar kualifikasi pendidik sebagaimana dimaksud pada Pasal 29 Peraturan Pemerintah ini.

Butir d:

Cukup Jelas.

Butir e:

Cukup Jelas.

Pasal 95

Cukup Jelas.

Pasal 96

Cukup Jelas.

Pasal 97

Cukup Jelas.

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4496

UU NO. 14/2005 TENTANG GURU DAN DOSEN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 14 TAHUN 2005
TENTANG
GURU DAN DOSEN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Menimbang:

a. bahwa pembangunan nasional dalam bidang pendidikan adalah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, makmur, dan beradab berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

b. bahwa untuk menjamin perluasan dan pemerataan akses, peningkatan mutu dan relevansi, serta tata pemerintahan yang baik dan akuntabilitas pendidikan yang mampu menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global perlu dilakukan pemberdayaan dan peningkatan mutu guru dan dosen secara terencana, terarah, dan berkesinambungan;

c. bahwa guru dan dosen mempunyai fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat strategis dalam pembangunan nasional di bidang pendidikan sebagaimana dimaksud pada huruf a sehingga perlu dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat;

d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b, dan huruf c perlu dibentuk Undang-Undang tentang Guru dan Dosen.

Mengingat:

1. Pasal 20, Pasal 22 d, dan Pasal 31 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301).

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN:

Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG GURU DAN DOSEN

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1

Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal, serta pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah, termasuk pendidikan anak usia dini.
Dosen adalah pendidik dan ilmuwan profesional dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Guru besar atau profesor yang selanjutnya disebut profesor adalah jabatan fungsional tertinggi bagi dosen yang masih mengajar di lingkungan perguruan tinggi.
Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.
Penyelenggara pendidikan adalah lembaga pemerintah atau lembaga masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal.
Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal dalam setiap jenjang dan jenis pendidikan.
Perjanjian kerja dan/atau kesepakatan kerja bersama adalah perjanjian tertulis antara guru atau dosen dengan penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan yang memuat syarat-syarat kerja serta hak dan kewajiban para pihak dengan prinsip kesetaraan dan kesejawatan berdasarkan peraturan perundang-undangan.
Pemutusan hubungan kerja atau pemberhentian kerja adalah pengakhiran perjanjian kerja dan/atau kesepakatan kerja bersama guru atau dosen karena sesuatu hal yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara guru atau dosen dan penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Kualifikasi akademik adalah ijazah jenjang pendidikan akademik yang harus dimiliki oleh seorang guru atau dosen sesuai dengan jenis dan jenjang pendidikan formal di tempat penugasan.
Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas profesionalnya.
Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen.
Sertifikat pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga profesional.
Organisasi profesi guru adalah perkumpulan yang berbadan hukum yang didirikan dan diurus oleh guru untuk mengembangkan profesionalitas guru.
Lembaga pendidikan tenaga kependidikan adalah lembaga pendidikan tinggi yang diberi tugas oleh pemerintah untuk menyelenggarakan dan mengembangkan ilmu kependidikan dan nonkependidikan serta mendidik guru pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah, termasuk pendidikan anak usia dini.
Gaji adalah hak yang diterima oleh guru atau dosen atas pekerjaannya dari penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan dalam bentuk uang secara berkala sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Penghasilan adalah hak yang diterima oleh guru atau dosen dalam bentuk finansial sebagai imbalan melaksanakan tugas keprofesiannya yang ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi dan mencerminkan martabat guru atau dosen sebagai pendidik yang profesional.
Daerah khusus adalah daerah yang terpencil atau terbelakang; daerah dengan kondisi masyarakat adat yang terpencil; daerah perbatasan dengan negara lain; daerah yang mengalami bencana alam, bencana sosial, atau daerah yang berada dalam keadaan darurat lainnya.
Masyarakat adalah kelompok warga negara Indonesia nonpemerintah yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan.
Pemerintah adalah pemerintah pusat.
Pemerintah daerah adalah pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan pemerintah kota.
Menteri adalah menteri yang menangani urusan pemerintahan di bidang pendidikan nasional.

BAB II
KEDUDUKAN, FUNGSI, DAN TUJUAN

Pasal 2

(1) Guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur formal.

(2) Pengakuan kedudukan guru sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan dengan sertifikat pendidik.

Pasal 3

(1) Dosen mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan tinggi yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(2) Pengakuan kedudukan dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan dengan sertifikat pendidik.

Pasal 4

Kedudukan guru sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud pada Pasal 2 ayat (1) berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.

Pasal 5

Kedudukan dosen sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 ayat (1) berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran dosen sebagai agen pembelajaran, pengembang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, serta pengabdi kepada masyarakat berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.

Pasal 6

Kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yakni berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

BAB III
PRINSIP PROFESIONALITAS

Pasal 7

(1) Profesi guru dan profesi dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:

a. memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme;

b. memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan,
keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia;

c. memiliki kualifikasi pendidikan dan latar belakang pendidikan
sesuai dengan bidang tugas;

d. memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas;

e. memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan;

f. memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi
kerja;

g. memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara
berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat;

h. memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas
keprofesionalan; dan

i. memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur
hal-hal yang berkaitan dengan keprofesian bagi guru dan memiliki
organisasi profesi keilmuan bagi dosen.

(2) Pemberdayaan profesi guru atau pemberdayaan profesi dosen diselenggarakan melalui pengembangan diri yang dilakukan secara demokratis, berkeadilan, tidak diskriminatif, dan berkelanjutan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, kemajemukan bangsa, dan kode etik profesi.

BAB IV
GURU

Bagian Kesatu

Kualifikasi, Kompetensi, dan Sertifikasi

Pasal 8

Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik serta sehat jasmani dan rohani untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Pasal 9

Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana (S1) atau program diploma empat (D4).

Pasal 10

(1) Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai kompetensi guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 11

(1) Sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan.

(2) Sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pendidikan tenaga kependidikan yang terakreditasi.

(3) Sertifikasi pendidik dilaksanakan secara transparan, objektif, dan akuntabel (dapat dipercaya/bertanggung jawab).

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai sertifikasi pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 12

Setiap orang yang telah memperoleh sertifikat pendidik memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi guru pada satuan pendidikan tertentu.

Pasal 13

(1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menyediakan anggaran untuk peningkatan kualifikasi akademik dan sertifikasi pendidik bagi guru dalam jabatan yang diangkat oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai anggaran untuk peningkatan kualifikasi akademik dan sertifikasi pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Bagian Kedua
Hak dan Kewajiban

Pasal 14

(1) Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berhak:

a. memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial;

b. mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja;

c. memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual;

d. memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi;
e. memperoleh dan memanfaatkan sarana dan prasarana pembelajaran untuk menunjang kelancaran tugas keprofesionalan;
f. memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan ikut menentukan kelulusan, penghargaan, dan/atau sanksi kepada peserta didik sesuai dengan kaidah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan;
g. memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam melaksanakan tugas;
h. memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi profesi;
i. memiliki kesempatan untuk berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan;
j. memperoleh kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas serta kemampuan; dan/atau
k. memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam bidangnya.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai hak guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 15

(1) Penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) huruf a meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, serta penghasilan lain yang berupa tunjangan fungsional, tunjangan profesi, tunjangan khusus, dan maslahat tambahan yang terkait dengan tugasnya sebagai guru yang ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi.

(2) Tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat (1), bagi guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat diberikan dalam bentuk subsidi oleh Pemerintah dengan mengacu pada peraturan perundang-undangan.

(3) Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah daerah, bagi daerah khusus, berhak atas rumah dinas yang disediakan oleh pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya.

(4) Gaji guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat diberikan berdasarkan perjanjian kerja dan/atau kesepakatan kerja bersama.

Pasal 16

(1) Pemerintah memberikan tunjangan profesi kepada guru yang telah memiliki sertifikat pendidik baik kepada guru yang diangkat oleh Pemerintah, pemerintah daerah, maupun kepada guru yang diangkat masyarakat.

(2) Tunjangan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah daerah pada tingkatan, masa kerja, dan kualifikasi yang sama.

(3) Tunjangan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tunjangan profesi guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 17

(1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memberikan tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) kepada guru yang diangkat oleh Pemerintah dan pemerintah daerah.

(2) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memberikan subsidi tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2) kepada guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat.

(3) Tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan subsidi tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dan/atau anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).

Pasal 18

(1) Tunjangan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) diberikan kepada guru yang bertugas di daerah khusus.

(2) Tunjangan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah daerah pada tingkatan, masa kerja, dan kualifikasi yang sama.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tunjangan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 19

(1) Maslahat tambahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) merupakan tambahan kesejahteraan yang diperoleh dalam bentuk tunjangan pendidikan, asuransi pendidikan, beasiswa, dan penghargaan bagi guru, serta kemudahan untuk memperoleh pendidikan bagi putra dan putri guru, pelayanan kesehatan, atau bentuk kesejahteraan lainnya.

(2) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menjamin terwujudnya maslahat tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai maslahat tambahan guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 20

Dalam melaksanakan profesinya, guru berkewajiban:

a. merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran;

b. meningkatkan dan mengembangkan kemampuan secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;

c. bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran;

d. menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika;

e. memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa;

Bagian Ketiga

Wajib Kerja dan Ikatan Dinas

Pasal 21

(1) Dalam keadaan darurat, Pemerintah dapat memberlakukan ketentuan wajib kerja kepada guru dan/atau warga negara Indonesia lainnya yang memenuhi kualifikasi akademik dan kompetensi untuk melaksanakan tugas guru di daerah khusus di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penugasan warga negara Indonesia sebagai guru dalam keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 22

(1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dapat menetapkan pola ikatan dinas bagi calon guru untuk memenuhi kepentingan pembangunan pendidikan nasional, atau untuk memenuhi kepentingan pembangunan daerah.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendidikan calon guru dengan pola ikatan dinas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 23

(1) Pemerintah mengembangkan sistem pendidikan guru ikatan dinas berasrama di lembaga pendidikan tenaga kependidikan untuk menjamin mutu pendidikan dan efisiensi.

(2) Kurikulum pendidikan guru pada lembaga pendidikan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mengembangkan kompetensi yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan pendidikan bertaraf internasional dan pendidikan berbasis keunggulan lokal.

Bagian Keempat

Pengangkatan, Penempatan, Pemindahan, dan Pemberhentian

Pasal 24

(1) Pemerintah wajib memenuhi kebutuhan guru, baik dalam jumlah, kualifikasi akademik, maupun kompetensi secara merata untuk menjamin keberlangsungan satuan pendidikan anak usia dini jalur formal serta pendidikan dasar dan menengah yang diselenggarakan oleh Pemerintah.

(2) Pemerintah provinsi wajib memenuhi kebutuhan guru, baik dalam jumlah, kualifikasi akademik, maupun kompetensi secara merata untuk menjamin keberlangsungan pendidikan menengah dan pendidikan khusus sesuai dengan kewenangannya.

(3) Pemerintah kabupaten/kota wajib memenuhi kebutuhan guru, baik dalam jumlah, kualifikasi akademik, maupun kompetensi secara merata untuk menjamin keberlangsungan pendidikan dasar dan pendidikan anak usia dini jalur formal sesuai dengan kewenangannya.

(4) Penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan anak usia dini yang diselenggarakan oleh masyarakat wajib memenuhi kebutuhan guru tetap, baik jumlah, kualifikasi akademik, maupun kompetensinya untuk menjamin keberlangsungan pendidikan jalur formal.

Pasal 25

(1) Pengangkatan dan penempatan guru dilakukan secara objektif dan transparan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(2) Pengangkatan dan penempatan guru pada satuan pendidikan yang diselenggarakan Pemerintah atau pemerintah daerah diatur dengan Peraturan Pemerintah.

(3) Pengangkatan dan penempatan guru pada satuan pendidikan yang diselenggarakan masyarakat dilakukan oleh penyelenggara pendidikan yang bersangkutan berdasarkan kesepakatan kerja bersama.

Pasal 26

(1) Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dapat ditempatkan pada jabatan struktural.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penempatan guru pada jabatan struktural sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 27

Tenaga kerja asing yang dipekerjakan sebagai guru pada satuan pendidikan di Indonesia wajib mematuhi kode etik guru dan peraturan perundang-undangan.

Pasal 28

(1) Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dapat dipindahtugaskan antarprovinsi, antarkabupaten/antarkota, antarkecamatan maupun antarsatuan pendidikan karena alasan kebutuhan satuan pendidikan dan/atau promosi.

(2) Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dapat mengusulkan pindah tugas, baik antarprovinsi, antarkabupaten/antarkota, antarkecamatan maupun antarsatuan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(3) Dalam hal usul kepindahan dikabulkan, Pemerintah atau pemerintah daerah memfasilitasi kepindahan guru sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan kewenangannya.

(4) Pemindahan guru pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat diatur oleh penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan berdasarkan kesepakatan kerja bersama.

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemindahan guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 29

(1) Guru yang bertugas di daerah khusus mempunyai hak yang meliputi kenaikan pangkat rutin secara otomatis, kenaikan pangkat istimewa sebanyak 1 (satu) kali, dan perlindungan.

(2) Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah daerah wajib menandatangani pernyataan kesanggupan untuk ditugaskan di daerah khusus paling sedikit selama 2 (dua) tahun.

(3) Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah daerah yang telah bertugas selama 2 (dua) tahun atau lebih di daerah khusus berhak pindah tugas setelah tersedia guru pengganti.

(4) Dalam hal terjadi kekosongan guru, Pemerintah atau pemerintah daerah wajib menyediakan guru pengganti untuk menjamin keberlanjutan proses pembelajaran pada satuan pendidikan yang bersangkutan.

(5) Ketentuan lebih lanjut tentang guru yang bertugas di daerah khusus diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.

Pasal 30

(1) Guru dapat diberhentikan dengan hormat dari jabatannya sebagai guru karena salah satu sebab sebagai berikut:

a. meninggal dunia;
b. mencapai batas usia pensiun;
c. atas permintaan sendiri;
d. sakit jasmani dan/atau rohani sehingga tidak dapat melaksanakan tugas secara terus menerus selama 12 (dua belas) bulan; atau
e. sesuai dengan perjanjian kerja dan/atau kesepakatan kerja bersama antara penyelenggara pendidikan dengan guru.

(2) Guru diberhentikan tidak dengan hormat dari jabatan sebagai guru karena salah satu sebab sebagai berikut:

a. melanggar sumpah dan janji jabatan;
b. melanggar perjanjian kerja dan/atau kesepakatan kerja bersama; atau
c. melalaikan kewajiban dalam menjalankan tugas pekerjaan selama 1 (satu) bulan atau lebih secara terus menerus.

(3) Pemberhentian guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(4) Pemberhentian guru karena batas usia pensiun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan pada usia 60 (enam puluh) tahun.

(5) Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah daerah yang diberhentikan dari jabatan sebagai guru, kecuali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b, tidak dengan sendirinya diberhentikan sebagai pegawai negeri sipil.

Pasal 31

(1) Pemberhentian guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (2) dapat dilakukan setelah guru yang bersangkutan diberi kesempatan untuk membela diri.

(2) Guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat yang diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri mendapat kompensasi finansial sesuai dengan perjanjian kerja dan/atau kesepakatan kerja bersama.

Bagian Kelima

Pembinaan dan Pengembangan

Pasal 32

(1) Pembinaan dan pengembangan guru meliputi pembinaan dan pengembangan profesi dan karier.

(2) Pembinaan dan pengembangan profesi guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pembinaan kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.

(3) Pembinaan dan pengembangan profesi guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui jabatan fungsional.

(4) Pembinaan dan pengembangan karier sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penugasan, kenaikan pangkat, dan promosi.

Pasal 33

Menteri menetapkan kebijakan strategis pembinaan dan pengembangan profesi dan karier guru pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, atau masyarakat.

Pasal 34

(1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membina dan mengembangkan profesi guru pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.

(2) Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat wajib membina dan mengembangkan guru.

(3) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan biaya untuk meningkatkan profesionalisme dan pengabdian guru pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Pasal 35

(1) Beban kerja guru mencakup kegiatan pokok yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan.

(2) Beban kerja guru dalam melaksanakan proses pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah sekurang-kurangnya 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan kegiatan pokok dan kegiatan tambahan diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Bagian Keenam

Penghargaan

Pasal 36

(1) Guru yang berprestasi, berdedikasi luar biasa, dan/atau bertugas di daerah khusus berhak memperoleh penghargaan.

(2) Guru yang gugur dalam melaksanakan tugas di daerah khusus memperoleh penghargaan dari Pemerintah, pemerintah daerah, penyelenggara pendidikan, dan/atau masyarakat.

Pasal 37

(1) Penghargaan dapat diberikan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, penyelenggara pendidikan, organisasi guru, dan/atau masyarakat.

(2) Penghargaan dapat diberikan pada tingkat sekolah, tingkat desa/kelurahan, tingkat kecamatan, tingkat kabupaten/kota, tingkat provinsi, tingkat nasional, dan/atau tingkat internasional.

(3) Penghargaan kepada guru dapat diberikan dalam bentuk tanda jasa, kenaikan pangkat istimewa, uang, piagam, dan/atau bentuk penghargaan lain.

(4) Penghargaan kepada guru dilaksanakan dalam rangka memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, hari ulang tahun provinsi, hari ulang tahun kabupaten/kota, hari ulang tahun satuan pendidikan, hari pendidikan nasional, hari guru nasional, dan/atau hari besar lain.

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 38

Pemerintah dapat menetapkan hari guru sebagai penghargaan kepada guru yang diatur berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Bagian Ketujuh

Perlindungan

Pasal 39

(1) Pemerintah, pemerintah daerah, penyelenggara pendidikan, satuan pendidikan, dan/atau organisasi profesi wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas.

(2) Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perlindungan hukum, perlindungan profesi, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.

(3) Perlindungan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup perlindungan hukum terhadap tindak kekerasan, ancaman, tindakan diskriminatif, intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain.

(4) Perlindungan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup perlindungan terhadap pemutusan hubungan kerja yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan, pemberian imbalan yang tidak wajar, pembatasan dalam menyampaikan pandangan, pelecehan terhadap profesi guru, dan pembatasan/pelarangan lain yang dapat menghambat guru dalam melaksanakan tugas.

(5) Perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup perlindungan terhadap risiko gangguan keamanan kerja, risiko kecelakaan kerja, risiko kebakaran pada waktu kerja, risiko bencana alam, kesehatan lingkungan kerja, dan/atau risiko lain.

Bagian Kedelapan

Cuti

Pasal 40

(1) Guru memperoleh cuti sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(2) Guru dapat memperoleh cuti untuk studi dengan tetap memperoleh hak gaji penuh.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai cuti guru sebagaimana dimaksud pada pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Bagian Kesembilan

Organisasi Profesi dan Kode Etik

Pasal 41

(1) Guru dapat membentuk organisasi profesi yang bersifat independen.

(2) Organisasi profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi untuk memajukan profesi, meningkatkan kompetensi, karier, wawasan kependidikan, perlindungan profesi, kesejahteraan, dan pengabdian kepada masyarakat.

(3) guru wajib menjadi anggota suatu organisasi profesi.

(4) Pembentukan organisasi profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(5) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dapat memfasilitasi organisasi profesi guru dalam pelaksanaan pembinaan dan pengembangan profesi guru.

Pasal 42

Organisasi profesi guru mempunyai kewenangan:

a. menetapkan dan menegakkan kode etik guru;
b. memberikan bantuan hukum kepada guru;
c. memberikan perlindungan profesi kepada guru yang menjadi anggota;
d. melakukan pembinaan dan pengembangan profesi guru yang menjadi anggota; dan
e. memajukan pendidikan nasional.

Pasal 43

(1) Untuk menjaga dan meningkatkan kehormatan dan martabat guru dalam pelaksanaan tugas sebagai tenaga profesional, organisasi profesi guru membentuk kode etik.

(2) Kode etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berisi norma dan etika yang mengikat perilaku guru dalam pelaksanaan tugas keprofesionalan.

Pasal 44

(1) Dewan kehormatan guru dibentuk oleh organisasi profesi guru.

(2) Keanggotaan serta mekanisme kerja dewan kehormatan guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran dasar organisasi profesi guru.

(3) Dewan kehormatan guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk untuk mengawasi pelaksanaan kode etik guru dan memberikan rekomendasi pemberian sanksi atas pelanggaran kode etik oleh guru.

(4) Rekomendasi dewan kehormatan profesi guru sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus objektif, tidak diskriminatif, dan tidak bertentangan dengan anggaran dasar organisasi profesi serta peraturan perundang-undangan.

(5) Organisasi profesi guru wajib melaksanakan rekomendasi dewan kehormatan guru sebagaimana dimaksud pada ayat (3).

BAB V

DOSEN

Bagian Kesatu

Kualifikasi, Kompetensi, Sertifikasi, dan Jabatan Akademik

Pasal 45

Dosen wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, dan memenuhi kualifikasi yang dipersyaratkan perguruan tinggi tempat bertugas, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Pasal 46

(1) Kualifikasi akademik dosen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 diperoleh melalui pendidikan tinggi pascasarjana yang terakreditasi sesuai dengan bidang keahlian.

(2) Dosen memiliki kualifikasi akademik minimum:

a. lulusan program magister untuk program diploma atau program sarjana; dan
b. lulusan program doktor untuk program pascasarjana.

(3) Seseorang yang memiliki keahlian dengan prestasi luar biasa dapat diangkat menjadi dosen.

(4) Ketentuan lain tentang kualifikasi akademik dan bidang keahlian dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) ditentukan oleh senat akademik perguruan tinggi.

Pasal 47

(1) Sertifikat pendidik untuk dosen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 diberikan setelah memenuhi syarat sebagai berikut:

a. memiliki pengalaman kerja sebagai pendidik pada perguruan tinggi sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun;
b. memiliki jabatan akademik sekurang-kurangnya asisten ahli; dan
c. lulus proses sertifikasi yang dilakukan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan program pengadaan tenaga kependidikan pada perguruan tinggi yang ditetapkan oleh Pemerintah.

(2) Pemerintah menetapkan perguruan tinggi yang terakreditasi untuk menyelenggarakan program pengadaan tenaga kependidikan pada perguruan tinggi sesuai dengan keperluan.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai sertifikat pendidik untuk dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 48

(1) Status dosen terdiri atas dosen-tetap dan dosen-tidak tetap.

(2) Jenjang jabatan akademik dosen-tetap terdiri atas asisten ahli, lektor, lektor kepala, dan profesor.

(3) Persyaratan untuk menduduki jabatan akademik profesor harus memiliki kualifikasi pendidikan doktor.

(4) Pengaturan kewenangan jenjang jabatan akademik dan dosen-tidak tetap ditetapkan oleh setiap perguruan tinggi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Pasal 49

(1) Profesor merupakan jabatan akademik tertinggi di perguruan tinggi yang mempunyai kewenangan membimbing calon doktor.

(2) Profesor memiliki kewajiban khusus untuk menulis buku dan karya ilmiah serta menyebarluaskan gagasannya untuk mencerahkan masyarakat.

(3) Profesor yang memiliki karya ilmiah atau karya monumental lainnya yang sangat istimewa dalam bidangnya dan mendapat pengakuan internasional dapat diberi gelar profesor paripurna.

(4) Pengaturan lebih lanjut tentang profesor paripurna sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh setiap perguruan tinggi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Pasal 50

(1) Setiap orang yang memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi dosen.

(2) Setiap orang, untuk dapat diangkat menjadi dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib mengikuti proses seleksi.

(3) Setiap orang dapat diangkat secara langsung menduduki jenjang jabatan akademik tertentu berdasarkan hasil penilaian terhadap kualifikasi akademik, kompetensi, dan pengalaman yang dimiliki.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan pengangkatan serta penetapan jenjang jabatan akademik dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditentukan oleh setiap perguruan tinggi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Bagian Kedua

Hak dan Kewajiban Dosen

Pasal 51

(1) Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, dosen berhak:

a. memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial;

b. mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja;

c. memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual;

d. memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi, akses sumber belajar, informasi, sarana dan prasarana pembelajaran, serta penelitian dan pengabdian kepada masyarakat;

e. memiliki kebebasan akademik, mimbar akademik, dan otonomi keilmuan; dan

f. memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi profesi/organisasi profesi keilmuan.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai hak dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 52

(1) Penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (1) huruf a meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, serta penghasilan lain yang berupa tunjangan fungsional, tunjangan profesi, tunjangan khusus, tunjangan kehormatan, serta maslahat tambahan yang terkait dengan tugas sebagai dosen yang ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi.

(2) Tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat (1), bagi dosen yang diangkat oleh perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat, diberikan dalam bentuk subsidi oleh Pemerintah dengan mengacu pada peraturan perundang-undangan.

Pasal 53

(1) Pemerintah memberikan tunjangan profesi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1) kepada dosen yang diangkat oleh Pemerintah dan satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat yang telah memiliki sertifikat pendidik.

(2) Tunjangan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok dosen yang diangkat oleh Pemerintah pada tingkatan, masa kerja, dan kualifikasi yang sama.

(3) Tunjangan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tunjangan profesi dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 54

(1) Pemerintah memberikan tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1) kepada dosen yang diangkat oleh Pemerintah.

(2) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memberikan subsidi tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (2) kepada dosen yang diangkat oleh perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat.

(3) Tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

Pasal 55

(1) Tunjangan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1) diberikan kepada dosen yang bertugas di daerah khusus.

(2) Tunjangan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok dosen yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah daerah pada tingkatan, masa kerja, dan kualifikasi yang sama.

(3) Tunjangan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tunjangan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 56

(1) Pemerintah memberikan tunjangan kehormatan kepada profesor yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan setara 2 (dua) kali gaji pokok profesor yang diangkat oleh Pemerintah pada tingkatan, masa kerja, dan kualifikasi yang sama.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tunjangan kehormatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 57

(1) Maslahat tambahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1) merupakan tambahan kesejahteraan yang diperoleh dalam bentuk tunjangan pendidikan, asuransi pendidikan, beasiswa, dan penghargaan bagi dosen, serta kemudahan untuk memperoleh pendidikan bagi putra dan putri dosen, pelayanan kesehatan, atau bentuk kesejahteraan lain.

(2) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menjamin terwujudnya maslahat tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai maslahat tambahan dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 58

(1) Dosen yang mendalami dan mengembangkan bidang ilmu langka memperoleh anggaran dan fasilitas khusus dari Pemerintah atau pemerintah daerah.

(2) Dosen yang diangkat oleh Pemerintah, bagi daerah khusus, berhak atas rumah dinas yang disediakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 59

(1) Gaji dosen yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat mengacu pada peraturan perundang-undangan.

(2) Dosen yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat wajib memperoleh jaminan sosial tenaga kerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Pasal 60

Dalam melaksanakan profesinya, dosen berkewajiban:

a. melaksanakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat;
b. merencanakan, melaksanakan proses pembelajaran, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran;
c. meningkatkan dan mengembangkan kemampuan secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
d. bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, kondisi fisik tertentu, atau latar belakang sosioekonomi peserta didik dalam pembelajaran;
e. menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik dosen, serta nilai-nilai agama dan etika;
f. memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa;

Bagian Ketiga

Wajib Kerja dan Ikatan Dinas

Pasal 61

(1) Dalam keadaan darurat Pemerintah dapat memberlakukan ketentuan wajib kerja kepada dosen dan/atau warga negara Indonesia lainnya yang memenuhi kualifikasi akademik dan kompetensi untuk melaksanakan tugas dosen di daerah khusus.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penugasan warga negara Indonesia sebagai dosen dalam keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah atau diatur berdasarkan Peraturan Pemerintah.

Pasal 62

(1) Pemerintah dapat menetapkan pola ikatan dinas bagi calon dosen untuk memenuhi kepentingan pembangunan pendidikan nasional, atau untuk memenuhi kepentingan pembangunan daerah.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendidikan calon dosen dengan pola ikatan dinas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah atau diatur berdasarkan Peraturan Pemerintah.

Bagian Keempat

Pengangkatan, Penempatan, Pemindahan, dan Pemberhentian

Pasal 63

(1) Pengangkatan dan penempatan dosen dilakukan secara objektif dan transparan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(2) Pengangkatan dan penempatan dosen pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah diatur dengan Peraturan Pemerintah.

(3) Pengangkatan dan penempatan dosen pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat dilakukan oleh penyelenggara pendidikan yang bersangkutan berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama.

(4) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memfasilitasi satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat dengan memberikan tunjangan bagi dosen untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu.

Pasal 64

(1) Dosen yang diangkat oleh Pemerintah dapat ditempatkan pada jabatan struktural.

(2) Penempatan dosen yang diangkat oleh Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan perundang-undangan.

(3) Dosen pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dapat ditempatkan pada jabatan struktural dengan ketentuan sesuai dengan peraturan setiap perguruan tinggi.

Pasal 65

Tenaga kerja asing yang dipekerjakan sebagai dosen pada satuan pendidikan di Indonesia wajib mematuhi peraturan perundang-undangan.

Pasal 66

Pemindahan dosen pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat diatur oleh penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama.

Pasal 67

(1) Dosen dapat diberhentikan dengan hormat dari jabatannya karena salah satu sebab sebagai berikut:

a. meninggal dunia;
b. telah mencapai batas usia pensiun;
c. atas permintaan sendiri;
d. tidak dapat melaksanakan tugas secara terus menerus selama 12 (dua belas) bulan karena sakit jasmani dan/atau rohani; atau
e. sesuai dengan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama antara penyelenggara pendidikan dan dosen.

(2) Dosen diberhentikan tidak dengan hormat dari jabatannya karena salah satu sebab berikut:

a. melanggar sumpah dan janji jabatan;
b. melanggar perjanjian kerja atau kesepakatan perjanjian kerja; atau
c. melalaikan kewajiban dalam menjalankan tugas pekerjaan selama 1 (satu) bulan atau lebih secara terus menerus.

(3) Pemberhentian dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan oleh penyelenggara pendidikan berdasarkan peraturan perundang-undangan.

(4) Pemberhentian dosen karena batas usia pensiun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan pada usia 65 (enam puluh lima) tahun.

(5) Profesor yang berprestasi dapat diperpanjang batas usia pensiunnya sampai 70 (tujuh puluh) tahun.

(6) Dosen yang diangkat oleh Pemerintah yang diberhentikan dari jabatannya, kecuali sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf a dan huruf b, tidak dengan sendirinya diberhentikan sebagai pegawai negeri sipil.

Pasal 68

(1) Pemberhentian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 ayat (2) dapat dilakukan setelah dosen yang bersangkutan diberikan kesempatan untuk membela diri.

(2) Dosen yang diangkat oleh perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat yang diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri dengan mendapat kompensasi finansial sesuai dengan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama.

Bagian Kelima

Pembinaan dan Pengembangan

Pasal 69

(1) Pembinaan dan pengembangan dosen meliputi pembinaan dan pengembangan profesi dan karier.

(2) Pembinaan dan pengembangan profesi dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pembinaan kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.

(3) Pembinaan dan pengembangan profesi dosen dilakukan melalui jabatan fungsional.

(4) Pembinaan dan pengembangan karier dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penugasan, kenaikan pangkat, dan promosi.

Pasal 70

Menteri menetapkan kebijakan strategis pembinaan dan pengembangan profesi dan karier dosen pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat.

Pasal 71

(1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membina dan mengembangkan kompetensi dosen pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.

(2) Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat wajib membina dan mengembangkan kompetensi dosen.

(3) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan biaya untuk meningkatkan profesionalisme dan kompetensi dosen pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Pasal 72

(1) Beban kerja dosen mencakup kegiatan pokok yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran, melakukan evaluasi pembelajaran, membimbing dan melatih, melakukan penelitian, melakukan tugas tambahan, serta melakukan pengabdian kepada masyarakat.

(2) Beban kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya sepadan dengan 12 (dua belas) satuan kredit semester (SKS) dan sebanyak-banyaknya 16 (enam belas) satuan kredit semester (SKS).

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan kegiatan pokok dan tugas tambahan dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur oleh setiap perguruan tinggi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Bagian Keenam

Penghargaan

Pasal 73

(1) Dosen yang berprestasi, berdedikasi luar biasa, dan/atau bertugas di daerah khusus memperoleh penghargaan.

(2) Dosen yang gugur dalam melaksanakan tugas di daerah khusus memperoleh penghargaan dari Pemerintah, pemerintah daerah, penyelenggara pendidikan, dan/atau masyarakat.

Pasal 74

(1) Penghargaan dapat diberikan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, Penyelenggara pendidikan, organisasi dosen, dan/atau masyarakat.

(2) Pemberian penghargaan dapat diberikan pada tingkat satuan pendidikan tingkat kabupaten/kota, tingkat provinsi, tingkat nasional, dan tingkat internasional.

(3) Penghargaan dapat diberikan dalam bentuk tanda jasa, kenaikan pangkat istimewa, uang, piagam, dan/atau bentuk penghargaan lain.

(4) Penghargaan kepada dosen dilaksanakan dalam rangka memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, hari ulang tahun provinsi, hari ulang tahun kabupaten/kota, hari ulang tahun satuan pendidikan, dalam rangka memperingati hari pendidikan nasional, dan/atau memperingati hari besar lain.

(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian penghargaan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Bagian Ketujuh

Perlindungan

Pasal 75

(1) Pemerintah, pemerintah daerah, penyelenggara pendidikan, satuan pendidikan, dan/atau organisasi profesi wajib memberikan perlindungan terhadap dosen dalam pelaksanaan tugas.

(2) Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perlindungan hukum, perlindungan profesi, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.

(3) Perlindungan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah perlindungan terhadap tindak kekerasan, ancaman, tindakan diskriminatif, intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, dan/atau pihak lain.

(4) Perlindungan profesi adalah perlindungan yang berkaitan dengan risiko terhadap pelaksanaan tugas dosen sebagai tenaga profesional yang meliputi pemutusan hubungan kerja yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan, pemberian imbalan yang tidak wajar, pembatasan kebebasan akademik, mimbar akademik, dan otonomi keilmuan, serta pembatasan/pelarangan lain yang dapat menghambat dosen dalam pelaksanaan tugas.

(5) Perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi perlindungan terhadap risiko gangguan keamanan kerja, risiko kecelakaan kerja, risiko kebakaran pada waktu kerja, risiko bencana alam, risiko kesehatan lingkungan kerja, dan/atau risiko lain.

(6) Dalam rangka kegiatan akademik, dosen mendapat perlindungan untuk menggunakan data dan sumber yang dikategorikan terlarang oleh perundang-undangan yang berlaku.

Bagian Kedelapan

Cuti

Pasal 76

(1) Dosen memperoleh cuti sesuai dengan peraturan perundang-undangan

(2) Dosen memperoleh cuti untuk studi dan penelitian atau untuk pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dengan memperoleh hak gaji penuh.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai cuti dosen sebagaimana dimaksud pada pada ayat (1) dan ayat (2)diatur dengan Peraturan Pemerintah.

BAB VI

SANKSI

Pasal 77

(1) Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah daerah yang tidak menjalankan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dapat dikenai sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(2) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa:

a. teguran;
b. peringatan tertulis;
c. penundaan pemberian hak guru;
d. penurunan pangkat;
e. pemberhentian dengan hormat; atau
f. pemberhentian tidak dengan hormat.

(3) Guru yang berstatus ikatan dinas yang tidak melaksanakan tugas sesuai dengan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama diberi sanksi sesuai dengan perjanjian ikatan dinas.

(4) Guru yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan yang tidak menjalankan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dapat dikenai sanksi sesuai dengan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama.

(5) Guru yang melakukan pelanggaran kode etik dikenai sanksi oleh organisasi profesi sebagaimana diatur dalam anggaran dasar organisasi profesi dan kode etik.

(6) Guru yang dikenai sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) mempunyai hak membela diri.

Pasal 78

(1) Dosen yang diangkat oleh Pemerintah yang tidak menjalankan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 dapat dikenai sanksi, sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(2) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa:

a. teguran;
b. peringatan tertulis;
c. penundaan pemberian hak dosen;
d. penurunan pangkat dan jabatan akademik;
e. pemberhentian dengan hormat; atau
f. pemberhentian tidak dengan hormat.

(3) Dosen yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat yang tidak menjalankan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 dapat dikenai sanksi sanksi sesuai dengan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama.

(4) Dosen yang berstatus ikatan dinas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 yang tidak melaksanakan tugas sesuai dengan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama diberi sanksi sesuai dengan perjanjian ikatan dinas.

(5) Dosen yang dikenai sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4) mempunyai hak membela diri.

Pasal 79

(1) Penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24, Pasal 34, Pasal 59, dan Pasal 71 diberi sanksi administratif oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(2) Sanksi administratif bagi penyelenggara pendidikan dapat berupa:

a. teguran;
b. peringatan tertulis;
c. pembatasan kegiatan penyelenggaraan satuan pendidikan; atau
d. pembekuan kegiatan penyelenggaraan satuan pendidikan.

BAB VII

KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 80

(1) Pada saat mulai berlakunya undang-undang ini:

a. Guru yang belum memiliki sertifikat pendidik memperoleh tunjangan fungsional dan maslahat tambahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1) dan ayat (2) paling lama 10 (sepuluh) tahun atau sampai guru tersebut telah memenuhi kewajiban memiliki sertifikat pendidik.

b. Dosen yang belum memiliki sertifikat pendidik memperoleh tunjangan fungsional dan maslahat tambahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1) dan ayat (2) paling lama 10 (sepuluh) tahun atau sampai guru tersebut telah memenuhi kewajiban memiliki sertifikat pendidik.

(3) Tunjangan fungsional dan maslahat tambahan bagi guru dan dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b dialokasikan melalui APBN dan APBD.

Pasal 81

Semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan guru dan dosen tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan/atau diganti dengan peraturan baru berdasarkan undang-undang ini.

BAB VIII

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 82

(1) Pemerintah mulai melaksanakan program sertifikasi profesi pendidik paling lama dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak undang-undang ini diundangkan;

(2) Guru yang belum memiliki kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud pada Undang-Undang ini wajib memenuhi kualifikasi akademik dan sertifikat pendidik paling lama 10 (sepuluh) tahun sejak undang-undang ini diundangkan.

Pasal 83

Semua peraturan perundang-undangan yang diperlukan untuk melaksanakan undang-undang ini harus diselesaikan selambat-lambatnya 18 (delapan belas) bulan sejak Undang-Undang ini diundangkan.

Pasal 84

Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Disahkan di Jakarta

pada tanggal —

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

SOESILO BAMBANG YUDHOYONO

Diundangkan di Jakarta

Pada tanggal —-

MENTERI HUKUM DAN HAM

HAMID AWALUDIN

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN – NOMOR –

PENJELASAN

ATAS

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

NOMOR ……….. TAHUN ………

TENTANG

GURU DAN DOSEN

I. UMUM

Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa tujuan negara adalah untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Untuk mewujudkan tujuan negara tersebut, pendidikan merupakan faktor yang sangat menentukan. Selanjutnya, Pasal 31 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, mengamanatkan: (1) setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, dan (2) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang diatur dalam undang-undang; (3) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya; (4) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang; (5) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.

Salah satu amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tersebut kemudian diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang memiliki visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warganegara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.

Kualitas manusia yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia di masa yang akan datang adalah yang mampu menghadapi persaingan yang semakin ketat dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia. Kualitas manusia Indonesia tersebut dihasilkan melalui penyelenggaraan pendidikan bermutu, oleh karena itu guru dan dosen mempunyai fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat strategis. Pasal 39 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidik merupakan tenaga profesional. Kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional mempunyai visi terwujudnya penyelenggaraan pembelajaran sesuai dengan prinsip-prinsip profesionalitas untuk memenuhi hak yang sama bagi setiap warga negara dalam memperoleh pendidikan yang bermutu.

Dengan visi tersebut di atas, maka pengakuan kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional mempunyai misi sebagai berikut.

1. mengangkat martabat guru dan dosen ;
2. menjamin hak dan kewajiban guru dan dosen ;
3. meningkatkan kompetensi guru dan dosen ;
4. memajukan profesi serta dan karier guru dan dosen ;
5. meningkatkan mutu pembelajaran ;
6. meningkatkan mutu pendidikan nasional ;
7. mengurangi kesenjangan ketersediaan guru dan dosen antar daerah dari segi jumlah, mutu, kompetensi, dan kualifikasi akademik ;
8. mengurangi kesenjangan mutu pendidikan antar daerah ; dan
9. meningkatkan pelayanan pendidikan yang bermutu.

Berdasarkan visi dan misi tersebut, kedudukan guru sebagai tenaga profesional berfungsi untuk meningkatkan martabat guru serta perannya sebagai agen pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Sedangkan kedudukan dosen sebagai tenaga profesional berfungsi untuk meningkatkan martabat dosen serta mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.

Sejalan dengan fungsi tersebut, kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yakni berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab.

Untuk meningkatkan penghargaan terhadap pekerjaan guru dan dosen, kedudukan guru dan dosen pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi perlu dikukuhkan dengan pemberian sertifikat pendidik. Sertifikat tersebut merupakan pengakuan atas kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional. Dalam melaksanakan tugasnya, guru dan dosen harus memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimumnya, sehingga memiliki kesempatan untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya.

Selain itu, perlu juga diperhatikan upaya-upaya memaksimalkan fungsi dan peran strategis guru dan dosen yang meliputi: penegakan hak dan kewajiban guru sebagai tenaga profesional, pembinaan dan pengembangan profesi guru dan dosen; perlindungan hukum, perlindungan profesi, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.

Berdasarkan visi, misi, dan pertimbangan-pertimbangan seperti tersebut di atas, maka diperlukan Undang-Undang ini memerlukan strategi yang meliputi:

1. penyelenggaraan sertifikasi pendidik berdasarkan kualifikasi akademik dan kompetensi profesional;
2. pemenuhan hak dan kewajiban guru dan dosen sebagai tenaga profesional yang sesuai dengan prinsip-prinsip profesionalitas;
3. penyelenggaraan kebijakan strategis dalam pengangkatan, penempatan, pemindahan, dan pemberhentian guru dan dosen sesuai dengan kebutuhan baik jumlah, kualifikasi akademik, maupun kompetensi yang dilakukan secara merata, objektif, dan transparan untuk menjamin keberlangsungan pendidikan;
4. penyelenggaraan kebijakan strategis dalam pembinaan dan pengembangan profesi guru dan dosen untuk meningkatkan profesionalitas dan pengabdian para guru dan dosen ;
5. peningkatan pemberian penghargaan dan jaminan perlindungan terhadap guru dan dosen dalam pelaksanaan tugas profesional ;
6. peningkatan peran organisasi profesi untuk menjaga dan meningkatkan kehormatan dan martabat guru dan dosen dalam pelaksanaan tugas sebagai tenaga profesional ;
7. penguatan kesetaraan antara guru dan dosen yang bertugas pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah dengan guru dan dosen yang bertugas pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat ;
8. penguatan tanggungjawab dan kewajiban Pemerintah dan pemerintah daerah dalam merealisasikan pencapaian anggaran pendidikan untuk memenuhi hak dan kewajiban guru dan dosen sebagai tenaga profesional ; dan
9. peningkatan peran serta masyarakat dalam memenuhi hak dan kewajiban guru dan dosen.

Pengakuan kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional merupakan bagian dari pembaharuan sistem pendidikan nasional yang pelaksanaannya memperhatikan berbagai ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pendidikan, kepegawaian, ketenagakerjaan, keuangan, dan pemerintahan daerah.

Sehubungan dengan hal itu, diperlukan pengaturan tentang kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional dalam suatu Undang-Undang tentang Guru dan Dosen.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1

Cukup jelas.

Pasal 2

Ayat (1)

Guru sebagai tenaga profesional mengandung arti bahwa pekerjaan guru hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang mempunyai kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik sesuai dengan persyaratan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan tertentu.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal 3

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Pasal 4

Yang dimaksud dengan guru sebagai agen pembelajaran (learning agent) pada ketentuan ini adalah peran guru antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik.

Pasal 5

Cukup jelas.

Pasal 6

Cukup jelas.

Pasal 7

Ayat (1)

huruf a.

Cukup jelas.

huruf b.

Cukup jelas.

huruf c.

Cukup jelas

huruf d.

Cukup jelas.

huruf e.

Cukup jelas

huruf f.

Cukup jelas.

huruf g.

Cukup jelas.

huruf h.

Cukup jelas

huruf i.

Cukup jelas

Ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal 8

Yang dimaksud dengan sehat jasmani dan rohani dalam ketentuan ini adalah kondisi kesehatan fisik dan mental yang memungkinkan guru dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Kondisi kesehatan fisik dan mental tersebut tidak ditujukan kepada penyandang cacat.

Pasal 9

Cukup jelas.

Pasal 10

Ayat (1)

Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik.

Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik.

Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam.

Kompetensi Sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal 11

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup Jelas.

Ayat (3)

Cukup Jelas.

Ayat (4

Cukup Jelas.

Pasal 12

Cukup Jelas.

Pasal 13

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup Jelas

Pasal 14

Ayat (1)

huruf a.

Cukup jelas.

huruf b.

Cukup jelas.

huruf c.

Cukup jelas

huruf d.

Cukup jelas.

huruf e.

Cukup jelas

huruf f.

Cukup jelas.

huruf g.

Cukup jelas.

huruf h.

Cukup jelas.

huruf i.

Cukup jelas.

huruf j

Cukup jelas.

huruf k

. Cukup jelas

Ayat (2)

Cukup jelas

Pasal 15

Ayat (1)

Yang dimaksud dengan penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum adalah pendapatan yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup guru dan keluarganya secara wajar baik sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, rekreasi, dan jaminan hari tua.

Gaji pokok adalah satuan penghasilan yang ditetapkan berdasarkan pangkat, golongan, dan masa kerja.

Tunjangan yang melekat pada gaji adalah tambahan penghasilan sebagai komponen kesejahteraan yang ditentukan berdasarkan jumlah tanggungan keluarga.

Tunjangan profesi adalah tunjangan yang diberikan kepada guru yang memiliki sertifikat pendidik penghasilan sebagai penghargaan atas profesionalitasnya.

Tunjangan khusus adalah kompensasi bagi guru yang bertugas di daerah khusus.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Ayat (3)

Cukup jelas

Ayat (4)

Cukup jelas

Pasal 16

Ayat (1)

Cukup jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Ayat (3)

Tunjangan profesi dapat diperhitungkan sebagai bagian dari dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan untuk memenuhi ketentuan dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 49 ayat (1) dan Ayat (4).

Ayat (4)

Cukup jelas.

Pasal 17

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Ayat (3)

Tunjangan fungsional dapat diperhitungkan sebagai bagian dari dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan untuk memenuhi ketentuan dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 49 ayat (1).

Pasal 18

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Ayat (3)

Cukup jelas

Pasal 19

Ayat (1)

Yang dimaksud dengan kemudahan untuk memperoleh pendidikan bagi putra-putri guru berupa kesempatan dan keringanan biaya pendidikan bagi putra-putri guru yang telah memenuhi syarat-syarat akademik untuk menempuh pendidikan di satuan pendidikan tertentu.

Ayat (2)

Cukup Jelas.

Ayat (3)

Cukup Jelas.

Pasal 20

Huruf a.

Cukup jelas

Huruf b.

Cukup jelas

Huruf c.

Cukup jelas

Huruf d.

Cukup jelas

Huruf e.

Cukup jelas

Pasal 21

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Pasal 22

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Pasal 23

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Pasal 24

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Ayat (3)

Cukup Jelas.

Ayat (4)

Cukup jelas

Pasal 25

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Ayat (3)

Cukup Jelas.

Pasal 26

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Pasal 27

Cukup jelas

Pasal 28

Ayat (1)

Cukup jelas

Ayat (2)

Cukup jelas

Ayat (3)

Cukup jelas

Ayat (4)

Cukup jelas

Ayat (5)

Cukup jelas

Pasal 29

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Ayat (3)

Cukup jelas

Ayat (4)

Cukup Jelas.

Ayat (5)

Cukup jelas

Pasal 30

Ayat (1)

Huruf a

Cukup jelas

huruf b.

Cukup jelas.

huruf c.

Cukup jelas.

huruf d.

Cukup jelas

huruf e.

Cukup jelas.

Ayat (2)

huruf a.

Cukup jelas.

huruf b.

Cukup jelas.

huruf c.

Cukup jelas

Ayat (3)

Cukup jelas

Ayat (4)

Cukup jelas

Ayat (5)

Cukup jelas

Pasal 31

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Pasal 32

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Ayat (3)

Cukup jelas

Ayat (4)

Cukup Jelas.

Pasal 33

Cukup Jelas.

Pasal 34

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Ayat (3)

Cukup jelas

Pasal 35

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Ayat (3)

Cukup jelas

Pasal 36

Ayat (1)

Cukup jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal 37

Ayat (1)

Cukup jelas

Ayat (2)

Cukup jelas

Ayat (3)

Cukup jelas.

Ayat (4)

Cukup jelas.

Ayat (5)

Cukup jelas

Pasal 38

Cukup jelas

Pasal 39

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup Jelas.

Ayat (3)

Cukup jelas

Ayat (4)

Cukup Jelas.

Ayat (5)

Cukup jelas

Pasal 40

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Ayat (3)

Cukup jelas

Pasal 41

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Ayat (3)

Cukup jelas

Ayat (4)

Cukup Jelas.

Ayat (5)

Cukup Jelas.

Pasal 42

Huruf a

Cukup jelas

huruf b.

Cukup jelas.

huruf c.

Cukup jelas.

huruf d.

Cukup jelas

huruf e.

Cukup jelas.

Pasal 43

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Pasal 44

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Ayat (3)

Cukup jelas

Ayat (4)

Cukup Jelas.

Ayat (5)

Cukup Jelas.

Pasal 45

Yang dimaksud dengan sehat jasmani dan rohani dalam ketentuan ini adalah kondisi kesehatan fisik dan mental yang tidak mengganggu guru dalam melaksanakan tugasnya.

Pasal 46

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Huruf a

Cukup jelas

Huruf b.

Cukup jelas.

Ayat (3)

Cukup jelas

Ayat (4)

Cukup jelas

Pasal 47

Ayat (1)

Huruf a

Cukup jelas

Huruf b.

Cukup jelas.

Huruf c.

Cukup jelas.

Ayat (2)

Cukup Jelas.

Ayat (3)

Cukup Jelas.

Pasal 48

Ayat (1)

Yang dimaksud dengan dosen tetap adalah dosen yang bekerja penuh waktu yang berstatus sebagai tenaga pendidik tetap pada perguruan tinggi tertentu.

Yang dimaksud dengan dosen tidak tetap adalah dosen yang bekerja paruh waktu yang berstatus sebagai tenaga pendidik tidak tetap pada perguruan tinggi tertentu

Ayat (2)

Cukup jelas

Ayat (3)

Cukup jelas

Ayat (4)

Cukup Jelas.

Pasal 49

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Ayat (3)

Cukup jelas

Ayat (4)

Cukup Jelas.

Pasal 50

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Ayat (3)

Yang dimaksud secara langsung adalah tanpa berjenjang.

Ayat (4)

Cukup jelas

Pasal 51

Ayat (1)

huruf a

Cukup jelas

huruf b.

Cukup jelas.

huruf c.

Cukup jelas.

huruf d.

Cukup jelas

huruf e.

Cukup jelas.

Huruf f

Cukup jelas

Ayat (2)

Cukup jelas

Pasal 52

Ayat (1)

Yang dimaksud dengan penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum adalah pendapatan yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup guru dan keluarganya secara wajar baik sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, rekreasi, dan jaminan hari tua.

Gaji pokok adalah satuan penghasilan yang ditetapkan berdasarkan pangkat, golongan, dan masa kerja.

Tunjangan yang melekat pada gaji adalah tambahan penghasilan sebagai komponen kesejahteraan yang ditentukan berdasarkan jumlah tanggungan keluarga.

Tunjangan profesi adalah penghasilan sebagai penghargaan atas profesi guru yang ditetapkan berdasarkan tingkat profesionalitas.

Tunjangan khusus adalah kompensasi bagi guru yang bertugas di daerah terpencil, daerah konflik, daerah yang mengalami bencana alam, atau keadaan darurat lainnya.

Maslahat tambahan adalah tambahan kesejahteraan yang diperoleh dalam bentuk asuransi, pelayanan kesehatan, atau bentuk kesejahteraan lainnya.

Tunjangan khusus dimaksudkan sebagai kompensasi atas kesulitan hidup yang dihadapi oleh guru dalam melaksanakan tugasnya di daerah khusus..

konkordan

Ayat (2)

Cukup jelas

Pasal 53

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Ayat (3)

Cukup Jelas.

Ayat (4)

Cukup jelas

Pasal 54

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Ayat (3)

Cukup jelas

Pasal 55

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Ayat (3)

Tunjangan khusus dapat diperhitungkan sebagai bagian dari dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan untuk memenuhi ketentuan dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 49 ayat (1) dan ayat (4).

Ayat (4)

Cukup jelas

Pasal 56

Ayat (1)

Cukup jelas

Ayat (2)

Cukup jelas

Pasal 57

Ayat (1)

Cukup jelas

Ayat (2)

Cukup jelas

Ayat (3)

Cukup jelas

Pasal 58

Ayat (1)

Yang dimaksud dengan bidang ilmu yang langka adalah ilmu yang sangat khas, memiliki tingkat kesulitan tinggi, dan/atau mempunyai nilai-nilai strategis serta tidak banyak diminati.

Yang dimaksud dengan pendanaan dan fasilitas khusus adalah alokasi biaya dan kemudahan yang diperuntukkan bagi dosen yang mendalami ilmu langka tersebut.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal 59

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Pasal 60

Huruf a

Cukup jelas

huruf b.

Cukup jelas.

huruf c.

Cukup jelas.

huruf d.

Cukup jelas

huruf e.

Cukup jelas.

Huruf f

Cukup jelas

Pasal 61

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Pasal 62

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Pasal 63

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Ayat (3)

Cukup jelas

Ayat (4)

Cukup jelas

Pasal 64

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Ayat (3)

Cukup jelas

Pasal 65

Cukup jelas

Pasal 66

Cukup jelas

Pasal 67

Ayat (1)

Huruf a

Cukup jelas

huruf b.

Cukup jelas.

huruf c.

Cukup jelas.

huruf d.

Cukup jelas

huruf e.

Cukup jelas.

Ayat (2)

Huruf a

Cukup jelas

huruf b.

Cukup jelas.

huruf c.

Cukup jelas.

Ayat (3)

Cukup jelas

Ayat (4)

Cukup jelas

Ayat (5)

Cukup jelas

Ayat (6)

Cukup jelas

Pasal 68

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Pasal 69

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Ayat (3)

Cukup jelas

Ayat (4)

Cukup jelas

Pasal 70

Cukup jelas

Pasal 71

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Ayat (3)

Cukup jelas

Pasal 72

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Ayat (3)

Cukup jelas

Pasal 73

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Pasal 74

Ayat (1)

Cukup jelas

Ayat (2)

Cukup Jelas.

Ayat (3)

Cukup jelas

Ayat (4)

Cukup jelas

Ayat (5)

Cukup jelas

Pasal 75

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Ayat (3)

Cukup Jelas.

Ayat (4)

Cukup jelas

Ayat (5)

Cukup Jelas.

Ayat (6)

Cukup jelas

Pasal 76

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Ayat (3)

Cukup jelas

Pasal 77

Ayat (1)

Cukup jelas

Ayat (2)

Huruf a

Cukup jelas

huruf b.

Cukup jelas.

huruf c.

Cukup jelas.

huruf d.

Cukup jelas.

huruf e.

Cukup jelas.

huruf f.

Cukup jelas.

Ayat (3)

Cukup jelas

Ayat (4)

Cukup jelas

Ayat (5)

Cukup jelas

Ayat (6)

Cukup jelas

Pasal 78

Ayat (1)

Cukup jelas

Ayat (2)

Huruf a

Cukup jelas

huruf b.

Cukup jelas.

huruf c.

Cukup jelas.

huruf d.

Cukup jelas.

huruf e.

Cukup jelas.

huruf f.

Cukup jelas.

Ayat (3)

Cukup jelas

Ayat (4)

Cukup jelas

Ayat (5)

Cukup jelas

Pasal 79

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Huruf a

Cukup jelas

huruf b.

Cukup jelas.

huruf c.

Cukup jelas.

huruf d.

Cukup jelas.

Pasal 80

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas

Pasal 81

Cukup jelas

Pasal 82

Ayat (1)

Cukup Jelas.

Ayat (2)

Cukup Jelas.

Pasal 83

Cukup jelas

Pasal 84

Cukup jelas

UU NO. 14/2005 TENTANG GURU DAN DOSEN « SMPN 1 SINGAJAYA.

UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL (UUSPN) NO. 20 TAHUN 2003

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 20 TAHUN 2003
TENTANG
SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Menimbang : a. bahwa pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 mengamanatkan Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial;

b. bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang;

c. bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan;

d. bahwa Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional tidak memadai lagi dan perlu diganti serta perlu disempurnakan agar sesuai dengan amanat perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, b, c, dan d perlu membentuk Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Mengingat : Pasal 20, Pasal 21, Pasal 28 C ayat (1), Pasal 31, dan Pasal 32 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

Dengan persetujuan bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
DAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan:

1. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

2. Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.

3. Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

4. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.

5. Tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan.

6. Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.

7. Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.

8. Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan.

9. Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan.

10. Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.

11. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

12. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.

13. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.

14. Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

15. Pendidikan jarak jauh adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi, informasi, dan media lain.

16. Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh, dan untuk masyarakat.

17. Standar nasional pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.

18. Wajib belajar adalah program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh warga negara Indonesia atas tanggung jawab Pemerintah dan pemerintah daerah.

19. Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

20. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

21. Evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan.

22. Akreditasi adalah kegiatan penilaian kelayakan program dalam satuan pendidikan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.

23. Sumber daya pendidikan adalah segala sesuatu yang dipergunakan dalam penyelenggaraan pendidikan yang meliputi tenaga kependidikan, masyarakat, dana, sarana, dan prasarana.

24. Dewan pendidikan adalah lembaga mandiri yang beranggotakan berbagai unsur masyarakat yang peduli pendidikan.

25. Komite sekolah/madrasah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orang tua/wali peserta didik, komunitas sekolah, serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan.

26. Warga negara adalah warga negara Indonesia baik yang tinggal di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia maupun di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

27. Masyarakat adalah kelompok warga negara Indonesia nonpemerintah yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan.

28. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat.

29. Pemerintah daerah adalah pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, atau pemerintah kota.

30. Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab dalam bidang pendidikan nasional.

BAB II

DASAR, FUNGSI DAN TUJUAN

Pasal 2

Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pasal 3

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

BAB III

PRINSIP PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

Pasal 4

(1) Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.

(2) Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna.

(3) Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.

(4) Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.

(5) Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.

(6) Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.

BAB IV

HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA,
ORANG TUA, MASYARAKAT, DAN PEMERINTAH

Bagian Kesatu

Hak dan Kewajiban Warga Negara

Pasal 5

(1) Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.

(2) Warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.

(3) Warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus.

(4) Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus.

(5) Setiap warga negara berhak mendapat kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayat.

Pasal 6

(1) Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar.

(2) Setiap warga negara bertanggung jawab terhadap keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan

Bagian Kedua

Hak dan Kewajiban Orang Tua

Pasal 7

(1) Orang tua berhak berperan serta dalam memilih satuan pendidikan dan memperoleh informasi tentang perkembangan pendidikan anaknya.

(2) Orang tua dari anak usia wajib belajar, berkewajiban memberikan pendidikan dasar kepada anaknya.

Bagian Ketiga

Hak dan Kewajiban Masyarakat

Pasal 8

Masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan.

Pasal 9

Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam penyelenggaraan pendidikan.

Bagian Keempat

Hak dan Kewajiban Pemerintah dan Pemerintah Daerah

Pasal 10

Pemerintah dan pemerintah daerah berhak mengarahkan, membimbing, membantu, dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 11

(1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi.

(2) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun.

BAB V

PESERTA DIDIK

Pasal 12

(1) Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak:

a. mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama;

b. mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya;

c. mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya;

d. mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya;

e. pindah ke program pendidikan pada jalur dan satuan pendidikan lain yang setara;

f. menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan.

(2) Setiap peserta didik berkewajiban:

a. menjaga norma-norma pendidikan untuk menjamin keberlangsungan proses dan keberhasilan pendidikan;

b. ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan, kecuali bagi peserta didik yang dibebaskan dari kewajiban tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(3) Warga negara asing dapat menjadi peserta didik pada satuan pendidikan yang diselenggarakan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(4) Ketentuan mengenai hak dan kewajiban peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

BAB VI

JALUR, JENJANG, DAN JENIS PENDIDIKAN

Bagian Kesatu

Umum

Pasal 13

(1) Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.

(2) Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan dengan sistem terbuka melalui tatap muka dan/atau melalui jarak jauh.

Pasal 14

Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

Pasal 15

Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus.

Pasal 16

Jalur, jenjang, dan jenis pendidikan dapat diwujudkan dalam bentuk satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.

Bagian Kedua

Pendidikan Dasar

Pasal 17

(1) Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah.

(2) Pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.

(3) Ketentuan mengenai pendidikan dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Bagian Ketiga

Pendidikan Menengah

Pasal 18

(1) Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar.

(2) Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan.

(3) Pendidikan menengah berbentuk sekolah menengah atas (SMA), madrasah aliyah (MA), sekolah menengah kejuruan (SMK), dan madrasah aliyah kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.

(4) Ketentuan mengenai pendidikan menengah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Bagian Keempat

Pendidikan Tinggi

Pasal 19

(1) Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi.

(2) Pendidikan tinggi diselenggarakan dengan sistem terbuka.

Pasal 20

(1) Perguruan tinggi dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut, atau universitas.

(2) Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

(3) Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik, profesi, dan/atau vokasi.

(4) Ketentuan mengenai perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Pasal 21

(1) Perguruan tinggi yang memenuhi persyaratan pendirian dan dinyatakan berhak menyelenggarakan program pendidikan tertentu dapat memberikan gelar akademik, profesi, atau vokasi sesuai dengan program pendidikan yang diselenggarakannya.

(2) Perseorangan, organisasi, atau penyelenggara pendidikan yang bukan perguruan tinggi dilarang memberikan gelar akademik, profesi, atau vokasi.

(3) Gelar akademik, profesi, atau vokasi hanya digunakan oleh lulusan dari perguruan tinggi yang dinyatakan berhak memberikan gelar akademik, profesi, atau vokasi.

(4) Penggunaan gelar akademik, profesi, atau vokasi lulusan perguruan tinggi hanya dibenarkan dalam bentuk dan singkatan yang diterima dari perguruan tinggi yang bersangkutan.

(5) Penyelenggara pendidikan yang tidak memenuhi persyaratan pendirian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) atau penyelenggara pendidikan bukan perguruan tinggi yang melakukan tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikenakan sanksi administratif berupa penutupan penyelenggaraan pendidikan.

(6) Gelar akademik, profesi, atau vokasi yang dikeluarkan oleh penyelenggara pendidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan ayat (1) atau penyelenggara pendidikan yang bukan perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dinyatakan tidak sah.

(7) Ketentuan mengenai gelar akademik, profesi, atau vokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Pasal 22

Universitas, institut, dan sekolah tinggi yang memiliki program doktor berhak memberikan gelar doktor kehormatan (doktor honoris causa) kepada setiap individu yang layak memperoleh penghargaan berkenaan dengan jasa-jasa yang luar biasa dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, kemasyarakatan, keagamaan, kebudayaan, atau seni.

Pasal 23

(1) Pada universitas, institut, dan sekolah tinggi dapat diangkat guru besar atau profesor sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(2) Sebutan guru besar atau profesor hanya dipergunakan selama yang bersangkutan masih aktif bekerja sebagai pendidik di perguruan tinggi.

Pasal 24

(1) Dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, pada perguruan tinggi berlaku kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik serta otonomi keilmuan.

(2) Perguruan tinggi memiliki otonomi untuk mengelola sendiri lembaganya sebagai pusat penyelenggaraan pendidikan tinggi, penelitian ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat.

(3) Perguruan tinggi dapat memperoleh sumber dana dari masyarakat yang pengelolaannya dilakukan berdasarkan prinsip akuntabilitas publik.

(4) Ketentuan mengenai penyelenggaraan pendidikan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Pasal 25

(1) Perguruan tinggi menetapkan persyaratan kelulusan untuk mendapatkan gelar akademik, profesi, atau vokasi.

(2) Lulusan perguruan tinggi yang karya ilmiahnya digunakan untuk memperoleh gelar akademik, profesi, atau vokasi terbukti merupakan jiplakan dicabut gelarnya.

(3) Ketentuan mengenai persyaratan kelulusan dan pencabutan gelar akademik, profesi, atau vokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Bagian Kelima

Pendidikan Nonformal

Pasal 26

(1) Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.

(2) Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.

(3) Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. `

(4) Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.

(5) Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

(6) Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.

(7) Ketentuan mengenai penyelenggaraan pendidikan nonformal sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Bagian Keenam

Pendidikan Informal

Pasal 27

(1) Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.

(2) Hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.

(3) Ketentuan mengenai pengakuan hasil pendidikan informal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Bagian Ketujuh

Pendidikan Anak Usia Dini

Pasal 28

(1) Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.

(2) Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal.

(3) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk taman kanak-kanak (TK), raudatul athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.

(4) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk kelompok bermain (KB), taman penitipan anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat.

(5) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

(6) Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Bagian Kedelapan

Pendidikan Kedinasan

Pasal 29

(1) Pendidikan kedinasan merupakan pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen.

(2) Pendidikan kedinasan berfungsi meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam pelaksanaan tugas kedinasan bagi pegawai dan calon pegawai negeri suatu departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen.

(3) Pendidikan kedinasan diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal dan nonformal.

(4) Ketentuan mengenai pendidikan kedinasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Bagian Kesembilan

Pendidikan Keagamaan

Pasal 30

(1) Pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau kelompok masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(2) Pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama.

(3) Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal.

(4) Pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah, pesantren, pasraman, pabhaja samanera, dan bentuk lain yang sejenis.

(5) Ketentuan mengenai pendidikan keagamaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Bagian Kesepuluh

Pendidikan Jarak Jauh

Pasal 31

(1) Pendidikan jarak jauh diselenggarakan pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.

(2) Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler.

(3) Pendidikan jarak jauh diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus, dan cakupan yang didukung oleh sarana dan layanan belajar serta sistem penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standar nasional pendidikan.

(4) Ketentuan mengenai penyelenggaraan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Bagian Kesebelas

Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus.

Pasal 32

(1) Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.

(2) Pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi.

(3) Ketentuan mengenai pelaksanaan pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah

BAB VII

BAHASA PENGANTAR

Pasal 33

(1) Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara menjadi bahasa pengantar dalam pendidikan nasional.

(2) Bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar dalam tahap awal pendidikan apabila diperlukan dalam penyampaian pengetahuan dan/atau keterampilan tertentu.

(3) Bahasa asing dapat digunakan sebagai bahasa pengantar pada satuan pendidikan tertentu untuk mendukung kemampuan berbahasa asing peserta didik.

BAB VIII

WAJIB BELAJAR

Pasal 34

(1) Setiap warga negara yang berusia 6 tahun dapat mengikuti program wajib belajar.

(2) Pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya.

(3) Wajib belajar merupakan tanggung jawab negara yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.

(4) Ketentuan mengenai wajib belajar sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

BAB IX

STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN

Pasal 35

(1) Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala.

(2) Standar nasional pendidikan digunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan.

(3) Pengembangan standar nasional pendidikan serta pemantauan dan pelaporan pencapaiannya secara nasional dilaksanakan oleh suatu badan standardisasi, penjaminan, dan pengendalian mutu pendidikan.

(4) Ketentuan mengenai standar nasional pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

BAB X

KURIKULUM

Pasal 36

(1) Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

(2) Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.

(3) Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:

a. peningkatan iman dan takwa;

b. peningkatan akhlak mulia;

c. peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik;

d. keragaman potensi daerah dan lingkungan;

e. tuntutan pembangunan daerah dan nasional;

f. tuntutan dunia kerja;

g. perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;

h. agama;

i. dinamika perkembangan global; dan

j. persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.

(4) Ketentuan mengenai pengembangan kurikulum sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Pasal 37

(1) Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat:

a. pendidikan agama;

b. pendidikan kewarganegaraan;

c. bahasa;

d. matematika;

e. ilmu pengetahuan alam;

f. ilmu pengetahuan sosial;

g. seni dan budaya;

h. pendidikan jasmani dan olahraga;

i. keterampilan/kejuruan; dan

j. muatan lokal.

(2) Kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat:

a. pendidikan agama;

b. pendidikan kewarganegaraan; dan

c. bahasa.

(3) Ketentuan mengenai kurikulum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Pasal 38

(1) Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh Pemerintah.

(2) Kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah.

(3) Kurikulum pendidikan tinggi dikembangkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk setiap program studi.

(4) Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan tinggi dikembangkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk setiap program studi.

BAB XI

PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

Pasal 39

(1) Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan.

(2) Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.

Pasal 40

(1) Pendidik dan tenaga kependidikan berhak memperoleh:

a. penghasilan dan jaminan kesejahteraan sosial yang pantas dan memadai;

b. penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja;

c. pembinaan karier sesuai dengan tuntutan pengembangan kualitas;

d. perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas dan hak atas hasil kekayaan intelektual; dan

e. kesempatan untuk menggunakan sarana, prasarana, dan fasilitas pendidikan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas.

(2) Pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban:

a. menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis;

b. mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan; dan

c. memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Pasal 41

(1) Pendidik dan tenaga kependidikan dapat bekerja secara lintas daerah.

(2) Pengangkatan, penempatan, dan penyebaran pendidik dan tenaga kependidikan diatur oleh lembaga yang mengangkatnya berdasarkan kebutuhan satuan pendidikan formal.

(3) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memfasilitasi satuan pendidikan dengan pendidik dan tenaga kependidikan yang diperlukan untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu.

(4) Ketentuan mengenai pendidik dan tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Pasal 42

(1) Pendidik harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

(2) Pendidik untuk pendidikan formal pada jenjang pendidikan usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi dihasilkan oleh perguruan tinggi yang terakreditasi.

(3) Ketentuan mengenai kualifikasi pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Pasal 43

(1) Promosi dan penghargaan bagi pendidik dan tenaga kependidikan dilakukan berdasarkan latar belakang pendidikan, pengalaman, kemampuan, dan prestasi kerja dalam bidang pendidikan.

(2) Sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi.

(3) Ketentuan mengenai promosi, penghargaan, dan sertifikasi pendidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Pasal 44

(1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah.

(2) Penyelenggara pendidikan oleh masyarakat berkewajiban membina dan mengembangkan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan yang diselenggarakannya.

(3) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membantu pembinaan dan pengembangan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan formal yang diselenggarakan oleh masyarakat.

BAB XII

SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN

Pasal 45

(1) Setiap satuan pendidikan formal dan nonformal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan kejiwaan peserta didik.

(2) Ketentuan mengenai penyediaan sarana dan prasarana pendidikan pada semua satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

BAB XIII

PENDANAAN PENDIDIKAN

Bagian Kesatu

Tanggung Jawab Pendanaan

Pasal 46

(1) Pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.

(2) Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab menyediakan anggaran pendidikan sebagaimana diatur dalam Pasal 31 ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

(3) Ketentuan mengenai tanggung jawab pendanaan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Bagian Kedua

Sumber Pendanaan Pendidikan

Pasal 47

(1) Sumber pendanaan pendidikan ditentukan berdasarkan prinsip keadilan, kecukupan, dan keberlanjutan.

(2) Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat mengerahkan sumber daya yang ada sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(3) Ketentuan mengenai sumber pendanaan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Bagian Ketiga

Pengelolaan Dana Pendidikan

Pasal 48

(1) Pengelolaan dana pendidikan berdasarkan pada prinsip keadilan, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas publik.

(2) Ketentuan mengenai pengelolaan dana pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Bagian Keempat

Pengalokasian Dana Pendidikan

Pasal 49

(1) Dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada sektor pendidikan dan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

(2) Gaji guru dan dosen yang diangkat oleh Pemerintah dialokasikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

(3) Dana pendidikan dari Pemerintah dan pemerintah daerah untuk satuan pendidikan diberikan dalam bentuk hibah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(4) Dana pendidikan dari Pemerintah kepada pemerintah daerah diberikan dalam bentuk hibah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(5) Ketentuan mengenai pengalokasian dana pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

BAB XIV

PENGELOLAAN PENDIDIKAN

Bagian Kesatu

Umum

Pasal 50

(1) Pengelolaan sistem pendidikan nasional merupakan tanggung jawab menteri.

(2) Pemerintah menentukan kebijakan nasional dan standar nasional pendidikan untuk menjamin mutu pendidikan nasional.

(3) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional.

(4) Pemerintah daerah provinsi melakukan koordinasi atas penyelenggaraan pendidikan, pengembangan tenaga kependidikan, dan penyediaan fasilitas penyelenggaraan pendidikan lintas daerah kabupaten/kota untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah.

(5) Pemerintah kabupaten/kota mengelola pendidikan dasar dan pendidikan menengah, serta satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal.

(6) Perguruan tinggi menentukan kebijakan dan memiliki otonomi dalam mengelola pendidikan di lembaganya.

(7) Ketentuan mengenai pengelolaan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Pasal 51

(1) Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah.

(2) Pengelolaan satuan pendidikan tinggi dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi, akuntabilitas, jaminan mutu, dan evaluasi yang transparan.

(3) Ketentuan mengenai pengelolaan satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Pasal 52

(1) Pengelolaan satuan pendidikan nonformal dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.

(2) Ketentuan mengenai pengelolaan satuan pendidikan nonformal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Bagian Kedua

Badan Hukum Pendidikan

Pasal 53

(1) Penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan.

(2) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi memberikan pelayanan pendidikan kepada peserta didik.

(3) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berprinsip nirlaba dan dapat mengelola dana secara mandiri untuk memajukan satuan pendidikan.

(4) Ketentuan tentang badan hukum pendidikan diatur dengan undang-undang tersendiri.

BAB XV

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENDIDIKAN

Bagian Kesatu

Umum

Pasal 54

(1) Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan.

(2) Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan.

(3) Ketentuan mengenai peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Bagian Kedua

Pendidikan Berbasis Masyarakat

Pasal 55

(1) Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama, lingkungan sosial, dan budaya untuk kepentingan masyarakat.

(2) Penyelenggara pendidikan berbasis masyarakat mengembangkan dan melaksanakan kurikulum dan evaluasi pendidikan, serta manajemen dan pendanaannya sesuai dengan standar nasional pendidikan.

(3) Dana penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat dapat bersumber dari penyelenggara, masyarakat, Pemerintah, pemerintah daerah dan/atau sumber lain yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(4) Lembaga pendidikan berbasis masyarakat dapat memperoleh bantuan teknis, subsidi dana, dan sumber daya lain secara adil dan merata dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah.

(5) Ketentuan mengenai peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Bagian Ketiga

Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah/Madrasah

Pasal 56

(1) Masyarakat berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan yang meliputi perencanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan melalui dewan pendidikan dan komite sekolah/madrasah.

(2) Dewan pendidikan sebagai lembaga mandiri dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan, arahan dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana, serta pengawasan pendidikan pada tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota yang tidak mempunyai hubungan hirarkis.

(3) Komite sekolah/madrasah, sebagai lembaga mandiri, dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan dengan memberikan pertimbangan, arahan dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana, serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan.

(4) Ketentuan mengenai pembentukan dewan pendidikan dan komite sekolah/madrasah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

BAB XVI

EVALUASI, AKREDITASI, DAN SERTIFIKASI

Bagian Kesatu

Evaluasi

Pasal 57

(1) Evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

(2) Evaluasi dilakukan terhadap peserta didik, lembaga, dan program pendidikan pada jalur formal dan nonformal untuk semua jenjang, satuan, dan jenis pendidikan.

Pasal 58

(1) Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan.

(2) Evaluasi peserta didik, satuan pendidikan, dan program pendidikan dilakukan oleh lembaga mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistemik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan.

Pasal 59

(1) Pemerintah dan pemerintah daerah melakukan evaluasi terhadap pengelola, satuan, jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.

(2) Masyarakat dan/atau organisasi profesi dapat membentuk lembaga yang mandiri untuk melakukan evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58.

(3) Ketentuan mengenai evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Bagian Kedua

Akreditasi

Pasal 60

(1) Akreditasi dilakukan untuk menentukan kelayakan program dan satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan nonformal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.

(2) Akreditasi terhadap program dan satuan pendidikan dilakukan oleh Pemerintah dan/atau lembaga mandiri yang berwenang sebagai bentuk akuntabilitas publik.

(3) Akreditasi dilakukan atas dasar kriteria yang bersifat terbuka.

(4) Ketentuan mengenai akreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Bagian Ketiga

Sertifikasi

Pasal 61

(1) Sertifikat berbentuk ijazah dan sertifikat kompetensi.

(2) Ijazah diberikan kepada peserta didik sebagai pengakuan terhadap prestasi belajar dan/atau penyelesaian suatu jenjang pendidikan setelah lulus ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi.

(3) Sertifikat kompetensi diberikan oleh penyelenggara pendidikan dan lembaga pelatihan kepada peserta didik dan warga masyarakat sebagai pengakuan terhadap kompetensi untuk melakukan pekerjaan tertentu setelah lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi atau lembaga sertifikasi.

(4) Ketentuan mengenai sertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

BAB XVII

PENDIRIAN SATUAN PENDIDIKAN

Pasal 62

(1) Setiap satuan pendidikan formal dan nonformal yang didirikan wajib memperoleh izin Pemerintah atau pemerintah daerah.

(2) Syarat-syarat untuk memperoleh izin meliputi isi pendidikan, jumlah dan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana pendidikan, pembiayaan pendidikan, sistem evaluasi dan sertifikasi, serta manajemen dan proses pendidikan.

(3) Pemerintah atau pemerintah daerah memberi atau mencabut izin pendirian satuan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(4) Ketentuan mengenai pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Pasal 63

Satuan pendidikan yang didirikan dan diselenggarakan oleh Perwakilan Republik Indonesia di negara lain menggunakan ketentuan undang-undang ini.

BAB XVIII

PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN OLEH LEMBAGA NEGARA LAIN

Pasal 64

Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh perwakilan negara asing di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, bagi peserta didik warga negara asing, dapat menggunakan ketentuan yang berlaku di negara yang bersangkutan atas persetujuan Pemerintah Republik Indonesia.

Pasal 65

(1) Lembaga pendidikan asing yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya dapat menyelenggarakan pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(2) Lembaga pendidikan asing pada tingkat pendidikan dasar dan menengah wajib memberikan pendidikan agama dan kewarganegaraan bagi peserta didik warga negara Indonesia.

(3) Penyelenggaraan pendidikan asing wajib bekerja sama dengan lembaga pendidikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan mengikutsertakan tenaga pendidik dan pengelola warga negara Indonesia.

(4) Kegiatan pendidikan yang menggunakan sistem pendidikan negara lain yang diselenggarakan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(5) Ketentuan mengenai penyelenggaraan pendidikan asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

BAB XIX

PENGAWASAN

Pasal 66

(1) Pemerintah, pemerintah daerah, dewan pendidikan, dan komite sekolah/madrasah melakukan pengawasan atas penyelenggaraan pendidikan pada semua jenjang dan jenis pendidikan sesuai dengan kewenangan masing-masing.

(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas publik.

(3) Ketentuan mengenai pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

BAB XX

KETENTUAN PIDANA

Pasal 67

(1) Perseorangan, organisasi, atau penyelenggara pendidikan yang memberikan ijazah, sertifikat kompetensi, gelar akademik, profesi, dan/atau vokasi tanpa hak dipidana dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

(2) Penyelenggara perguruan tinggi yang dinyatakan ditutup berdasarkan Pasal 21 ayat (5) dan masih beroperasi dipidana dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

(3) Penyelenggara pendidikan yang memberikan sebutan guru besar atau profesor dengan melanggar Pasal 23 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

(4) Penyelenggara pendidikan jarak jauh yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Pasal 68

(1) Setiap orang yang membantu memberikan ijazah, sertifikat kompetensi, gelar akademik, profesi, dan/atau vokasi dari satuan pendidikan yang tidak memenuhi persyaratan dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(2) Setiap orang yang menggunakan ijazah, sertifikat kompetensi, gelar akademik, profesi, dan/atau vokasi yang diperoleh dari satuan pendidikan yang tidak memenuhi persyaratan dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(3) Setiap orang yang menggunakan gelar lulusan yang tidak sesuai dengan bentuk dan singkatan yang diterima dari perguruan tinggi yang bersangkutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama dua tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

(4) Setiap orang yang memperoleh dan/atau menggunakan sebutan guru besar yang tidak sesuai dengan Pasal 23 ayat (1) dan/atau ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Pasal 69

(1) Setiap orang yang menggunakan ijazah, sertifikat kompetensi, gelar akademik, profesi, dan/atau vokasi yang terbukti palsu dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(2) Setiap orang yang dengan sengaja tanpa hak menggunakan ijazah dan/atau sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 ayat (2) dan ayat (3) yang terbukti palsu dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Pasal 70

Lulusan yang karya ilmiah yang digunakannya untuk mendapatkan gelar akademik, profesi, atau vokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (2) terbukti merupakan jiplakan dipidana dengan pidana penjara paling lama dua tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

Pasal 71

Penyelenggara satuan pendidikan yang didirikan tanpa izin Pemerintah atau pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

BAB XXI

KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 72

Penyelenggaraan pendidikan yang pada saat undang-undang ini diundangkan belum berbentuk badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 tetap berlaku sampai dengan terbentuknya undang-undang yang mengatur badan hukum pendidikan.

Pasal 73

Pemerintah atau pemerintah daerah wajib memberikan izin paling lambat dua tahun kepada satuan pendidikan formal yang telah berjalan pada saat undang-undang ini diundangkan belum memiliki izin.

Pasal 74

Semua peraturan perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 1989 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3390) yang ada pada saat diundangkannya undang-undang ini masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan undang-undang ini.

BAB XXII

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 75

Semua peraturan perundang-undangan yang diperlukan untuk melaksanakan undang-undang ini harus diselesaikan paling lambat dua tahun terhitung sejak berlakunya undang-undang ini.

Pasal 76

Pada saat mulai berlakunya undang-undang ini, Undang-Undang Nomor 48/Prp./1960 tentang Pengawasan Pendidikan dan Pengajaran Asing (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 155, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2103) dan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Tahun 1989 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3390) dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 77

Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Disahkan di Jakarta

pada tanggal 8 Juli 2003

UNDANG-UNDANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL (UUSPN) NO. 20 TAHUN 2003 « SMPN 1 SINGAJAYA.

PENGUMUMAN HASIL SELEKSI ADMINISTRASI PENERIMAAN PEGAWAI PT. KAI TAHUN 2012 UNTUK TINGKAT SLTA


PENGUMUMAN HASIL SELEKSI ADMINISTRASI PENERIMAAN PEGAWAI PT. KAI TAHUN 2012 UNTUK TINGKAT SLTA KLIK LINK DI BAWAH INI UNTUK MENDOWNLOAD
Hasil Seleksi Administrasi Rekrut Eksternal Untuk Pegawai Administrasi & Operasional Tk SLTA Tahun 2012 – Sub Divre III.2 Tanjungkarang
Hasil Seleksi Administrasi Rekrut Eksternal Untuk Pegawai Administrasi & Operasional Tk SLTA Tahun 2012 – Sub Divre III.1 Kertapati
Hasil Seleksi Administrasi Rekrut Eksternal Untuk Pegawai Administrasi & Operasional Tk SLTA Tahun 2012 – Daop 1 Jakarta
Hasil Seleksi Administrasi Rekrut Eksternal Untuk Pegawai Administrasi & Operasional Tk SLTA Tahun 2012 – Daop 2 Bandung
Hasil Seleksi Administrasi Rekrut Eksternal Untuk Pegawai Administrasi & Operasional Tk SLTA Tahun 2012 – Daop 3 Cirebon
Hasil Seleksi Administrasi Rekrut Eksternal Untuk Pegawai Administrasi & Operasional Tk SLTA Tahun 2012 – Daop 4 Semarang
Hasil Seleksi Administrasi Rekrut Eksternal Untuk Pegawai Administrasi & Operasional Tk SLTA Tahun 2012 – Daop 5 Purwokerto
Hasil Seleksi Administrasi Rekrut Eksternal Untuk Pegawai Administrasi & Operasional Tk SLTA Tahun 2012 – Daop 6 Yogyakarta
Hasil Seleksi Administrasi Rekrut Eksternal Untuk Pegawai Administrasi & Operasional Tk SLTA Tahun 2012 – Daop 7 Madiun
Hasil Seleksi Administrasi Rekrut Eksternal Untuk Pegawai Administrasi & Operasional Tk SLTA Tahun 2012 – Daop 8 Surabaya
Hasil Seleksi Administrasi Rekrut Eksternal Untuk Pegawai Administrasi & Operasional Tk SLTA Tahun 2012 – Divre I Medan
Hasil Seleksi Administrasi Rekrut Eksternal Untuk Pegawai Administrasi & Operasional Tk SLTA Tahun 2012 – Divre II Padang

PENGUMUMAN SELEKSI ADMINISTRASI PENERIMAAN PEGAWAI PT KAI UNTUK TENAGA OPERASIONAL DAN ADMINISRASI JENJANG SLTA TAHUN 2012

PENGUMUMAN SELEKSI ADMINISTRASI PENERIMAAN PEGAWAI PT KAI UNTUK TENAGA OPERASIONAL DAN ADMINISRASI JENJANG SLTA TAHUN 2012 YANG SEMULA AKAN DIUMUMKAN TANGGAL 22 MEI 2012 DITUNDA SAMPAI BESOK HARI DAN AKAN DIUMUMKAN TANGGAL 23 MEI 2012

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap IV (Wawancara) Rekrut Eksternal Untuk Masinis Dan PPKA Tingkat SLTA Tahun 2012

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap IV (Wawancara) Rekrut Eksternal Untuk Masinis Dan PPKA Tingkat SLTA Tahun 2012

Download hasilnya klik di bawaha ini
Download Pengumuman Hasil Seleksi Tahap IV Klik di sini

Berdasarkan Hasil Seleksi Tahap IV (Wawancara) Rekrut Eksternal Untuk Masinis dan PPKA Tingkat SLTA Tahun 2012 PT. Kereta Api Indonesia (Persero). menetapkan peserta yang dinyatakan lulus adalah sebagaimana daftar di bawah.

Bagi Peserta yang dinyatakan Lulus Seleksi Tahap IV (wawancara) wajib hadir pada :
Hari, Tanggal : Rabu, 30 Mei 2012
Pukul : 09.00 WIB s/d selesai
Tempat : Sesuai daftar terlampir
Acara : Pengarahan dan Penandatanganan Kontrak

Ketentuan

:

1.Setiap peserta harap membawa Kartu Peserta.

2.Peserta wajib bersepatu dan berpakaian : kemeja putih, celana
warna hitam/ gelap.
3. Membawa Surat Keterangan Bebas Narkoba dari Kepolisian
4. Membawa Materai Rp.6.000,00 sebanyak 2 (dua) lembar

DAFTAR NOMINATIF LULUS SELEKSI TAHAP IV (WAWANCARA)
REKRUT EKSTERNAL UNTUK MASINIS DAN PPKA TINGKAT SLTA TAHUN 2012
DI LINGKUNGAN PT. KERETA API INDONESIA (PERSERO)
NO NO TES NO REG NAMA TEMPAT LAHIR TGL LAHIR
DAOP I JAKARTA
Ruang Arjuna Lt. 2 Stasiun Jakarta Kota, Jl. Stasiun Kota No.1 Jakarta
1 2012.D1.MAS.067 3341 AGUNG SUDHARSONO KUNINGAN 10/1/1986
2 2012.D1.MAS.115 2075 ALI BAKHTIAR BREBES 8/1/1991
3 2012.D1.MAS.125 53719 ANAS FADLI JAMIL JAKARTA 3/29/1993
4 2012.D1.MAS.133 26147 ANDI SETIAWAN SEMARANG 11/24/1992
5 2012.D1.MAS.172 145 ARDIANSYAH BOGOR 7/6/1992
6 2012.D1.MAS.185 16031 ARIEF SOFWAN FIRDAUS CIREBON 6/30/1989
7 2012.D1.MAS.189 9506 ARIF PRASETYA BEKASI 11/18/1988
8 2012.D1.MAS.198 18834 ARYO SATYO ANGGORO JAKARTA 9/7/1990
9 2012.D1.MAS.204 18722 ASEP SETIAWAN MAGETAN 9/20/1988
10 2012.D1.MAS.242 5442 BUSRO HILMI MUZZAKY SURABAYA 5/17/1993
11 2012.D1.MAS.251 8308 CHOLID JAKARTA 12/27/1989
12 2012.D1.MAS.263 20976 DANOS ARBANO JAKARTA 12/11/1982
13 2012.D1.MAS.324 44643 DONI ROSAMSI BOGOR 4/10/1985
14 2012.D1.MAS.346 32024 EGGI NUGRAHA CIREBON 9/11/1992
15 2012.D1.MAS.393 16017 FARID AZHAR BOGOR 9/4/1993
16 2012.D1.MAS.441 28481 HADIYANTO ISMAIL BOGOR 6/22/1992
17 2012.D1.MAS.453 35912 HARY MASYHUR RAMDHANI JAKARTA 3/28/1991
18 2012.D1.MAS.459 23413 HENDRA SETIAWAN LAMONGAN 9/9/1984
19 2012.D1.MAS.524 51527 JOKO SANTOSA GROBOGAN 10/1/1989
20 2012.D1.MAS.572 5001 MAYASIN BRIMER TANJUNG ENIM 9/12/1988
21 2012.D1.MAS.584 20827 MOCHAMAT SIDIK GROBOGAN 3/19/1992
22 2012.D1.MAS.595 8909 MOVADO YACOEB RACHMANTHIS JAKARTA 9/6/1989
23 2012.D1.MAS.754 55520 RUDIANTO PATI 7/6/1989
24 2012.D1.MAS.776 19184 SATRIO PONCO UTOMO SLEMAN 4/11/1993
25 2012.D1.MAS.823 33967 SUYITNO CILACAP 12/25/1987
26 2012.D1.MAS.883 11124 YANUAR WAHYU WIDODO BANYUMAS 4/1/1991
27 2012.D1.MAS.897 52177 YUDO HARYANTO JAKARTA 12/25/1988
DAOP II BANDUNG
Aula Lt.3 Kantor Daop 2 Bandung, Jl. Stasiun Selatan No.25 Bandung
1 2012.D2.MAS.008 49768 AGUNG ANANTA BANDUNG 6/18/1993
2 2012.D2.MAS.010 20298 AGUNG PRAYOGA SUMEDANG 5/1/1992
3 2012.D2.MAS.090 18127 GUGUN GUMILAR GARUT 7/5/1993
4 2012.D2.MAS.099 20556 HENDRO PATMANTO GARUT 4/25/1988
5 2012.D2.MAS.100 25217 ILYAS GUNA WIJAYA BANDUNG 5/1/1992
6 2012.D2.MAS.103 51351 INDRA HERMAWAN BANDUNG 11/21/1992
7 2012.D2.MAS.107 52554 IRFAN JUNAEDI CIREBON 12/6/1988
8 2012.D2.MAS.113 29928 JOHAR PRAMUJA GARUT 1/21/1992
9 2012.D2.MAS.139 49963 PIPIN RAHAYU BANDUNG 6/1/1992
10 2012.D2.PPKA.001 49132 ACHMAD TEGUH GINANJAR GARUT 12/20/1989
11 2012.D2.PPKA.014 7010 ALVIN GANI SAMARINDA 11/24/1987
12 2012.D2.PPKA.063 44352 GANJAR RAMADHAN BANDUNG 5/13/1988
13 2012.D2.PPKA.065 31348 GILANG PURNAMA BANDUNG 1/10/1992
14 2012.D2.PPKA.080 49093 INDRA SETIAJI CIREBON 1/23/1994
15 2012.D2.PPKA.082 14818 IQBAL WAHYU EKO PUTRO KLATEN 2/11/1993
16 2012.D2.PPKA.093 54193 LUFHY BAGUS SATRIO NGANJUK 8/13/1993
17 2012.D2.PPKA.101 6382 MARYANTO EKA SUSANTO INDRAMAYU 4/3/1993
18 2012.D2.PPKA.108 16096 MUHAMAD GUNARI GARUT 10/24/1991
19 2012.D2.PPKA.140 39256 RUDIYONO INDRAMAYU 11/16/1988
20 2012.D2.PPKA.170 33750 YUDI MULYANA CIAMIS 1/24/1991
DAOP V PURWOKERTO
Ruang Kamandaka Kantor Daop 5 Purwokerto, Jl. Jend. Soedirman No.209 Purwokerto
1 2012.D5.MAS.001 340 ADE TRI RAHARJO KEBUMEN 5/25/1989
2 2012.D5.MAS.004 20704 ALVAN RIVAI PURWOREJO 12/22/1993
3 2012.D5.MAS.009 3164 DEDE MULYADI SAPUTRO BREBES 10/3/1988
4 2012.D5.MAS.011 1659 DIMAS GALIH TRIAJI KEBUMEN 11/1/1993
5 2012.D5.MAS.018 978 MEI AGUNG HERO GAGAH PRIBADI BANYUMAS 5/15/1991
6 2012.D5.MAS.023 23097 PUJIANTO BANYUMAS 5/26/1986
DAOP VI YOGYAKARTA
Ruang Bimaloka Kantor Daop 6 Yogyakarta, Jl. Lempuyangan No.1 Yogyakarta
1 2012.D6.PPKA.001 16121 AAN PAMADHITYA BANTUL 9/17/1989
2 2012.D6.PPKA.012 4058 AGUS DWI WAHYUDI SLEMAN 8/27/1992
3 2012.D6.PPKA.013 38274 AGUS PRASETYO SRAGEN 8/17/1992
4 2012.D6.PPKA.017 23622 AJI PRIMA ADITYA CILACAP 5/9/1991
5 2012.D6.PPKA.019 25521 ANDAN ROSYID FATHONY SUKOHARJO 12/26/1989
6 2012.D6.PPKA.025 1794 ARI ISTANTA KULON PROGO 11/22/1990
7 2012.D6.PPKA.026 20718 ARISTA HERLIYANTO KLATEN 3/30/1989
8 2012.D6.PPKA.027 30227 AVIF HENDITA MAHFIUL AMIN YOGYAKARTA 7/6/1989
9 2012.D6.PPKA.028 44038 BAYU TRIGIANTO MAGETAN 8/22/1991
10 2012.D6.PPKA.030 27978 BOWO SANTOSO BANTUL 3/14/1992
11 2012.D6.PPKA.033 23690 DAVID MIFTAHUDIN TULUNGAGUNG 10/12/1989
12 2012.D6.PPKA.044 54161 DZIKRI ABDILLAH JOMBANG 5/26/1993
13 2012.D6.PPKA.054 44090 HASAN NURYADI SRAGEN 5/29/1993
14 2012.D6.PPKA.056 19135 HERMAN SETIYAWAN WONOGIRI 7/22/1988
15 2012.D6.PPKA.060 54236 JOKO PURWANTO KLATEN 6/21/1988
16 2012.D6.PPKA.061 10905 JOKO SUGIYANTO BOYOLALI 7/5/1988
17 2012.D6.PPKA.075 22339 RIYAN ARDHI PRADHITA KUDUS 3/17/1991
DAOP VII MADIUN
Ruang Pertemuan Lt.2 Kantor Daop 7 Madiun, Jl. Kompol Sunaryo No.14 Madiun
1 2012.D7.MAS.007 18113 M. IDHAR PRINGGODIGDO AMBON 2/12/1989
2 2012.D7.PPKA.006 7825 ANDI PRASTYO MADIUN 7/19/1992
3 2012.D7.PPKA.012 31345 ARIF SULAIMAN ALFIKRI BLITAR 5/5/1992
4 2012.D7.PPKA.041 1882 GALIH IRMAWAN MAGETAN 3/16/1987
5 2012.D7.PPKA.048 42574 HERI SUYATMAN JAKARTA 2/27/1988
6 2012.D7.PPKA.073 34995 MUHAMMAD SIDIQ RAMADAN MAGETAN 4/23/1988
7 2012.D7.PPKA.081 53260 RINA NADHIATUL MUNAFIAH MADIUN 8/10/1988
8 2012.D7.PPKA.084 18247 RIZKI DWI PRIMASTO SURABAYA 5/6/1988
9 2012.D6.PPKA.074 574 RISKA WIBOWO BANTUL 3/16/1991
10 2012.D6.PPKA.081 16694 SETYO BUDI UTOMO GROBOGAN 1/5/1989
DAOP VIII SURABAYA
Ruang Rapat Kantor Daop 8 Surabaya, Jl. Gubeng Masjid Surabaya.
1 2012.D8.MAS.020 19814 EZA WIDI ANDIKA JAKARTA 7/18/1993
2 2012.D8.MAS.032 19872 LARASANDI BANYUWANGI 8/4/1988
3 2012.D8.MAS.049 50695 RAHMATANTO FRI AZIZAN BLITAR 4/24/1992
4 2012.D8.MAS.054 47742 SUKO WIGENO BANYUWANGI 8/14/1987
5 2012.D5.MAS.020 585 MUARIF KURNIAWAN BANYUMAS 8/26/1991
6 2012.D5.MAS.032 32473 UNTUNA ARIFIN BANYUMAS 5/24/1989
DIVRE I MEDAN
Ruang Sribillah Lt.3 Kantor Divre 1 Sumatera Utara, Jl. Prof. M. Yamin No.14 Medan
1 2012.DIV1.MAS.002 39630 ABDUL WAHAB RAMBE MEDAN 10/15/1989
2 2012.DIV1.MAS.011 55368 ANDREA ALVY ALVANDIARY STABAT 10/19/1993
3 2012.DIV1.MAS.029 47936 DAVID HAMONANGAN MANURUNG KISARAN 4/5/1993
4 2012.DIV1.MAS.035 38174 EGUN GUNAWAN AEK KANOPAN 11/1/1993
5 2012.DIV1.MAS.043 34104 GIFVI N. P. SIHOMBING PEMATANG SIANTAR 10/25/1993
DIVRE II PADANG
Ruang Aula Divre II Sumatera Barat, Jl. Stasiun No.1 Padang
1 2012.DIV2.MAS.013 18901 BUDI SANDJAYA K PADANG 7/2/1990
2 2012.DIV2.MAS.042 46838 NANDA FIRNANDES PASIR BARU 10/17/1990
3 2012.DIV2.MAS.044 5333 RAHMADANU PRATAMA PADANG 11/4/1993
SUB DIVRE III.1 KERTAPATI
Kantor Sub Divre III.1 Kertapati Jl. Stasiun No.2 Kertapati
1 2012.SDV31.MAS.006 42090 ABDURRAHMAN PALEMBANG 2/3/1991
2 2012.SDV31.MAS.014 12035 ADI SAPUTRA PALEMBANG 12/26/1991
3 2012.SDV31.MAS.016 45977 ADITIYAH PRATIYAKSA PALEMBANG 10/8/1993
4 2012.SDV31.MAS.031 4307 AHMAD SYAFRUDIN PALEMBANG 5/9/1993
5 2012.SDV31.MAS.045 13449 ANANG JULIYANSYAH LAHAT 4/7/1993
6 2012.SDV31.MAS.058 16211 ANTON PALEMBANG 6/28/1988
7 2012.SDV31.MAS.060 7293 ANTON WIJAYA LAHAT 7/16/1989
8 2012.SDV31.MAS.063 23416 APRI WARISMAN HERWASA TANJUNG ENIM 4/22/1991
9 2012.SDV31.MAS.079 3018 ARIZKI SATRIALOGI PALEMBANG 11/1/1993
10 2012.SDV31.MAS.092 18128 BASTARI PALEMBANG 8/14/1988
11 2012.SDV31.MAS.093 23718 BERTA MASHADI PALEMBANG 5/14/1993
12 2012.SDV31.MAS.127 151 DWI ABRIANSYAH RANDA PALEMBANG 5/10/1993
13 2012.SDV31.MAS.164 214 HAMID SANTOSO PALEMBANG 8/17/1993
14 2012.SDV31.MAS.183 9129 IBNU MAHFUZH PALEMBANG 5/25/1993
15 2012.SDV31.MAS.212 17273 JUANTA MADUS PRABUMULIH 6/19/1990
16 2012.SDV31.MAS.223 56205 KRESNA LISTIAWAN PALEMBANG 3/1/1992
17 2012.SDV31.MAS.244 2254 M.RENDY TREZA PALEMBANG 4/10/1993
18 2012.SDV31.MAS.255 51095 MUHAMAD IVANDRI ALHAQ PALEMBANG 4/28/1992
19 2012.SDV31.MAS.284 40979 MUHAMMAD NAJMI PALEMBANG 5/23/1993
20 2012.SDV31.MAS.396 52605 T. DEANDRA ARIFIN SYARIEF PALEMBANG 1/10/1993
21 2012.SDV31.MAS.430 27921 YUSRI EFENDI PALEMBANG 12/4/1991
22 2012.SDV31.MAS.431 966 ZAINAL ARIFIN CEMPAKA 10/25/1993
23 2012.SDV31.MAS.432 53590 ZANUARLI PUTRA DUANSYAH PALEMBANG 6/1/1994
SUB DIVRE III.2 TANJUNGKARANG
Kantor Sub Divre III.2 Tanjungkarang, Jl. Teuku Umar No.23 Bandar Lampung.
1 2012.SDV32.MAS.052 23878 ADITHIO BAYU ANGGORO RM BANDAR LAMPUNG 2/19/1991
2 2012.SDV32.MAS.141 3334 AHMAD RIZKY ZARFANI BANDAR LAMPUNG 6/18/1993
3 2012.SDV32.MAS.230 3375 ANDRI PURWANTO KARANG ANYAR 10/17/1991
4 2012.SDV32.MAS.240 3488 ANDRIAN NISAR CANDIMAS 12/3/1993
5 2012.SDV32.MAS.241 24229 ANDRIANSYAH BANDAR LAMPUNG 12/18/1988
6 2012.SDV32.MAS.259 35991 ANGGI MARTA PRAYOGA TANJUNG KARANG 3/27/1988
7 2012.SDV32.MAS.263 33439 ANGGI TRIDANA SYAPUTRA LAHAT 8/13/1993
8 2012.SDV32.MAS.265 3393 ANGGUN PAMUNGKAS CANDIMAS 12/27/1990
9 2012.SDV32.MAS.311 56 ARDY HIDAYAT BANDAR LAMPUNG 11/22/1992
10 2012.SDV32.MAS.342 34328 ARIF SAPUTRA BANDAR LAMPUNG 2/12/1989
11 2012.SDV32.MAS.353 7647 ARIZAL BANDAR LAMPUNG 3/31/1992
12 2012.SDV32.MAS.423 48125 CAHYO BASKORO WAY GALIH 3/25/1986
13 2012.SDV32.MAS.443 25683 COKRO WASKITO JAKARTA 7/30/1989
14 2012.SDV32.MAS.444 15914 DAFIQ ISRI BANDAR LAMPUNG 2/12/1992
15 2012.SDV32.MAS.466 20713 DEDI MISWANTO GADING REJO 8/12/1988
16 2012.SDV32.MAS.470 15707 DEDY PURNOMO KEMBANG TANJUNG 12/15/1988
17 2012.SDV32.MAS.486 4148 DENIS BHAKTI DARMAWAN BANDAR LAMPUNG 12/20/1991
18 2012.SDV32.MAS.492 15760 DERI EKO IRAWAN BANDUNG 8/26/1993
19 2012.SDV32.MAS.547 32779 DWI ARSO MUNANDAR BANJAR BARU 3/22/1989
20 2012.SDV32.MAS.590 30217 EKO OKTA RIAN BATURAJA 11/10/1992
21 2012.SDV32.MAS.610 17367 ELY HAKIM PANJANG 9/30/1988
22 2012.SDV32.MAS.691 25390 FIRMANSYAH KURUNGAN NYAWA 3/12/1990
23 2012.SDV32.MAS.697 26891 FRANSISCO TALANG PADANG 10/4/1988
24 2012.SDV32.MAS.709 36868 GIEN NUR RIDWAN LAMPUNG SELATAN 2/4/1983
25 2012.SDV32.MAS.744 45203 HENDRA KOTABUMI 7/2/1988
26 2012.SDV32.MAS.792 50215 HERMAWAN TANJUNG KARANG 1/15/1990
27 2012.SDV32.MAS.823 27414 IMAM TRIJULIANTO TANJUNG KARANG 4/7/1987
28 2012.SDV32.MAS.824 12297 IMAN INSANI KOTABUMI 7/19/1988
29 2012.SDV32.MAS.849 42196 IVAN ZULFIKAR BUKITKEMUNING, 1/23/1988
30 2012.SDV32.MAS.912 3842 M. ALI HANAFIAH PALEMBANG 2/8/1990
31 2012.SDV32.MAS.914 863 M. ARIEF WIJAKSONO BANDAR LAMPUNG 11/13/1993
32 2012.SDV32.MAS.939 721 MAHARDI ROHIM HADUYANG 2/25/1991
33 2012.SDV32.MAS.940 55928 MAHARRIANTO AR SUMEDANG 10/31/1987
34 2012.SDV32.MAS.995 461 MUHAMMAD HERI SISWANTO WARGOMULYO 8/4/1990
35 2012.SDV32.MAS.1007 46922 MUHAMMAD RYAN RAFTA TANJUNG KARANG 3/17/1993
36 2012.SDV32.MAS.1013 16687 MUHAMMAD ZAINURI ANWAR SERDANG 10/14/1991
37 2012.SDV32.MAS.1031 2729 NANO ROMANSYAH KOTABUMI 6/27/1985
38 2012.SDV32.MAS.1052 4881 NUGROHO NUR WICAKSONO BANGUN REJO 5/9/1983
39 2012.SDV32.MAS.1097 8201 RACHMAD NUGROHO BANDAR LAMPUNG 12/8/1993
40 2012.SDV32.MAS.1111 5117 RAHMAT HIDAYAT BATURAJA 11/20/1990
41 2012.SDV32.MAS.1209 12281 RIZALDI ILHAM BANDAR LAMPUNG 2/18/1988
42 2012.SDV32.MAS.1243 4868 ROYNUDIN TALANG SEBARIS 6/11/1989
43 2012.SDV32.MAS.1265 19768 SANTOSO NATAR 3/18/1993
44 2012.SDV32.MAS.1296 17248 SIDIK KHOERI PALEMBANG 9/3/1993
45 2012.SDV32.MAS.1318 1829 SUDARMANSYAH LAHAT 12/19/1992
46 2012.SDV32.MAS.1341 8425 SUNARYO PRABUMULIH 7/31/1988
47 2012.SDV32.MAS.1394 30987 SYIARANDI RIZKI FIRDAUS BANDAR LAMPUNG 2/7/1993
48 2012.SDV32.MAS.1396 21337 TANDE SORO SUMBER SARI 1/30/1993
49 2012.SDV32.MAS.1426 31853 TURYADI JATIMULYO 8/29/1993
50 2012.SDV32.MAS.1472 36441 WIRIYANSAH BUNGA MAS 3/4/1989
51 2012.SDV32.MAS.1474 24997 WISNU SAPUTRA KALIPAPAN 9/9/1988
52 2012.SDV32.MAS.1477 1445 YADI SANGAP SAGALA TANJUNG IMAN 10/24/1991
53 2012.SDV32.MAS.1482 5392 YATIM SUPRIYADI GISTING 6/19/1987

Catatan :
Untuk No Tes dan Nama :
1 2012.D6.PPKA.074 574 RISKA WIBOWO Ditetapkan penempatan di DAOP 7 MADIUN
2 2012.D6.PPKA.081 16694 SETYO BUDI UTOMO Ditetapkan penempatan di DAOP 7 MADIUN
3 2012.D5.MAS.020 585 MUARIF KURNIAWAN Ditetapkan penempatan di DAOP 8 SURABAYA
4 2012.D5.MAS.032 32473 UNTUNA ARIFIN Ditetapkan penempatan di DAOP 8 SURABAYA

Published on 15 May 2012

Copyright © 2012 Human Resource Development PT. Kereta Api Indonesia (Persero)
Best Viewed in 1024 x 768 resolution Using Firefox 3 or Higher
Authorised by : Web Team Information System

JADWAL DAN KEWAJIBAN PESERTA PLPG 2012 RAYON 7 UNILA


A. Jadwal Pelaksanaan PLPG Tahun 2012 :

Tahap ke-1 (11 Mei – 20 Mei 2012)
Tahap ke-2 (23 Mei – 1 Juni 2012)
Tahap ke-3 (4 Juni – 13 Juni 2012)
Tahap ke-4 (15 Juni – 24 Juni 2012)
Tahap ke-5 (27 Juni – 6 Juli 2012)
Tahap ke-6 (9 Juli – 18 Juli 2012)
Tahap ke-7 (23 Juli – 1 Agustus 2012)
Tahap ke-8 (3 Agustus – 12 Agustus 2012)

Kelas sudah dibagi berdasarkan skor Ujian Kompetensi Awal (UKA), tidak ada mutasi kelas.
Guru Bidang Studi yang tidak ada di jadwal Rayon 107 Universitas Lampung, silahkan menghubungi LPMP Provinsi Lampung.

B. Kewajiban Peserta PLPG 2012 :

Check-in di lokasi pada waktu yang sudah ditetapkan.
Menyiapkan dan membawa ke lokasi pelatihan:
kurikulum,
buku pelajaran
buku referensi
contoh RPP, dan
laptop.
Menyerahkan kepada panitia, melalui Penanggung Jawab Kelas (PJK):
fotokopi Ijazah S-1 atau D-IV, serta Ijazah S-2 dan atau S-3 (bagi yang memiliki) yang disahkan oleh perguruan tinggi yang mengeluarkan,
fotokopi SK pengangkatan dan SK terakhir yang disahkan oleh pejabat terkait, dan
fotokopi SK mengajar (pembagian tugas semester) dari Kepala Sekolah yang disahkan oleh atasan.
Mengikuti pengarahan mengenai pelaksanaan PLPG oleh PJK.
Mengikuti sesi Pendalaman Materi.
Mengikuti sesi PAIKEM, Media, dan Asesmen.
Mengikuti sesi PTK dan KTI.
Mengikuti workshop pengembangan Proposal PTK.
Merancang proposal PTK.
Mengikuti workshop pengembangan Silabus dan RPP.
Mengembangkan Silabus dan RPP.
Mengikuti workshop pengembangan Bahan Ajar dan Media Pembelajaran.
Mengembangkan Bahan Ajar dan Media Pembelajaran.
Mengikuti workshop pengembangan LKS dan Perangkat Penilaian Pembelajaran.
Mengembangkan LKS dan Perangkat Penilaian Pembelajaran.
Melaksanakan peer-teaching dalam dua putaran, dengan menggunakan RPP, Bahan Ajar, Media Pembelajaran, LKS, dan Perangkat Penilaian Pembelajaran yang dikembangkan dalam workshop.
Melakukan Penilaian Sejawat.
Mengikuti Ujian Praktik (Peer-Teaching putaran pertama dan kedua).
Menyerahkan kepada Panitia, melalui PJK:
Proposal PTK yang dikembangkan dalam workshop.
Silabus, RPP, Bahan Ajar, Media Pembelajaran, LKS, dan Perangkat Penilaian Pembelajaran yang dikembangkan dalam workshop.
Mengikuti Ujian Tulis.
Mengikuti Ujian Ulang, jika dinyatakan TIDAK LULUS.

Catatan :

*) Guru Konseling dan Pengawas Menyesuaikan

BATAS AKHIR WAKTU PENDAFTARAN PEGAWAI PT KAI

JANGAN LUPA TANGGAL 5 ADALAH BATAS AKHIR PENDAFTARAN PEGAWAI PT KAI UNTUK TINGKAT SLTA DAN SMK TAHUN 2012. IJAZAH, DANEM/NUN, KTP DAN PHOTO HARUS SUDAH DI UPLOAD.

INGAT UNTUK PESERTA YANG LULUS TES KESEHATAN TANGGAL 5 ADALAH WAKTU TES WAWAN CARA DENGAN MEMBAWA PERSYARATAN:
Login as anonymous, login
Kamis, 03 Mei 2012 21:35:48 WIB
Beranda
Utama Pengumuman
& Informasi Registrasi
Pelamar
Pengumuman Hasil Seleksi Tahap III (Tes Kesehatan) Rekrutmen Eksternal Untuk Masinis Dan PPKA Tingkat SLTA Tahun 2012

Kembali

Berdasarkan hasil seleksi Tahap III (tes kesehatan) Rekrut Eksternal Untuk Masinis dan PPKA Tingkat SLTA Tahun 2012 Di Lingkungan PT. Kereta Api Indonesia (Persero), yang dinyatakan Lulus adalah sebagaimana daftar terlampir di bawah ini.

Bagi peserta yang dinyatakan lulus dapat mengikuti seleksi Tahap IV (wawancara) yang akan dilaksanakan pada :

Hari, Tanggal
:

Sabtu, 5 Mei 2012
Pukul : 07.00 s/d selesai

Lokasi Tes

:

Sesuai Daftar Terlampir

Ketentuan

:

1.

Setiap peserta harap membawa KARTU PESERTA

2.

Pada saat mengikuti seleksi tahap IV. peserta wajib bersepatu dan berpakaian : kemeja putih. celana warna hitam/gelap.

3.

Peserta wajib membawa :
a. Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Bukti Identitas lain yang masih berlaku.
b. Asli Ijazah terakhir dan foto copy yg sudah diligalisir.
c. Asli NEM dan foto copy yg sudah diligalisir.
d. Surat pernyataan sanggup ditempatkan di seluruh wilayah kerja PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dibubuhi meterai Rp.6.000,00.
e. Akte Kelahiran/ Kenal lahir dan foto copy.
f. Surat Keterangan Kelakuan Baik dari Kepolisian yang masih berlaku.
g. Daftar Riwayat Hidup.

Keterangan

:

Penetapan Kelulusan Seleksi Tahap IV (wawancara) akan diumumkan pada tanggal 15 Mei 2012 melalui website http://rekrut.kereta-api.co.id/

NO NO TES NO REG NAMA TEMPAT LAHIR TGL LAHIR
DAOP I JAKARTA
Ruang Arjuna Lt. 2 Stasiun Jakarta Kota, Jl. Stasiun Kota No.1 Jakarta
1 2012.D1.MAS.067 3341 AGUNG SUDHARSONO KUNINGAN 10/1/1986
2 2012.D1.MAS.115 2075 ALI BAKHTIAR BREBES 8/1/1991
3 2012.D1.MAS.125 53719 ANAS FADLI JAMIL JAKARTA 3/29/1993
4 2012.D1.MAS.133 26147 ANDI SETIAWAN SEMARANG 11/24/1992
5 2012.D1.MAS.172 145 ARDIANSYAH BOGOR 7/6/1992
6 2012.D1.MAS.185 16031 ARIEF SOFWAN FIRDAUS CIREBON 6/30/1989
7 2012.D1.MAS.189 9506 ARIF PRASETYA BEKASI 11/18/1988
8 2012.D1.MAS.198 18834 ARYO SATYO ANGGORO JAKARTA 9/7/1990
9 2012.D1.MAS.204 18722 ASEP SETIAWAN MAGETAN 9/20/1988
10 2012.D1.MAS.242 5442 BUSRO HILMI MUZZAKY SURABAYA 5/17/1993
11 2012.D1.MAS.251 8308 CHOLID JAKARTA 12/27/1989
12 2012.D1.MAS.263 20976 DANOS ARBANO JAKARTA 12/11/1982
13 2012.D1.MAS.324 44643 DONI ROSAMSI BOGOR 4/10/1985
14 2012.D1.MAS.346 32024 EGGI NUGRAHA CIREBON 9/11/1992
15 2012.D1.MAS.375 19655 ERWIN WINARYA JAKARTA 10/1/1990
16 2012.D1.MAS.393 16017 FARID AZHAR BOGOR 9/4/1993
17 2012.D1.MAS.441 28481 HADIYANTO ISMAIL BOGOR 6/22/1992
18 2012.D1.MAS.453 35912 HARY MASYHUR RAMDHANI JAKARTA 3/28/1991
19 2012.D1.MAS.459 23413 HENDRA SETIAWAN LAMONGAN 9/9/1984
20 2012.D1.MAS.524 51527 JOKO SANTOSA GROBOGAN 10/1/1989
21 2012.D1.MAS.572 5001 MAYASIN BRIMER TANJUNG ENIM 9/12/1988
22 2012.D1.MAS.584 20827 MOCHAMAT SIDIK GROBOGAN 3/19/1992
23 2012.D1.MAS.595 8909 MOVADO YACOEB RACHMANTHIS JAKARTA 9/6/1989
24 2012.D1.MAS.597 46854 MUCHAMAD ROFIK TEGAL 10/1/1986
25 2012.D1.MAS.754 55520 RUDIANTO PATI 7/6/1989
26 2012.D1.MAS.776 19184 SATRIO PONCO UTOMO SLEMAN 4/11/1993
27 2012.D1.MAS.822 22567 SUWARTO BLORA 8/5/1989
28 2012.D1.MAS.823 33967 SUYITNO CILACAP 12/25/1987
29 2012.D1.MAS.883 11124 YANUAR WAHYU WIDODO BANYUMAS 4/1/1991
30 2012.D1.MAS.897 52177 YUDO HARYANTO JAKARTA 12/25/1988
DAOP II BANDUNG
Aula Lt.3 Kantor Daop 2 Bandung, Jl. Stasiun Selatan No.25 Bandung
1 2012.D2.MAS.008 49768 AGUNG ANANTA BANDUNG 6/18/1993
2 2012.D2.MAS.010 20298 AGUNG PRAYOGA SUMEDANG 5/1/1992
3 2012.D2.MAS.090 18127 GUGUN GUMILAR GARUT 7/5/1993
4 2012.D2.MAS.099 20556 HENDRO PATMANTO GARUT 4/25/1988
5 2012.D2.MAS.100 25217 ILYAS GUNA WIJAYA BANDUNG 5/1/1992
6 2012.D2.MAS.103 51351 INDRA HERMAWAN BANDUNG 11/21/1992
7 2012.D2.MAS.107 52554 IRFAN JUNAEDI CIREBON 12/6/1988
8 2012.D2.MAS.113 29928 JOHAR PRAMUJA GARUT 1/21/1992
9 2012.D2.MAS.123 34277 MOCHAMMAD RIZAL NUR JALALUDIN BANDUNG 12/13/1991
10 2012.D2.MAS.139 49963 PIPIN RAHAYU BANDUNG 6/1/1992
11 2012.D2.PPKA.001 49132 ACHMAD TEGUH GINANJAR GARUT 12/20/1989
12 2012.D2.PPKA.014 7010 ALVIN GANI SAMARINDA 11/24/1987
13 2012.D2.PPKA.034 29071 BAYU WIDODO BANDUNG 2/20/1990
14 2012.D2.PPKA.063 44352 GANJAR RAMADHAN BANDUNG 5/13/1988
15 2012.D2.PPKA.065 31348 GILANG PURNAMA BANDUNG 1/10/1992
16 2012.D2.PPKA.080 49093 INDRA SETIAJI CIREBON 1/23/1994
17 2012.D2.PPKA.082 14818 IQBAL WAHYU EKO PUTRO KLATEN 2/11/1993
18 2012.D2.PPKA.093 54193 LUFHY BAGUS SATRIO NGANJUK 8/13/1993
19 2012.D2.PPKA.101 6382 MARYANTO EKA SUSANTO INDRAMAYU 4/3/1993
20 2012.D2.PPKA.106 2353 MOHAMMAD SATRIO NURUL YAKIN BONDOWOSO 3/9/1993
21 2012.D2.PPKA.108 16096 MUHAMAD GUNARI GARUT 10/24/1991
22 2012.D2.PPKA.140 39256 RUDIYONO INDRAMAYU 11/16/1988
23 2012.D2.PPKA.162 35988 YANA RIYANA BANDUNG 10/19/1988
24 2012.D2.PPKA.170 33750 YUDI MULYANA CIAMIS 1/24/1991
DAOP V PURWOKERTO
Ruang Kamandaka Kantor Daop 5 Purwokerto, Jl. Jend. Soedirman No.209 Purwokerto
1 2012.D5.MAS.001 340 ADE TRI RAHARJO KEBUMEN 5/25/1989
2 2012.D5.MAS.004 20704 ALVAN RIVAI PURWOREJO 12/22/1993
3 2012.D5.MAS.009 3164 DEDE MULYADI SAPUTRO BREBES 10/3/1988
4 2012.D5.MAS.011 1659 DIMAS GALIH TRIAJI KEBUMEN 11/1/1993
5 2012.D5.MAS.018 978 MEI AGUNG HERO GAGAH PRIBADI BANYUMAS 5/15/1991
6 2012.D5.MAS.020 585 MUARIF KURNIAWAN BANYUMAS 8/26/1991
7 2012.D5.MAS.023 23097 PUJIANTO BANYUMAS 5/26/1986
8 2012.D5.MAS.032 32473 UNTUNA ARIFIN BANYUMAS 5/24/1989
DAOP VI YOGYAKARTA
Ruang Bimaloka Kantor Daop 6 Yogyakarta, Jl. Lempuyangan No.1 Yogyakarta
1 2012.D6.PPKA.001 16121 AAN PAMADHITYA BANTUL 9/17/1989
2 2012.D6.PPKA.012 4058 AGUS DWI WAHYUDI SLEMAN 8/27/1992
3 2012.D6.PPKA.013 38274 AGUS PRASETYO SRAGEN 8/17/1992
4 2012.D6.PPKA.017 23622 AJI PRIMA ADITYA CILACAP 5/9/1991
5 2012.D6.PPKA.019 25521 ANDAN ROSYID FATHONY SUKOHARJO 12/26/1989
6 2012.D6.PPKA.025 1794 ARI ISTANTA KULON PROGO 11/22/1990
7 2012.D6.PPKA.026 20718 ARISTA HERLIYANTO KLATEN 3/30/1989
8 2012.D6.PPKA.027 30227 AVIF HENDITA MAHFIUL AMIN YOGYAKARTA 7/6/1989
9 2012.D6.PPKA.028 44038 BAYU TRIGIANTO MAGETAN 8/22/1991
10 2012.D6.PPKA.030 27978 BOWO SANTOSO BANTUL 3/14/1992
11 2012.D6.PPKA.033 23690 DAVID MIFTAHUDIN TULUNGAGUNG 10/12/1989
12 2012.D6.PPKA.044 54161 DZIKRI ABDILLAH JOMBANG 5/26/1993
13 2012.D6.PPKA.054 44090 HASAN NURYADI SRAGEN 5/29/1993
14 2012.D6.PPKA.056 19135 HERMAN SETIYAWAN WONOGIRI 7/22/1988
15 2012.D6.PPKA.060 54236 JOKO PURWANTO KLATEN 6/21/1988
16 2012.D6.PPKA.061 10905 JOKO SUGIYANTO BOYOLALI 7/5/1988
17 2012.D6.PPKA.074 574 RISKA WIBOWO BANTUL 3/16/1991
18 2012.D6.PPKA.075 22339 RIYAN ARDHI PRADHITA KUDUS 3/17/1991
19 2012.D6.PPKA.081 16694 SETYO BUDI UTOMO GROBOGAN 1/5/1989
DAOP VII MADIUN
Ruang Pertemuan Lt.2 Kantor Daop 7 Madiun, Jl. Kompol Sunaryo No.14 Madiun
1 2012.D7.MAS.007 18113 M. IDHAR PRINGGODIGDO AMBON 2/12/1989
2 2012.D7.PPKA.006 7825 ANDI PRASTYO MADIUN 7/19/1992
3 2012.D7.PPKA.012 31345 ARIF SULAIMAN ALFIKRI BLITAR 5/5/1992
4 2012.D7.PPKA.041 1882 GALIH IRMAWAN MAGETAN 3/16/1987
5 2012.D7.PPKA.048 42574 HERI SUYATMAN JAKARTA 2/27/1988
6 2012.D7.PPKA.073 34995 MUHAMMAD SIDIQ RAMADAN MAGETAN 4/23/1988
7 2012.D7.PPKA.081 53260 RINA NADHIATUL MUNAFIAH MADIUN 8/10/1988
8 2012.D7.PPKA.084 18247 RIZKI DWI PRIMASTO SURABAYA 5/6/1988
DAOP VIII SURABAYA
Ruang Rapat Kantor Daop 8 Surabaya, Jl. Gubeng Masjid Surabaya.
1 2012.D8.MAS.020 19814 EZA WIDI ANDIKA JAKARTA 7/18/1993
2 2012.D8.MAS.032 19872 LARASANDI BANYUWANGI 8/4/1988
3 2012.D8.MAS.034 23543 MIAN PASURUAN 9/26/1991
4 2012.D8.MAS.049 50695 RAHMATANTO FRI AZIZAN BLITAR 4/24/1992
5 2012.D8.MAS.054 47742 SUKO WIGENO BANYUWANGI 8/14/1987
DIVRE I MEDAN
Ruang Sribillah Lt.3 Kantor Divre 1 Sumatera Utara, Jl. Prof. M. Yamin No.14 Medan
1 2012.DIV1.MAS.002 39630 ABDUL WAHAB RAMBE MEDAN 10/15/1989
2 2012.DIV1.MAS.011 55368 ANDREA ALVY ALVANDIARY STABAT 10/19/1993
3 2012.DIV1.MAS.029 47936 DAVID HAMONANGAN MANURUNG KISARAN 4/5/1993
4 2012.DIV1.MAS.035 38174 EGUN GUNAWAN AEK KANOPAN 11/1/1993
5 2012.DIV1.MAS.043 34104 GIFVI N. P. SIHOMBING PEMATANG SIANTAR 10/25/1993
DIVRE II PADANG
Ruang Aula Divre II Sumatera Barat, Jl. Stasiun No.1 Padang
1 2012.DIV2.MAS.013 18901 BUDI SANDJAYA K PADANG 7/2/1990
2 2012.DIV2.MAS.042 46838 NANDA FIRNANDES PASIR BARU 10/17/1990
3 2012.DIV2.MAS.044 5333 RAHMADANU PRATAMA PADANG 11/4/1993
SUB DIVRE III.1 KERTAPATI
Kantor Sub Divre III.1 Kertapati Jl. Stasiun No.2 Kertapati
1 2012.SDV31.MAS.006 42090 ABDURRAHMAN PALEMBANG 2/3/1991
2 2012.SDV31.MAS.014 12035 ADI SAPUTRA PALEMBANG 12/26/1991
3 2012.SDV31.MAS.016 45977 ADITIYAH PRATIYAKSA PALEMBANG 10/8/1993
4 2012.SDV31.MAS.031 4307 AHMAD SYAFRUDIN PALEMBANG 5/9/1993
5 2012.SDV31.MAS.045 13449 ANANG JULIYANSYAH LAHAT 4/7/1993
6 2012.SDV31.MAS.058 16211 ANTON PALEMBANG 6/28/1988
7 2012.SDV31.MAS.060 7293 ANTON WIJAYA LAHAT 7/16/1989
8 2012.SDV31.MAS.063 23416 APRI WARISMAN HERWASA TANJUNG ENIM 4/22/1991
9 2012.SDV31.MAS.079 3018 ARIZKI SATRIALOGI PALEMBANG 11/1/1993
10 2012.SDV31.MAS.092 18128 BASTARI PALEMBANG 8/14/1988
11 2012.SDV31.MAS.093 23718 BERTA MASHADI PALEMBANG 5/14/1993
12 2012.SDV31.MAS.127 151 DWI ABRIANSYAH RANDA PALEMBANG 5/10/1993
13 2012.SDV31.MAS.164 214 HAMID SANTOSO PALEMBANG 8/17/1993
14 2012.SDV31.MAS.183 9129 IBNU MAHFUZH PALEMBANG 5/25/1993
15 2012.SDV31.MAS.212 17273 JUANTA MADUS PRABUMULIH 6/19/1990
16 2012.SDV31.MAS.223 56205 KRESNA LISTIAWAN PALEMBANG 3/1/1992
17 2012.SDV31.MAS.244 2254 M.RENDY TREZA PALEMBANG 4/10/1993
18 2012.SDV31.MAS.255 51095 MUHAMAD IVANDRI ALHAQ PALEMBANG 4/28/1992
19 2012.SDV31.MAS.284 40979 MUHAMMAD NAJMI PALEMBANG 5/23/1993
20 2012.SDV31.MAS.396 52605 T. DEANDRA ARIFIN SYARIEF PALEMBANG 1/10/1993
21 2012.SDV31.MAS.430 27921 YUSRI EFENDI PALEMBANG 12/4/1991
22 2012.SDV31.MAS.431 966 ZAINAL ARIFIN CEMPAKA 10/25/1993
23 2012.SDV31.MAS.432 53590 ZANUARLI PUTRA DUANSYAH PALEMBANG 6/1/1994
SUB DIVRE III.2 TANJUNGKARANG
Kantor Sub Divre III.2 Tanjungkarang, Jl. Teuku Umar No.23 Bandar Lampung.
1 2012.SDV32.MAS.052 23878 ADITHIO BAYU ANGGORO RM BANDAR LAMPUNG 2/19/1991
2 2012.SDV32.MAS.141 3334 AHMAD RIZKY ZARFANI BANDAR LAMPUNG 6/18/1993
3 2012.SDV32.MAS.230 3375 ANDRI PURWANTO KARANG ANYAR 10/17/1991
4 2012.SDV32.MAS.240 3488 ANDRIAN NISAR CANDIMAS 12/3/1993
5 2012.SDV32.MAS.241 24229 ANDRIANSYAH BANDAR LAMPUNG 12/18/1988
6 2012.SDV32.MAS.259 35991 ANGGI MARTA PRAYOGA TANJUNG KARANG 3/27/1988
7 2012.SDV32.MAS.263 33439 ANGGI TRIDANA SYAPUTRA LAHAT 8/13/1993
8 2012.SDV32.MAS.265 3393 ANGGUN PAMUNGKAS CANDIMAS 12/27/1990
9 2012.SDV32.MAS.311 56 ARDY HIDAYAT BANDAR LAMPUNG 11/22/1992
10 2012.SDV32.MAS.342 34328 ARIF SAPUTRA BANDAR LAMPUNG 2/12/1989
11 2012.SDV32.MAS.353 7647 ARIZAL BANDAR LAMPUNG 3/31/1992
12 2012.SDV32.MAS.423 48125 CAHYO BASKORO WAY GALIH 3/25/1986
13 2012.SDV32.MAS.443 25683 COKRO WASKITO JAKARTA 7/30/1989
14 2012.SDV32.MAS.444 15914 DAFIQ ISRI BANDAR LAMPUNG 2/12/1992
15 2012.SDV32.MAS.466 20713 DEDI MISWANTO GADING REJO 8/12/1988
16 2012.SDV32.MAS.470 15707 DEDY PURNOMO KEMBANG TANJUNG 12/15/1988
17 2012.SDV32.MAS.486 4148 DENIS BHAKTI DARMAWAN BANDAR LAMPUNG 12/20/1991
18 2012.SDV32.MAS.492 15760 DERI EKO IRAWAN BANDUNG 8/26/1993
19 2012.SDV32.MAS.547 32779 DWI ARSO MUNANDAR BANJAR BARU 3/22/1989
20 2012.SDV32.MAS.590 30217 EKO OKTA RIAN BATURAJA 11/10/1992
21 2012.SDV32.MAS.610 17367 ELY HAKIM PANJANG 9/30/1988
22 2012.SDV32.MAS.691 25390 FIRMANSYAH KURUNGAN NYAWA 3/12/1990
23 2012.SDV32.MAS.697 26891 FRANSISCO TALANG PADANG 10/4/1988
24 2012.SDV32.MAS.709 36868 GIEN NUR RIDWAN LAMPUNG SELATAN 2/4/1983
25 2012.SDV32.MAS.744 45203 HENDRA KOTABUMI 7/2/1988
26 2012.SDV32.MAS.792 50215 HERMAWAN TANJUNG KARANG 1/15/1990
27 2012.SDV32.MAS.823 27414 IMAM TRIJULIANTO TANJUNG KARANG 4/7/1987
28 2012.SDV32.MAS.824 12297 IMAN INSANI KOTABUMI 7/19/1988
29 2012.SDV32.MAS.849 42196 IVAN ZULFIKAR BUKITKEMUNING, 1/23/1988
30 2012.SDV32.MAS.912 3842 M. ALI HANAFIAH PALEMBANG 2/8/1990
31 2012.SDV32.MAS.914 863 M. ARIEF WIJAKSONO BANDAR LAMPUNG 11/13/1993
32 2012.SDV32.MAS.939 721 MAHARDI ROHIM HADUYANG 2/25/1991
33 2012.SDV32.MAS.940 55928 MAHARRIANTO AR SUMEDANG 10/31/1987
34 2012.SDV32.MAS.995 461 MUHAMMAD HERI SISWANTO WARGOMULYO 8/4/1990
35 2012.SDV32.MAS.1007 46922 MUHAMMAD RYAN RAFTA TANJUNG KARANG 3/17/1993
36 2012.SDV32.MAS.1013 16687 MUHAMMAD ZAINURI ANWAR SERDANG 10/14/1991
37 2012.SDV32.MAS.1031 2729 NANO ROMANSYAH KOTABUMI 6/27/1985
38 2012.SDV32.MAS.1052 4881 NUGROHO NUR WICAKSONO BANGUN REJO 5/9/1983
39 2012.SDV32.MAS.1097 8201 RACHMAD NUGROHO BANDAR LAMPUNG 12/8/1993
40 2012.SDV32.MAS.1111 5117 RAHMAT HIDAYAT BATURAJA 11/20/1990
41 2012.SDV32.MAS.1209 12281 RIZALDI ILHAM BANDAR LAMPUNG 2/18/1988
42 2012.SDV32.MAS.1243 4868 ROYNUDIN TALANG SEBARIS 6/11/1989
43 2012.SDV32.MAS.1265 19768 SANTOSO NATAR 3/18/1993
44 2012.SDV32.MAS.1296 17248 SIDIK KHOERI PALEMBANG 9/3/1993
45 2012.SDV32.MAS.1318 1829 SUDARMANSYAH LAHAT 12/19/1992
46 2012.SDV32.MAS.1341 8425 SUNARYO PRABUMULIH 7/31/1988
47 2012.SDV32.MAS.1394 30987 SYIARANDI RIZKI FIRDAUS BANDAR LAMPUNG 2/7/1993
48 2012.SDV32.MAS.1396 21337 TANDE SORO SUMBER SARI 1/30/1993
49 2012.SDV32.MAS.1426 31853 TURYADI JATIMULYO 8/29/1993
50 2012.SDV32.MAS.1472 36441 WIRIYANSAH BUNGA MAS 3/4/1989
51 2012.SDV32.MAS.1474 24997 WISNU SAPUTRA KALIPAPAN 9/9/1988
52 2012.SDV32.MAS.1477 1445 YADI SANGAP SAGALA TANJUNG IMAN 10/24/1991
53 2012.SDV32.MAS.1482 5392 YATIM SUPRIYADI GISTING 6/19/1987

Published on 24 Apr 2012

Copyright © 2012 Human Resource Development PT. Kereta Api Indonesia (Persero)
Best Viewed in 1024 x 768 resolution Using Firefox 3 or Higher
Authorised by : Web Team Information System, Resource by itangnet

PENGUMUMAN PENERIMAAN PT. KAI UNTUK TENAGA OPERASIONAL DAN ADMINISTRASI JENJANG SLTA TAHUN 2012

Persyaratan dan Kriteria Rekrutmen Tingkat SLTA Untuk Pegawai Operasional dan Administrasi Tahun 2012

Published on 28 April 2012

PT. Kereta Api Indonesia (Persero) adalah perusahaan yang bergerak dibidang jasa transportasi terbesar di Indonesia, yang mengutamakan profesionalisme dan kinerja, memberikan kesempatan kepada putra-putri terbaik Indonesia untuk berkarier dan membangun perusahaan dengan kebutuhan dan kualifikasi sebagai berikut :

Persyaratan dan Kriteria Rekrutmen Tingkat SLTA Untuk Pegawai Operasional dan Administrasi Tahun 2012

PT. Kereta Api Indonesia (Persero) adalah perusahaan yang bergerak dibidang jasa transportasi terbesar di Indonesia, yang mengutamakan profesionalisme dan kinerja, memberikan kesempatan kepada putra-putri terbaik Indonesia untuk berkarier dan membangun perusahaan dengan kebutuhan dan kualifikasi sebagai berikut :
A. Kriteria Pelamar
1. Warga Negara Indonesia (WNI)
2. Sehat jasmani dan rohani serta tidak buta warna
3. Berkelakuan baik
4. Berijazah SMA(IPA,IPS) / SMK dan NEM rata rata sekurang-
kurangnya 6,00
5. Usia pelamar per 30 April 2012 minimal 18 tahun, maksimal 30
tahun
6. Tinggi / Berat Badan :
– Pria, minimal 160 cm (berat badan ideal)
– Wanita, minimal 155 cm (berat badan ideal)
7. Tidak pernah terlibat Narkoba atau Psikotropika
8. Tidak bertato dan bertindik ditempat yang tidak lazim
9. Lulus dalam mengikuti Seleksi Calon Pegawai Baru yang
diselenggarakan oleh Panitia Rekrut PT Kereta Api Indonesia
(Persero) Tahun 2012.

B. Persyaratan umum lamaran
a. Ijazah SLTA
b. NEM / NUN
c. Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang masih berlaku
d. Pas foto berwarna terbaru
e. Foto copy Akte Kelahiran/ Kenal Lahir
f. Asli Surat Keterangan Kelakuan Baik dari Kepolisian yang masih
berlaku
g. Surat Pernyataan bersedia ditempatkan di seluruh wilayah
perusahaan bermaterai Rp. 6.000,00 (ditulis tangan sendiri)
h. Surat keterangan bebas narkoba dari kepolisian
i. Curiculum Vitae, mencantumkan pengalaman bekerja sampai dengan
saat ini
j Sertifikat (keahlian/kejuruan), Ijasah tertinggi yang dimiliki
bila ada

Keterangan
– Persyaratan a, b, c, d di upload di web
– Persyaratan e, f, g, i, j.diberikan pada saat seleksi tahap IV
(wawancara)
– Persyaratan h diberikan pada saat penandatanganan kontrak magang

C. Tahapan Seleksi

Tahap I : Administrasi
Tahap II : Tes Psikologi
Tahap III : Tes Kesehatan
Tahap IV : Wawancara

D. Formasi Berdasarkan Pendidikan

No Jenis Pekerjaan Pendidikan Ket
1. Kondektur SMA IPA/IPS/SMK administrasi Pria
2. Pelayan Rem (PLRM) SMK Mesin Pria
3. Teknisi KA (TKA) /
Pelayan Kereta Api (PLKA) SMK Mesin, Elektro Listrik Pria
4. Runner AC SMK Elektro Listrik, Elektronika Pria
5. Pemeliharaan Kereta/gerbong SMK Mesin , Elektro Listrik, Elektronika Pria
6. Pemeliharaan Lokomotif SMK Elektro Listrik, Elektronika, Mesin otomotif Pria
7. Schowing SMK Mesin , Elektro Listrik Pria
8. Pemeliharaan Balai Yasa/Produksi SMK Mesin , Elektro Listrik, Elektronika Pria
9. Pemeliharaan KRD/KRL SMK Elektro Listrik, Elektronika, Mesin otomotif Pria
10. Pegawai Resor Jalan Rel dan Jembatan SMK Bangunan (Sipil), SMA IPA Pria
11. Regu Pemeliharaan Jalan Rel SMK Bangunan (sipil), SMA IPA Pria
12. Regu Pemeliharaan Jembatan SMK Bangunan (Sipil), SMA IPA Pria
13. Pegawai Balai Yasa Mekanik SMK Elektronika, Mesin Otomotif Pria
14. Pegawai Balai Yasa Jembatan SMK Bangunan (Sipil), Mesin Pria
15. Operator Mesin Perawatan Jalan Rel (MTT) SMK Elektronika, Mesin Otomotif Pria
16. Pemeliharaan Sinyal, Telekomunikasi dan Listrik SMK Elektro Listrik, Elektronika Pria
17. Pemeliharaan Listrik Aliran Atas SMK Elektro Listrik Pria
18. Juru Periksa Jalan (JPJ) SMK Bangunan (Sipil), SMA IPA Pria
19 Juru Rangsir SMA IPA Pria
20. Juru Rumah Sinyal SMA IPA Pria
21. Juru Periksa Terowongan SMK Bangunan (Sipil), SMA IPA Pria
22. Pegawai Administrasi SMA IPA/IPS, SMK administrasi/Akuntansi Pria/Wanita
23. Pegawai Sistem Informasi SMK Informatika Jurusan Teknik Komputer Jaringan Pria/Wanita
24. Pegawai Aset Non Produksi Termasuk Petugas Penjaga Aset SMK Bangunan (Sipil) Pria

E. Daerah

No

Wilayah
1. DAOP 1 Jakarta
2. DAOP 2 Bandung
3. DAOP 3 Cirebon
4. DAOP 4 Semarang
5. DAOP 5 Purwokerto
6. DAOP 6 Yogyakarta
7. DAOP 7 Madiun
8. DAOP 8 Surabaya
9. DIVRE I Medan
10. DIVRE II Padang
11. SUB DIVRE III. 1 Kertapati
12. SUB DIVRE III. 2 Tanjung Karang

F. Prosedur Rekrutmen :
1. Pelamar harus mengisi/entry data pada Formulir lamaran kerja yang tersedia melalui Website : http://rekrut.kereta-api.co.id pelamar secara otomatis akan memperoleh nomor register mulai tanggal 28 April 2012
2. Setelah registrasi pelamar log in menggunakan user dan password yang telah diisi pada saat registrasi
3. Kemudian pelamar meng-upload file dokumen lampiran sesuai persyaratan umum lamaran huruf a, b, c, d paling lambat tanggal 5 Mei 2012
4. Bagi pelamar yang sudah pernah mendaftar di web dan dinyatakan tidak lulus pada rekrut eksternal untuk masinis dan PPKA tahun 2012, dan masih berminat melamar dengan jenis perkejaan yang lain , maka pelamar dapat mengaktifkan kembali data registrasinya dengan log in kembali menggunakan user dan password yang sudah dimiliki
5. Semua proses rekrut melalui website. Diluar itu tidak dilayani

Published on 27 Apr 2012
uNTUK KETERANGAN LEBIH LANJUT KLIK DI BAWAH INI:

http://www.kereta-api.co.id/

Atau klik tautan rekrutmen PT KAI di samping kanan

DAFTAR TENAGA HONORER KATEGORI 1 PROPINSI LAMPUNG

DAFTAR TENAGA HONORER KATEGORI 1 NASIONAL.

DAFTAR TENAGA HONORER KATEGORI 1 NASIONAL

DAFTAR TENAGA HONORER KATEGORI 1 NASIONAL TAHUN 2012
KLIK LINK DI BAWAH INI UNTUK MENGETAHUI DAN DOWNLOAD DAFTAR TENAGA HONORER KATEGORI 1 DARI KOTA/KABUPATEN ANDA:

http://bkn.go.id/honorer/

Honorer Kategori 1 Pemprov Lampung
Download di sini:
Pemerintah_Propinsi_Lampung
Pemerintah_Kab._Lampung_Selatan
Pemerintah_Kab._Lampung_Barat
Pemerintah_Kota_Metro
Pemerintah_Kota_Bandar_Lampung
Pemerintah_Kab.Tulang_Bawang_Barat
Pemerintah_Kab._Way_Kanan
Pemerintah_Kab._Tulang_Bawang
Pemerintah_Kab._Tanggamus
Pemerintah_Kab._Mesuji
Pemerintah_Kab._Lampung_Utara
Pemerintah_Kab._Lampung_Timur
Pemerintah_Kab._Lampung_Tengah

SE MENPAN MARET 2012 TENTANG HONORER KATEGORI 1 DAN 2

Unduh Surat Edaran Menpan Maret 2012 tentang Honorer Kategori 1 dan 2

dan Formulir Data Tenaga Honorer disini

semenpan2012_003

Pengumuman Hasil UKA 2012 Kabupaten Tulang Bawang barat Guru SMK

Pengumuman Hasil UKA 2012 Kabupaten Tulang Bawang barat Guru SMK download disini:
Daftar Peserta Lulus UKA Sertifikasi Guru 2012 Kab. Tulang Bawang Barat Guru SMK 10

Pengumuman Hasil UKA 2012 Kab. Pringsewu Guru SLB

Pengumuman Hasil UKA 2012 Kab. Pringsewu Guru SLB download disini:
Daftar Peserta Lulus UKA Sertifikasi Guru 2012 Kab. Pringsewu Guru SLB 2

Pengumuman Hasil UKA 2012 Kota Bandar Lampung Guru SMA 88

Pengumuman Hasil UKA 2012 Kota Bandar Lampung Guru SMA 88. Download hasilnya di sini:
Daftar Peserta Lulus UKA Sertifikasi Guru 2012 Kota Bandar Lampung Guru SMA 88

Musik

http://youtu.be/KfXIF2Mm2Kc

Pengumuman Penting PT KAI

Pengumuman hasil seleksi Tahap IV Costumer Service rakryt eksternal PT KAI 2012Desember 17th, 2012
https://rekrut.kereta-api.co.id

Countdown Pengumuman Penting

Penandatangan Kontrak magang MasinisDesember 3rd, 2012
Selamat bagi yang lulus semoga dapat menjalankan tugas dengan baik.

Pengumuman Penting PT KAI

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap III (PSIKOLOGI) Polsuska PT KAI 2012Desember 14th, 2012
https://rekrut.kereta-api.co.id
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 505 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: